Media AS: Cuitan Trump ‘Hina Warga Iran’, Hanya Permalukan Dirinya Sendiri
POROS PERLAWANAN – Dalam sebuah analisis, situs MS Now menggambarkan cuitan Presiden AS yang menghina warga Iran sebagai bukti kemarahan Trump atas situasi perang.
Dilansir Fars, MS Now dalam analisisnya dengan nada sarkastis menulis:”Pada 2 September 1901, Teddy Roosevelt pernah berkata, ‘Bicaralah dengan lembut dan bawalah tongkat besar.’ Namun, hampir 125 tahun kemudian, kita memiliki Presiden yang sangat berbeda di AS, seseorang yang lebih percaya pada berkicau dengan keras dan membawa ponsel.
Trump menulis di X pada hari Minggu waktu setempat: “Selasa akan menjadi hari penyerangan ke pembangkit listrik dan jembatan, semuanya dalam satu hari, di Iran. Tidak akan pernah ada yang seperti ini lagi!!! Buka Selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di neraka. Lihat saja!”
Dalam lanjutan analisisnya, MS Now menulis: “Hanya dengan empat kalimat, Trump berhasil memicu kembali perdebatan mengenai apakah ia memiliki kestabilan mental yang diperlukan untuk terus menjabat sebagai kepala eksekutif sebuah negara adidaya global. Ia membuka pintu bagi rencana-rencana kejahatan perang yang terang-terangan. Ia menyebarkan Islamofobia yang kekanak-kanakan. Ia kembali menimbulkan pertanyaan mengapa tidak ada seorang pun di Gedung Putih yang mencegah omong kosong semacam itu menyebar ke seluruh dunia. Ia terus berayun antara menunjukkan ketidakpedulian terhadap Selat Hormuz dan menyerukan agar Selat itu dibuka, dengan berbagai tingkat gestur marah.”
Garrett Graff, seorang jurnalis dan sejarawan, menggambarkan pesan daring Trump sebagai “pernyataan publik paling tidak menentu yang pernah dilontarkan seorang presiden dalam sejarah Amerika Serikat”. Ia menyatakan, tulisan gila semacam ini, di sebagian besar negara demokrasi maju, akan segera memicu spekulasi mengenai apakah orang seperti itu dapat secara wajar diharapkan untuk tetap menjabat.
MS Now menyimpulkan:”Yang kita lihat adalah seorang Presiden yang putus asa dan tak berdaya, yang tampaknya tidak memiliki gambaran tentang perang yang tidak perlu dan tidak tahu cara mengakhirinya.”
