Penarikan Pasukan AS dari Ain al-Assad: Mundur untuk Menancap Kuku Lebih Dalam
POROS PERLAWANAN — Langkah Amerika Serikat memindahkan pasukannya dari pangkalan Ain al-Assad dan bandara Baghdad ke Erbil bukanlah akhir kehadiran militer asing di Irak. Ini hanyalah reposisi untuk mundur setapak dari jantung Irak untuk menancapkan kuku lebih dalam di kawasan Kurdi.
Secara formal, Washington berdalih bahwa perjanjian keamanan dengan Baghdad telah selesai. Namun, faktanya, pasukan itu tidak pergi, melainkan hanya bergeser lokasi. Pesan yang ingin disampaikan sederhana, bahwa AS tetap hadir, tetap berpengaruh, hanya dengan wajah baru.
Bagi Pemerintahan Perdana Menteri Muhammad Shia al-Sudani, manuver ini adalah tekanan politik terselubung. Dengan mengrklaim “penarikan diri”, AS mencoba mengikis legitimasi Pasukan Mobilisasi Populer (PMF), seolah-olah keberadaan Kelompok Perlawanan itu sudah tak lagi relevan. Padahal, ancaman nyata justru masih menggantung, yaitu kebangkitan kembali kelompok Takfiri, potensi konflik sektarian, bahkan perang Arab–Kurdi.
Sejarah memberi pelajaran pahit. Penarikan AS dari Irak pada 2010 tidak membawa kedamaian, melainkan membuka jalan lahirnya ISIS. Kini, relokasi pasukan ke Erbil dikhawatirkan akan mengulang pola serupa, yaitu kekosongan yang disengaja untuk menciptakan krisis baru.
Tak sedikit analis yang melihat benang merah lebih besar, proyek geopolitik “Timur Tengah Baru” yang terus dipromosikan Washington dan Tel Aviv. Dukungan terselubung terhadap kelompok ekstremis, pembiayaan organisasi teroris, hingga manuver politik di Suriah dan Irak adalah bagian dari upaya mempertahankan instabilitas permanen di Kawasan.
Maka, publik Irak wajar curiga. Penarikan ini bukan tanda berakhirnya pendudukan, melainkan strategi perang psikologis dan reposisi militer. Mundur dari Baghdad, namun tetap menancapkan pengaruh di Erbil.
Kesimpulannya jelas bahwa selama kepentingan Amerika Serikat masih bermain di papan catur Timur Tengah, Irak tidak akan benar-benar merdeka dari bayang-bayang intervensi.
