Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Mantan Diplomat PBB: Hegseth Lakukan Kejahatan Perang

POROS PERLAWANAN – Mantan diplomat Perserikatan Bangsa-Bangsa, Mohamad Safa menyebut Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, sebagai pelaku kejahatan perang terkait dugaan serangan terhadap kapal sipil di perairan antara Oman dan Iran.

Melalui unggahan di media sosial X pada Senin 4 Mei, Safa menyatakan bahwa perintah militer yang dikeluarkan Hegseth melanggar hukum internasional. “Jika Amerika Serikat sedang berperang, maka Pete Hegseth adalah penjahat perang. Jika tidak, maka tindakan tersebut setara dengan pembunuhan”, tulis Safa.

Safa juga menyebut Militer AS secara sengaja menargetkan dua kapal sipil yang berlayar dari Oman menuju Iran. Insiden tersebut disebut menewaskan lima warga sipil tak bersenjata.

Di sisi lain, United States Central Command (CENTCOM) menyatakan operasi militer dilakukan terhadap enam perahu kecil Iran yang dinilai sebagai ancaman bagi pelayaran komersial. Dalam operasi tersebut, digunakan helikopter Apache Angkatan Darat dan MH-60 Seahawk Angkatan Laut.

Safa, yang terafiliasi dengan LSM Patriotic Vision Association, juga menyoroti kewajiban dalam Konvensi Jenewa. Safa menegaskan bahwa setiap pihak yang menenggelamkan kapal wajib menyelamatkan awaknya. “Meninggalkan korban selamat hingga tenggelam merupakan tindakan ilegal dan termasuk kejahatan perang,” ujar Safa.

Pernyataan tersebut memperkuat tekanan terhadap Washington soal akuntabilitas operasi militernya. Safa bahkan menyebut kemungkinan adanya proses hukum terhadap Hegseth di masa depan.

Safa sebelumnya mengundurkan diri dari peran terkait PBB pada 31 Maret 2026. Keputusan tersebut dikaitkan dengan kekhawatiran atas skenario penggunaan senjata nuklir dalam konflik yang melibatkan Iran. Safa menyatakan pengunduran diri dilakukan untuk menghindari keterlibatan dalam potensi pelanggaran kemanusiaan.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan pejabat World Health Organization (WHO). Direktur regional WHO, Hanan Balkhy menyebut skenario terburuk yang sedang dipersiapkan mencakup kemungkinan insiden nuklir jika eskalasi konflik berlanjut.

Pandangan lain datang dari Mohamed ElBaradei, mantan Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA). ElBaradei menyatakan kemungkinan penggunaan senjata nuklir tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan dalam situasi konflik yang meningkat.

Konflik antara AS, Israel, dan Iran terus berkembang sejak akhir Februari. Iran telah melancarkan serangkaian serangan balasan dalam beberapa gelombang, sementara tekanan internasional terhadap semua pihak untuk menahan eskalasi semakin meningkat.

Tags: