Osama Hamdan: Satu-satunya Pilihan adalah Perlawanan
POROS PERLAWANAN – Pemimpin senior Hamas, Osama Hamdan, menegaskan bahwa urusan internal Palestina adalah hak prerogatif rakyat Palestina sendiri. Dalam Forum Al-Jazeera yang digelar pada Jumat (15/2), Hamdan menyampaikan bahwa siapa pun yang berusaha menggantikan “Israel” akan diperlakukan sama seperti entitas tersebut.
“Siapa pun yang ingin bertindak sebagai agen ‘Israel’ harus siap menanggung konsekuensi dari pilihannya,” tegas Hamdan. Ia juga menekankan bahwa isu terkait senjata, kepemimpinan, para pejuang, serta hubungan Hamas dengan pendukungnya bukanlah topik yang bisa diperdebatkan. “Kami tidak akan menerima diskusi tentang hal itu dan tidak akan mengizinkan siapa pun membawanya ke meja perundingan,” ujarnya.
Pengorbanan Pemimpin Hamas
Hamdan mengingatkan bahwa konflik yang berlangsung bukan sekadar angka dalam laporan korban jiwa. Ia merespons mereka yang menyebut jumlah 50.000 martir Palestina sebagai statistik semata.
“Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya angka. Namun, bagi kami, ini adalah keluarga kami—istri, anak-anak, dan sanak saudara kami,” katanya. Hamdan menambahkan bahwa tidak ada pemimpin Hamas yang tidak kehilangan setidaknya separuh anggota keluarganya dalam konflik ini.
Dukungan Hizbullah dan Iran
Dalam forum tersebut, Hamdan juga menyinggung hubungan antara Hamas dan Hizbullah. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak meminta dukungan militer dari kelompok yang berbasis di Lebanon tersebut. Namun, dalam pertemuan pada malam 8 Oktober 2024 dengan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sayyed Hassan Nasrallah, dukungan dari Hizbullah segera diwujudkan.
“Garis depan Lebanon dibuka dini hari 8 Oktober, kurang dari 24 jam setelah peristiwa ‘Banjir Al-Aqsa’ pada 7 Oktober,” ungkapnya. Menurut Hamdan, Nasrallah menyampaikan bahwa langkah tersebut bertujuan untuk memastikan kemenangan Hamas dan Gaza, bahkan jika eskalasi besar terjadi.
Hamdan juga menepis anggapan bahwa Iran secara langsung mengendalikan Hamas dan kelompok-kelompok perlawanan lainnya. “Iran tidak duduk di ruang operasi dan memberikan perintah kepada Hamas, Hizbullah, atau Ansar Allah. Kami hanya memiliki kesepakatan bahwa musuh utama adalah ‘Israel’ dan kami bekerja sama dalam menghadapi mereka,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Iran tidak bisa disalahkan karena mendukung perlawanan Palestina, sementara beberapa negara lain justru berkoordinasi dengan “Israel” atau bahkan berkonspirasi melawan rakyat Palestina.
Tantangan dan Peluang Palestina
Hamdan memprediksi bahwa perjuangan Palestina akan menghadapi tantangan berat ke depan, terutama terkait serangan terhadap Tepi Barat dan upaya rekonstruksi Gaza pascakonflik.
Namun, di balik tantangan tersebut, ia juga melihat peluang. Menurutnya, saat ini tentara “Israel” mengalami kelelahan dan krisis kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri. Ia juga menilai bahwa “Israel” sedang terperosok dalam krisis internal yang mendalam dan mencoba mengekspor ketidakstabilan tersebut ke kawasan lain.
“Musuh telah gagal mencapai tujuannya untuk mengakhiri perlawanan, menciptakan kekacauan, dan menggusur rakyat Palestina,” kata Hamdan.
Di akhir pernyataannya, ia menegaskan bahwa tidak ada jalan lain bagi rakyat Palestina selain terus berjuang.
Perlawanan Sebagai Satu-Satunya Jalan
Bagi Hamas dan Poros Perlawanan, konflik dengan “Israel” bukan sekadar pertempuran militer, tetapi juga pertarungan eksistensial. Osama Hamdan menegaskan bahwa setiap upaya untuk melemahkan perjuangan Palestina akan dihadapi dengan tekad yang lebih besar. Dengan kelelahan pasukan “Israel”, ketidakstabilan internal, dan solidaritas regional yang terus menguat, perlawanan tetap menjadi satu-satunya pilihan bagi rakyat Palestina dan sekutu mereka. “Satu-satunya pilihan adalah perlawanan!,” tegas Hamdan.
