Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Menyiapkan Meja Damai di atas Abu: Strategi Amerika Hengkang dari Suriah Utara

Menyiapkan Meja Damai di atas Abu: Strategi Amerika Hengkang dari Suriah Utara

POROS PERLAWANAN – Washington kembali bersiasat. Kali ini, bukan lewat bombardir atau sanksi ekonomi, melainkan lewat diplomasi yang disamarkan sebagai “rekonsiliasi”. Amerika Serikat, penjaga hegemoni yang telah bercokol di jantung Suriah utara selama hampir satu dekade, bersiap mundur. Namun, bukan tanpa rencana. Ia ingin keluar dari medan perang sambil memastikan jejak dominasi tetap tertancap kuat.

Menurut laporan media Israel, Yedioth Ahronoth pada Selasa 15 April, pejabat Amerika telah menyampaikan kepada mitranya di Tel Aviv bahwa penarikan pasukan dari Suriah akan dimulai secara bertahap dalam dua bulan ke depan. Konfirmasi resmi belum dilayangkan, namun arah angin sudah jelas: Washington ingin meninggalkan tanah yang sudah dikoyak-koyaknya sendiri; tentu saja dengan syarat kekuasaan proksi tetap bertahan.

Skenario ini bukan baru. Seperti biasa, Amerika merancang “perdamaian” dengan menyusun ulang lanskap kekuasaan sesuai kepentingannya. Kali ini, Turki, SDF Kurdi, dan Pemerintahan Al-Jolani dijadikan pion-pion dalam permainan papan catur geopolitik yang sama tuanya dengan ambisi imperialisme itu sendiri.

Melalui jalur mediasi, Amerika memaksa SDF untuk duduk semeja dengan Turki. Dalam perundingan ini, Ankara mencabut tuntutan pengusiran seluruh elemen PKK. Sebagai imbalannya, SDF berjanji untuk meredam aktivitas militer elemen-elemen tersebut. Amerika tampaknya berhasil: dua kekuatan yang saling mencurigai akhirnya digiring ke arah kompromi yang didikte dari luar.

Sementara itu, di sisi Damaskus, drama serupa berlangsung. Pemimpin SDF, Mazloum Abdi, bertemu dengan Mohammad Jolani dan menyepakati perjanjian baru atas permintaan Washington. Bahkan Damaskus pun dilaporkan telah melonggarkan syarat lamanya termasuk pembubaran SDF, demi menyambut “kesepakatan baru” yang diatur dari luar negeri.

Akibat dari kesepakatan ini, SDF mulai menarik pasukannya dari wilayah strategis seperti Aleppo dan Bendungan Tishrin. Sebagai gantinya, mereka mengonsolidasikan kontrol atas wilayah timur Efrat, termasuk Provinsi Hasakah, dan membangun koridor baru ke kota-kota seperti Ras al-Ayn dan Kobani. Sebuah formasi politik baru perlahan terbentuk di timur laut Suriah, formasi yang tidak berbasis pada legitimasi rakyat, tetapi pada restu imperial.

Namun narasi ini tak berhenti pada peta. Penarikan pasukan Amerika bukanlah akhir, melainkan transisi kekuasaan. Di bawah bayang-bayang “kerja sama,” sebuah dominasi baru dirancang. Tujuannya jelas: menciptakan keseimbangan kekuasaan semu agar konflik antara suku Kurdi dan Pemerintahan bayangan pro-Turki tidak meledak kembali. Sebab bila pecah, Washington tahu: sel-sel ISIS yang tidur akan kembali hidup, dan itu bisa mengacaukan proyek “peninggalan tertib”-nya.

Inilah watak asli imperialisme: datang dengan bom, pergi dengan perjanjian. Sementara yang tersisa di lapangan bukanlah kemerdekaan, melainkan pecahan-pecahan masyarakat yang terpaksa merangkai hidup di bawah desain asing. [PP/MT]

Tags: