Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Krisis Senjata Militer Israel dan Ketergantungan pada Pasar Gelap

POROS PERLAWANAN – Sumber-sumber Ibrani mengungkapkan bahwa Militer Israel mengalami kekurangan parah dalam hal peralatan militer di semua tingkatan. Dalam setahun terakhir, pejabat militer dan keamanan Israel telah melakukan perjalanan ke berbagai negara untuk membeli senjata. Namun, kebanyakan dari mereka gagal dan akhirnya terpaksa bergantung pada pasar gelap.

Krisis Perbekalan Militer yang Makin Memburuk

Menurut laporan Tasnim News Agency, pada Minggu 24 November, media-media Ibrani sebelumnya telah merilis banyak laporan tentang minimnya persediaan militer Israel, meskipun mendapat dukungan penuh Amerika Serikat. Baru-baru ini, informasi dari sumber Israel menunjukkan bahwa lembaga keamanan rezim ini telah meluncurkan kampanye rahasia global untuk memperkuat arsenal militernya. Langkah ini bertujuan untuk mengatasi kekurangan senjata yang semakin mendalam setelah memasuki tahun kedua perang.

Krisis Makin Parah Pascaperang Gaza

Beberapa minggu setelah pertempuran “Badai Al-Aqsa” yang dimulai pada 7 Oktober 2023, stok senjata, amunisi, bom, roket, helikopter Apache, hingga bahan peledak yang digunakan untuk menyerang Gaza hampir habis. Dalam minggu-minggu berikutnya, para perwira Militer Israel membuka gudang cadangan utama di wilayah utara dan selatan. Namun, minimnya peralatan untuk pasukan cadangan memicu kemarahan di kalangan mereka. Banyak tentara cadangan mengeluhkan kurangnya perlengkapan dan pakaian yang layak sejak awal perang.

Para perwira Israel menyatakan bahwa lebih dari 50% komandan lapangan di Gaza dan perbatasan utara tidak memiliki perangkat penglihatan malam—alat yang sangat vital untuk keperluan perang darat—yang justru dimiliki oleh Hamas dan Hizbullah.

Dampak Internasional dan Tekanan Tambahan

Perang ini juga memperburuk tekanan internasional terhadap Israel, termasuk tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Pengadilan Kriminal Internasional, serta sanksi global terhadap penjualan senjata ke Israel. Situasi ini semakin menambah buruk krisis persenjataan Israel.

Hasil investigasi Militer Israel menunjukkan bahwa negara ini sangat kekurangan stok senjata. Israel menyadari bahwa dukungan Amerika Serikat tidak bisa terus-menerus memenuhi semua kebutuhan mereka. Selain itu, beberapa negara melarang ekspor senjata ke Israel, sementara persaingan ketat di Eropa untuk memasok senjata ke Ukraina semakin memengaruhi kemampuan Israel mendapatkan suplai militer. Di sisi lain, produsen senjata menetapkan harga yang sangat tinggi untuk persediaan mereka.

Upaya Putus Asa untuk Mendapatkan Senjata

Lebih dari setahun perang berlalu, Militer Israel hampir kekurangan segalanya, dari peluru tank hingga bom dan roket. Karena itu, Kementerian Pertahanan Israel meluncurkan kampanye global untuk mendapatkan senjata sebanyak mungkin dalam waktu singkat dan dengan harga terendah.

Harian Ibrani Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa Angkatan Udara Israel, sejak awal perang, kembali menggunakan helikopter Apache lama mereka. Helikopter tua ini terus dioperasikan, terutama dalam manuver di Lebanon. Hal ini menunjukkan bahwa Israel sangat bergantung pada alat tempur lamanya.

Israel juga sempat meminta bantuan Amerika untuk segera mengirim helikopter Apache. Namun, permintaan ini ditolak, dan Washington mengharuskan mereka menunggu sesuai jadwal produksi Boeing.

Ketika Israel memulai serangan darat ke Gaza, mereka menghadapi kekurangan amunisi tank dan artileri. Amunisi digunakan tanpa panduan strategis, sementara Angkatan Udara menggunakan bom secara berlebihan dan tidak terarah.

Pada Desember 2024, Angkatan Darat mulai menghemat senjata untuk persiapan operasi di Lebanon. Bantuan militer dari Amerika akhirnya tiba, tetapi tidak cukup untuk menutupi kekurangan yang ada.

Ketergantungan pada Pedagang Senjata

Dalam kondisi putus asa, Israel mulai beralih ke pedagang senjata global. Misalnya, mereka mendekati sebuah negara Balkan untuk membeli ribuan peluru tank. Namun, negara tersebut menaikkan harga hingga 50%, meminta $4.500 per peluru tank dan $6.000 per peluru artileri. Negara tersebut bahkan menyatakan bahwa Ukraina sudah lebih dahulu memesan dan membayar suplai tersebut.

Menurut laporan itu, sejak akhir tahun lalu, perwira militer dan pejabat Kementerian Pertahanan Israel telah bepergian ke berbagai negara untuk membeli senjata. Namun, mereka menemukan kenyataan beberapa negara yang sebelumnya menjadi pemasok utama kini lebih memprioritaskan Ukraina dibanding Israel.

Harian Haaretz juga melaporkan bahwa akibat penurunan stok amunisi, penggunaan peluru artileri dan senjata berat lainnya hanya diizinkan dengan persetujuan komandan senior. Langkah penghematan ini menjadi salah satu dampak dari sanksi internasional dan hambatan ekspor senjata ke Israel.

Tags: