Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Korea Utara Resmikan Doktrin Serangan Nuklir Otomatis Jika Kim Jong-un Dibunuh

POROS PERLAWANAN — Korea Utara resmi memasukkan kebijakan serangan nuklir otomatis ke dalam konstitusinya apabila pemimpin negara itu, Kim Jong-un, terbunuh akibat serangan pihak asing. Langkah tersebut menandai peningkatan drastis doktrin pertahanan Pyongyang di tengah memanasnya situasi geopolitik global.

Menurut laporan Press TV pada Minggu (11/5/26), perubahan konstitusi itu disahkan dalam sidang perdana Majelis Rakyat Tertinggi ke-15 yang digelar di Pyongyang pada 22 Maret 2026.

Informasi mengenai revisi tersebut diungkap dalam pengarahan kepada pejabat senior Badan Intelijen Nasional Korea Selatan atau NIS pada Kamis lalu.

Pusat perubahan berada pada revisi Pasal 3 undang-undang kebijakan nuklir Korea Utara. Dalam aturan baru itu disebutkan bahwa apabila “sistem komando dan kendali pasukan nuklir negara terganggu akibat serangan kekuatan musuh, maka serangan nuklir akan diluncurkan secara otomatis dan tanpa penundaan.”

Kebijakan tersebut muncul beberapa bulan setelah Pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei gugur dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran.

Sejarawan dan pakar hubungan internasional dari Kookmin University di Seoul, Andrei Lankov, menilai doktrin itu kemungkinan sudah lama menjadi kebijakan internal Pyongyang. Namun, pencantumannya dalam konstitusi memberi makna politik dan strategis yang jauh lebih besar.

Dalam wawancara dengan The Telegraph, Lankov menyebut amendemen tersebut menunjukkan sikap militer Korea Utara yang memandang setiap serangan terhadap negara itu sebagai ancaman eksistensial.

Menurut dia, para perwira yang bertanggung jawab atas peluncuran nuklir akan merasa wajib menjalankan serangan balasan apabila sistem kepemimpinan negara lumpuh.

“Saya tidak melihat kemungkinan serangan datang dari Korea Selatan, sehingga target balasan kemungkinan besar adalah Amerika Serikat,” kata Lankov.

Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang besar terhadap Iran yang menurut Teheran dilakukan tanpa provokasi. Dalam operasi tersebut, Ayatullah Ali Khamenei dan sejumlah komandan senior militer Iran dilaporkan tewas.

Sebagai respons, angkatan bersenjata Iran melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone terhadap aset militer Amerika Serikat dan Israel selama 40 hari.

Keputusan Korea Utara memperkuat doktrin nuklirnya dipandang sejumlah pengamat sebagai sinyal meningkatnya kekhawatiran negara-negara anti-Barat terhadap kemungkinan operasi perubahan rezim dan serangan terhadap kepemimpinan nasional mereka.

Tags: