Mantan PM Israel Sebut Serangan di Gaza Mirip Kejahatan Perang, Picu Reaksi Keras Elite Politik Israel
POROS PERLAWANAN – Dilansir Almayadeen, pernyataan mengejutkan datang dari mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert yang menyebut operasi militer Israel di Gaza saat ini “sangat dekat dengan kejahatan perang.” Komentar tersebut disampaikan dalam wawancara eksklusifnya dengan BBC Inggris dan segera memicu gelombang kecaman dari kalangan politik Israel.
“Perang ini tidak memiliki tujuan jelas dan tidak menawarkan harapan untuk menyelamatkan para sandera Israel di Gaza,” ujar Olmert, yang menyoroti ketidakefektifan dan dampak destruktif dari serangan militer yang sedang berlangsung.
Pernyataan Olmert memperkuat kritik sebelumnya dari pemimpin Partai Demokrat Israel, Yair Golan yang menyatakan bahwa “negara yang waras tidak membantai warga sipil atau membunuh bayi dengan tujuan untuk mengusir penduduk.” Pernyataan Golan sebelumnya telah memicu kemarahan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu yang menyebutnya sebagai “hasutan liar” dan “fitnah berdarah.”
Olmert kini menghadapi reaksi serupa. Menteri Pendidikan Israel, Yoav Kisch menuduhnya memprovokasi opini internasional dan menyamakan kritiknya dengan “pengkhianatan.” Wakil Ketua Knesset Nissim Vaturi bahkan menyebut Olmert sebagai “juru bicara Hamas” dan menyoroti masa lalunya sebagai terdakwa korupsi. Menteri Kesetaraan Sosial May Golan juga melontarkan kecaman pedas, menyebut Olmert sebagai “pengkhianat tentara yang sedang berperang.”
Di tengah kisruh politik ini, Israel Occupation Forces (IOF) dilaporkan bersiap untuk meluncurkan invasi darat besar-besaran ke seluruh Jalur Gaza. Operasi ini merupakan bagian dari “Gideon’s Chariots,” strategi militer yang ditujukan untuk mengambil alih kendali penuh atas Gaza.
Menurut laporan Israel Hayom, serangan darat diperkirakan akan berlangsung dua bulan, diikuti satu bulan pendudukan untuk mempersempit ruang gerak warga sipil. Tujuan akhirnya dinilai sebagai upaya sistematis untuk mengubah struktur demografis wilayah tersebut.
Situasi ini menunjukkan meningkatnya ketegangan internal di Israel, sekaligus mempertegas sorotan dunia terhadap kebijakan militer Israel di Gaza yang makin dianggap melampaui batas kemanusiaan.
