Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Middle East Eye: Israel Jadi Pecundang dalam Perang Narasi

Middle East Eye: Israel Jadi Pecundang dalam Perang Narasi

POROS PERLAWANAN – Situs Middle East Eye dalam analisisnya menekankan bahwa meskipun ada blokade, pemutusan internet, dan kerusakan infrastruktur, wartawan Palestina dan warga biasa dapat menunjukkan realita perang di Gaza kepada dunia.

Diberitakan Fars, Middle East Eye dalam analisis ini dengan mengacu pada undang-undang yang disahkan oleh Pemerintahan Joe Biden pada tahun 2024, yang mewajibkan korporasi China, ByteDance, untuk menjual TikTok dan mengancam akan memblokirnya di seluruh AS jika tidak dijual. Menurut Middle East Eye, instrumen yang dahulu dianggap Washington sebagai ancaman keamanan, saat ini telah berubah menjadi alat propaganda yang dibutuhkan oleh Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu.

Dalam perjalanan terakhirnya ke Amerika Serikat dan pertemuan dengan sekelompok influencer Amerika Serikat di New York, Netanyahu mengatakan,“Kita harus berperang dengan senjata yang tepat. Saat ini, medan perang yang paling penting adalah media sosial. Senjata yang paling penting adalah TikTok; nomor satu!”

Kalimat ini menunjukkan bahwa rezim yang dahulu kerap menganggap media sosial sebagai ancaman, sekarang terobsesi untuk memilikinya, karena mereka telah kalah dalam perang narasi.

Berdasarkan pernyataan Senator Amerika Serikat, Mitt Romney, salah satu alasan utama Pemerintah Amerika Serikat mendukung TikTok adalah penyebaran luas narasi-narasi Palestina di platform ini. Dia mengakui bahwa “TikTok telah menjadi corong untuk suara rakyat Palestina, melebihi medsos mana pun.”

Sebenarnya, apa yang disebut Washington sebagai “ancaman keamanan” tidak lain adalah ketakutan akan penyebaran fakta tentang kejahatan Israel.

Berdasarkan analisis ini, meski Israel mengontrol media-media mainstream Barat, lobi-lobi kuat, lembaga-lembaga pemikiran, dan jaringan pengguna internet buzzer di dunia, ia tidak dapat memengaruhi opini publik untuk berpihak kepadanya. Bahkan biaya yang dikeluarkan – dari pembayaran $7.000 untuk setiap iklan yang ditayangkan hingga kontrak senilai $45 juta dengan Google untuk mempromosikan konten yang mendukung Israel – tidak dapat menyembunyikan fakta.

Militer Israel membentuk sebuah satuan khusus bernama “Sel Legitimasi” untuk menjustifkasi pembunuhan para jurnalis dan warga sipil. Namun, semua upaya ini hanya mendatangkan hasil terbalik.

“Israel kalah dalam perang narasi. Penyebabnya sama persis dengan keberhasilannya dalam kejahatannya. Israel mampu menunjukkan kepada dunia bagaimana penindasan, pembantaian, dan kehancuran dilakukan olehnya di Gaza,” tulis Middle East Eye.

Perang Gaza adalah genosida live pertama dalam sejarah; sebuah tragedi yang disiarkan secara langsung di TikTok, Instagram, dan media sosial lainnya, hingga menyatukan dunia melawan Israel.

Berdasarkan artikel ini, baik investasi iklan, sensor platform, atau dukungan Washington, tidak dapat menyembunyikan realitas rezim ini. Jika Israel ingin memperbaiki citranya, jalan yang harus ditempuh bukanlah rekayasa pikiran, melainkan penghentian pembunuhan, karena “tidak ada anggaran propaganda manapun yang dapat menyelamatkan rezim yang memancarkan kebohongan dan darah.”

Tags: