Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Mengapa Barat Takut pada Iran? Al Mayadeen Soroti Peran Geografi dan Ideologi Teheran

POROS PERLAWANAN — Media Al Mayadeen mengulas faktor yang membuat Iran terus menjadi perhatian strategis Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Dalam analisis yang dimuat pada 1 Februari 2026, penulis Reda Zeidan menulis kekhawatiran Barat tidak hanya berkaitan dengan kemampuan Militer Iran, tetapi juga dengan posisi geografis Iran dan gagasan kedaulatan yang dibawa Teheran.

Artikel berbahasa Arab berjudul “Mengapa Barat takut pada Iran? Saat geografi menjadi kekuatan dan gagasan menjadi ancaman” itu menulis bahwa perang Gaza sejak 7 Oktober 2023 mengubah peta konflik di Asia Barat. Konfrontasi meluas ke sejumlah medan dan melibatkan beberapa front yang saling terhubung, mulai dari Gaza, Lebanon selatan, Irak, hingga Yaman.

Dalam konteks tersebut, artikel itu menyatakan Iran hadir sebagai faktor utama yang memengaruhi keseimbangan Kawasan dan turut membentuk persamaan pencegahan baru. Al Mayadeen menyebut Teheran sebagai pendukung Poros Perlawanan, termasuk melalui rangkaian operasi yang disebut “Janji Sejati 1, 2, dan 3” pada 2024–2025.

Iran sebagai Simpul Geopolitik Kawasan

Dalam analisis itu, letak geografis Iran ditempatkan sebagai faktor kunci yang berpengaruh langsung terhadap dinamika Kawasan. Iran berada di jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia, Asia Tengah, Kaukasus, Laut Oman, dan Samudera Hindia.

Artikel tersebut menyoroti Selat Hormuz sebagai salah satu titik terpenting. Jalur maritim itu dilewati sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, mengutip data Badan Informasi Energi AS (EIA). Posisi tersebut memberi Iran pengaruh dalam isu keamanan energi internasional, sehingga konflik terbuka dengan Teheran berpotensi berdampak luas ke pasar global.

Selain itu, Iran juga digambarkan sebagai penghubung darat kawasan Asia Tengah menuju Kaukasus dan jalur perdagangan yang mengarah ke laut lepas. Dalam sudut pandang ini, Iran berada di pusat proyek energi dan transportasi lintas negara.

Global Security Review, sebagaimana dikutip artikel tersebut, menulis faktor geografis membuat pembendungan Iran menjadi rumit dan berbiaya tinggi, termasuk dari sisi politik, ekonomi, dan keamanan.

Al Mayadeen juga menulis Amerika Serikat sudah lama menempatkan Iran sebagai titik penting dalam kebijakan Kawasan. Mantan Presiden AS, Jimmy Carter pada 1977 pernah menyebut Iran sebagai “pulau stabilitas” di wilayah yang bergejolak. Meskipun hubungan kedua negara berubah setelah Revolusi Islam 1979, perhatian Washington terhadap posisi strategis Iran tetap berlanjut.

Gagasan Kedaulatan Iran dan Kekhawatiran Barat

Di luar faktor geografis, artikel itu menyampaikan ketegangan utama muncul dari ideologi politik Iran. Zeidan menulis Iran mengalami transformasi dari negara yang bergantung sebelum 1979 menjadi proyek negara yang menegaskan kedaulatan dan kemerdekaan, serta menolak integrasi dalam sistem hegemoni Barat.

Menurut analisis tersebut, persaingan dengan Iran tidak hanya soal pengaruh, tetapi soal model. Iran digambarkan membangun sistem politik, ekonomi, dan keamanan di luar aturan tatanan internasional unipolar yang dipimpin Barat.

Al Mayadeen menulis kekhawatiran Barat juga terkait potensi “model Iran” untuk ditiru, terutama kemampuan bertahan di bawah tekanan sanksi dan isolasi tanpa runtuh ataupun berbalik mengikuti tuntutan Washington.

Artikel itu kemudian menyinggung sejumlah pernyataan Presiden AS, Donald Trump yang mengisyaratkan persoalan dengan Iran tidak terbatas pada aspek militer, tetapi juga pada penguatan kemandirian politik Teheran di luar kerangka yang dipimpin Amerika Serikat. Trump disebut pernah menyinggung opsi mendorong “perubahan rezim” melalui peningkatan tekanan politik dan ekonomi.

Jaringan Regional dan Perubahan Konsep Pencegahan

Al Mayadeen menulis Iran membangun jaringan hubungan dengan sejumlah aktor regional secara bertahap, termasuk Gerakan Perlawanan yang sejalan dengan wacana anti-hegemoni Amerika Serikat dan Israel.

Analisis tersebut menjelaskan proses itu mengubah konsep pencegahan di Kawasan. Pencegahan tidak lagi bertumpu pada satu pusat konflik, tetapi bergerak dalam pola multi-front di beberapa medan sekaligus. Skema ini, menurut artikel itu, membatasi kemampuan musuh meraih kemenangan cepat, sebagaimana terlihat di Gaza, Lebanon, Irak, dan Yaman.

Konsep “Poros Perlawanan” dijelaskan sebagai jaringan yang bergerak berdasarkan kepentingan yang beririsan, bukan aliansi formal tradisional. Jaringan ini disebut tidak beroperasi melalui satu komando tunggal, melainkan bergerak sesuai konteks dan kebutuhan lapangan.

Kesimpulan

Al Mayadeen menyimpulkan geografi dan ideologi Iran saling menguatkan. Geografi menyediakan kedalaman strategis dan titik tekan energi, sementara ideologi menyediakan mobilisasi, legitimasi, serta ketahanan politik.

Dalam analisis itu, kombinasi tersebut mengubah Iran dari “negara bermasalah” menjadi tantangan struktural bagi tatanan Kawasan. Al Mayadeen menulis setiap upaya membendung Teheran membawa risiko tinggi dan hasil yang tidak selalu dapat diprediksi, baik untuk Kawasan maupun dampaknya secara internasional.

Tags: