Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Oposisi Afghanistan Terpecah: Ke Mana Arah Perlawanan terhadap Taliban?

POROS PERLAWANAN – Di tengah seruan lanjutan untuk melawan kekuasaan Taliban, keretakan internal justru semakin menajam di tubuh oposisi. Tokoh-tokoh sentral yang dahulu membentuk barisan terdepan perlawanan kini mulai menarik diri dari wadah persatuan. Lantas, seberapa jauh oposisi yang tengah di ambang disintegrasi ini mampu melangkah?

Menurut laporan Tasnim News pada Rabu 23 April, sejumlah tokoh oposisi seperti Ahmad Massoud, Abdul Rashid Dostum, Mohammad Mohaqiq, dan Yasin Zia kembali mengumandangkan semangat perlawanan. Mereka bicara lantang soal prospek kejatuhan Taliban dalam waktu dekat. Namun tak berselang lama, retakan tajam menghantam tubuh koalisi: Front Panjshir pimpinan Ahmad Massoud dan Partai Jamiat-e Islami Afghanistan pimpinan Salahuddin Rabbani secara resmi mengumumkan pengunduran diri dari Majelis Nasional untuk Keselamatan Afghanistan.

Alasan pengunduran diri? Perbedaan mendasar dalam struktur, kebijakan, dan metode manajemen majelis. Keduanya bahkan menyatakan bahwa mereka tak pernah mengafirmasi keanggotaan penuh di forum tersebut—klaim yang bertolak belakang dengan dokumen awal pendirian forum, yang justru mencantumkan mereka sebagai aktor sentral.

Sejumlah sumber menyebut, pemicu utama keretakan ini adalah penunjukan Omar Daudzai sebagai Ketua Eksekutif Majelis. Sosok yang punya rekam jejak panjang di Pemerintahan pro-Barat Afghanistan ini dianggap terlalu dekat dengan pendekatan konservatif, dan jauh dari semangat perlawanan akar rumput.

Dalam pernyataannya, Front Panjshir menegaskan bahwa kegagalan forum untuk membangun struktur yang akomodatif justru memperlemah perjuangan anti-Taliban. Jamiat-e Islami pun menyuarakan kekecewaan serupa: prinsip-prinsip forum tak lagi sejalan dengan dinamika politik dan aspirasi rakyat Afghanistan hari ini.

Di sisi lain, “Front Kebebasan Afghanistan” yang sempat disebut-sebut sebagai bagian dari forum ini, justru membantah keras keterlibatan mereka. Mereka menolak menjadi bagian dari koalisi manapun, namun tetap membuka ruang kerja sama dengan gerakan-gerakan perlawanan lain yang sejalan secara prinsipil.

Pertanyaannya kini: apakah suara-suara yang terdengar ini mencerminkan denyut lapangan politik Afghanistan, atau sekadar gema kehendak yang belum memiliki sarana konkret untuk diwujudkan?

Retakan Internal: Dari Idealisme ke Dispersi

Masalah utama oposisi Taliban bukan hanya tekanan eksternal, tapi juga kegagalan membangun konsistensi internal. Pemisahan resmi kelompok-kelompok pendiri dari koalisi anti-Taliban terbesar menandai bahwa kesatuan yang selama ini diklaim hanya utopia, bukan kenyataan lapangan.

Beda tafsir soal kepemimpinan, strategi, hingga definisi perjuangan membuat mereka bukan saling menguatkan, melainkan saling menegasikan. Dalam lanskap seperti ini, konvergensi praktis menjadi jauh lebih sulit dari sekadar narasi bersama dalam pernyataan politik.

Keterbatasan Logistik dan Infrastruktur yang Renta

Selain krisis kepercayaan internal, oposisi juga digerogoti oleh minimnya sumber daya. Seperti diakui Mohaqiq, “Kadang-kadang kami kenyang, kadang-kadang kami lapar.” Meski tekad tak diragukan, realitasnya jelas: tanpa infrastruktur dan pendanaan yang kokoh, tak ada gerakan perlawanan yang bisa bertahan lama.

Sementara itu, Taliban terus memperkuat cengkeramannya—mengandalkan pendapatan domestik, pajak, sumber daya alam, dan dukungan regional yang kian terstruktur. Dalam waktu dekat, tidak tampak adanya ancaman eksistensial bagi kekuasaan mereka.

Isolasi Internasional dan Perubahan Peta Regional

Berbeda dari era sebelumnya, gerakan anti-Taliban kini tak lagi mendapat dukungan signifikan dari kekuatan global. Tak ada lagi bantuan militer Barat, apalagi pengakuan dari Badan-badan seperti PBB. Negara-negara besar memilih diam, enggan kembali terjebak dalam lumpur konflik Afghanistan.

Lebih parah lagi, negara-negara regional seperti Tiongkok, Rusia, dan Pakistan kini condong pada pendekatan pragmatis. Mereka mulai mengakui Taliban sebagai aktor sah dan membuka jalur diplomatik formal. Ini secara otomatis menutup pintu bagi oposisi untuk masuk ke dalam arena negosiasi regional—membuat mereka seperti pelaut tanpa pelabuhan.

Jalan Terjal yang Belum Bertuan

Dengan perpecahan internal yang kian dalam, kelangkaan sumber daya, serta absennya dukungan internasional dan regional, oposisi Taliban saat ini seperti perahu karam yang terapung tanpa arah. Meski sebagian tokoh masih menyuarakan optimisme mengenai kejatuhan Taliban, kenyataannya menunjukkan sebaliknya: tak ada kekuatan terpadu yang mampu menggerakkan perubahan berarti dalam waktu dekat.

Alih-alih menjadi kekuatan perubahan, oposisi kini lebih mirip kumpulan arus yang tercerai berai, saling bersilang pandang, tanpa visi bersama tentang masa depan Afghanistan pasca-Taliban. Tanpa persatuan internal, dukungan rakyat, dan legitimasi internasional, wacana kejatuhan Taliban tampaknya belum akan melampaui ruang-ruang retorika media.

Tags: