Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Perang Dingin Budaya dan Campur Tangan CIA dalam Menjaga Narasi ‘Kemuliaan Amerika’

POROS PERLAWANAN – Kali ini, redaksi Poros Perlawanan akan menyoroti polemik seputar laporan mengejutkan tentang perilaku “barbar” tentara Amerika yang ditulis oleh Francis Stoner Saunders dan dimuat di koran Kayhan pada Sabtu 18 Oktober 2025:

Semua argumen yang muncul seputar penghapusan artikel Dwight MacDonald sejatinya hanyalah pengalihan dari alasan sebenarnya. Isi artikel tersebut dinilai terlalu anti-Amerika, suatu hal yang mungkin masih bisa ditoleransi jika disampaikan dengan lebih halus. Namun, masalah utamanya bukan terletak pada nada anti-Amerika itu, melainkan pada bagian penutup artikel yang merujuk pada laporan menggemparkan tentang perilaku tentara Amerika dalam Perang Korea.

Laporan tersebut ditulis pada musim gugur sebelumnya oleh Eugene Kincaid dan diterbitkan di The New Yorker atas penugasan resmi dari Angkatan Darat AS. Dokumen itu merupakan catatan yang menghancurkan citra moral tentara Amerika.

Dalam laporan tersebut dijelaskan: “Para tahanan Amerika sering bertindak tidak terkendali. Mereka menolak mematuhi perintah, mencaci-maki, bahkan memukuli perwira yang mencoba menegakkan disiplin. Pada malam-malam musim dingin, para prajurit lemah yang menderita disentri dilempar keluar dari barak oleh rekan-rekannya sendiri dan dibiarkan mati kedinginan”.

Kincaid juga menulis bahwa rata-rata tentara Amerika tampak “sangat tak berdaya tanpa kotak obat dan toilet”. Hal yang paling mengejutkan, laporan itu mengungkapkan tingginya tingkat kolaborasi dengan musuh serta kerentanan terhadap indoktrinasi ideologi Komunis.

Bahwa Angkatan Darat AS berani memublikasikan laporan tersebut adalah keanehan tersendiri, sebuah mimpi buruk bagi para propagandis Pemerintah. Satu-satunya alasan kuat agar artikel MacDonald diterbitkan di Encounter hanyalah veto resmi yang mencegahnya. Hingga justru bagian inilah yang kemudian menjadi inti persoalan.

 

Amnesia Kolektif di Kalangan Intelektual Amerika

Namun, bertahun-tahun kemudian, tidak satu pun dari pihak yang terlibat langsung dalam penghapusan artikel MacDonald mengingat kasus Kincaid.

Irving Kristol, misalnya, berkata: “Saya tidak mengetahui adanya kemerosotan moral di antara tentara Amerika di akhir Perang Korea. Dan kalaupun ada, bagaimana MacDonald bisa tahu? Ia hanya duduk di New York menulis untuk The New Yorker. Ia tak pernah ke Korea, bahkan mungkin tak pernah melihat barak tentara. Saya tidak pernah mendengar adanya ketidakpuasan semacam itu di antara prajurit saya. Saya juga tidak ingat ada hal seperti itu dalam artikelnya.”

Melvin Lasky, Stephen Spender, dan Diana Joselson pun menyatakan hal serupa, bahwa mereka semua “tidak mengingat apa-apa”. Fenomena ini hanya bisa disebut sebagai amnesia sejarah kolektif.

Khusus untuk Kristol, hilangnya ingatan ini justru mencurigakan. Dalam sepucuk surat bertanggal Oktober 1958, Michael Joselson menulis kepadanya, saat itu artikel MacDonald telah dimuat di majalah Dissent, yang lebih berhaluan kiri daripada Partisan Review, sementara Kristol telah meninggalkan London untuk bekerja di Reporter di New York:

“Nah, tentang artikel sok penting miliknya tentang Amerika, yang sejak awal Anda dan Stephen salah tanggapi, Anda tentu masih ingat bahwa Anda memintanya menulis ulang dan menghapus bagian tentang Korea yang sebelumnya sudah dimuat di The New Yorker. Tapi ia menolak melakukannya.”

Pada 1959, Kristol kembali terlibat dalam kontroversi Kincaid, bahkan menyerang isi laporan itu dalam sebuah debat televisi publik. Aksi tersebut ironisnya mendapat dukungan dari Joselson dan sekaligus mendatangkan pembaca baru bagi Reporter, majalah tempat Kristol bekerja.

 

Catatan Kontekstual

Eugene Kincaid menulis laporan asli untuk The New Yorker, dan Dwight MacDonald mengutipnya hampir secara verbatim dalam artikelnya yang kemudian ditolak oleh Encounter.

Beberapa prajurit yang menderita penyakit mungkin diusir dari barak karena takut menular atau karena kekurangan makanan, namun hal itu tetap menunjukkan degradasi moral.

Keterkejutan terhadap laporan Kincaid timbul karena menggambarkan tentara Amerika yang bergantung total pada sistem pendukung logistik, sehingga dalam kondisi ekstrem mereka menjadi tak berdaya dan tidak mampu beradaptasi tanpa fasilitas modern.

Apa yang paling memalukan bagi Washington adalah fakta bahwa banyak tentara Amerika mudah terpengaruh ideologi Komunis di kamp tawanan perang. Fenomena “brainwashing” ini dianggap sebagai skandal nasional karena mengguncang klaim moral Amerika sebagai “pembawa kebebasan” dan “promotor demokrasi”.

Bagaimana mungkin bangsa yang meninggalkan kawan sendiri membeku dalam barak dan tak mampu menjaga martabat prajuritnya mengaku sebagai pembimbing moral bangsa lain?

Kontroversi ini, anehnya, justru meningkatkan popularitas Kristol dan majalah Reporter, karena memancing perhatian publik baru melalui debat terbuka yang diwarnai polemik.

 

Kesimpulan

Kisah di balik penghapusan artikel Dwight MacDonald membuka sisi gelap politik budaya Perang Dingin: betapa dalam upaya membentuk citra moral Barat, CIA dan jaringan intelektualnya di bidang seni dan kebudayaan tak segan menyensor atau memutarbalikkan fakta demi menjaga narasi “kemuliaan Amerika”.

Di tengah klaim “peradaban melawan barbarisme”, laporan Eugene Kincaid menjadi cermin pahit bagi moralitas Amerika sendiri, sebuah potret tentang bangsa yang mengajarkan kebebasan, tetapi gagal mempertahankan kemanusiaan di medan perang.

Tags: