Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Perbatasan yang Gelisah: Ke Mana Arah Konflik Afghanistan vs Pakistan?

POROS PERLAWANAN – Bentrok berdarah di perbatasan Afghanistan–Pakistan, hanya beberapa bulan setelah perang empat hari di Ordibehesht, kembali menyalakan bara lama di salah satu kawasan paling rapuh di Asia Selatan. Sejak 10 Oktober lalu, garis sepanjang 2.640 kilometer itu menjadi saksi konfrontasi terparah dalam dua dekade terakhir, ketika pasukan Taliban Afghanistan dan tentara Pakistan saling baku tembak di berbagai titik. Korban pun tidak sedikit, setidaknya 23 tentara Pakistan tewas menurut data resmi Islamabad, sementara Taliban mengeklaim lebih dari dua kali lipat. Pakistan membalas dengan serangan udara dan mengumumkan 200 milisi Taliban gugur.

Namun pertanyaan utamanya adalah, apa sebenarnya yang mereka perjuangkan di perbatasan yang tak pernah diakui sepenuhnya ini?

Akar Krisis: Warisan Kolonial yang Belum Usai

Sumber dari hampir seluruh ketegangan ini terletak pada Garis Durand, peninggalan kolonial Inggris yang ditetapkan pada 1893 oleh Sir Mortimer Durand dan Amir Abdul Rahman Khan. Garis tersebut secara sewenang-wenang memisahkan komunitas Pashtun dan Baluch di kedua sisi, meninggalkan luka geopolitik yang tak pernah sembuh.

Bagi Kabul, Garis Durand bukan batas kedaulatan, melainkan produk tekanan imperialis. Bahkan Taliban, baik pada periode pertama kekuasaannya (1996–2001) maupun sekarang, menolak mengakuinya. Sebaliknya, Islamabad menegaskan bahwa garis tersebut adalah batas sah yang diakui secara hukum internasional.

Dari sinilah seluruh logika konflik dimulai, sengketa antara legitimasi hukum dan legitimasi sejarah.

Dinamika Pasca-2001: Perbatasan sebagai Kawah Keamanan

Setelah invasi AS pada 2001 dan jatuhnya Rezim Taliban, wilayah perbatasan berubah menjadi ruang abu-abu keamanan. Di sinilah muncul Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), organisasi yang berideologi sama dengan Taliban namun beroperasi melawan Islamabad.

TTP, yang dibentuk pada 2007, menjadi momok internal bagi Pakistan. Pada 2024 saja, 685 anggota keamanan Pakistan tewas dalam 444 serangan. Di sisi lain, Kabul menuduh Pakistan melindungi faksi-faksi pemberontak yang menyerang Afghanistan.

Akibatnya, kedua negara kini saling menuduh mengekspor ketidakstabilan.

Dualitas dan Dilema Kebijakan: Antara Ideologi dan Kepentingan

Hubungan Kabul–Islamabad ibarat permainan cermin, kedua pihak terikat oleh ikatan etnis, sejarah, dan kepentingan strategis, namun juga saling mencurigai.

Pakistan menganggap Afghanistan sebagai wilayah penyangga strategis terhadap India, sementara Taliban Afghanistan masih memiliki hubungan darah dan ideologi dengan TTP. Maka tak heran, Kabul tampak enggan menindak keras kelompok yang oleh Islamabad dianggap sebagai musuh utama.

Dualitas ini membuat keduanya terjebak antara solidaritas ideologis dan realitas geopolitik.

Statistik yang Menyayat: Kekerasan Tanpa Ujung

Situasi keamanan di kedua sisi perbatasan kini memburuk secara drastis. Menurut Center for Research and Security Studies (CRSS), sedikitnya 2.414 orang tewas dalam serangan teroris di Pakistan sepanjang tiga kuartal pertama 2025.

Afghanistan pun tak lebih aman. Serangan udara Pakistan dan penutupan perbatasan telah memperparah krisis ekonomi serta memperdalam penderitaan warga sipil.

Konflik ini bukan hanya bentrokan bersenjata, melainkan konfrontasi sistemik antara dua negara yang saling mengunci dalam spiral kecurigaan.

Gelombang Pengungsi dan Krisis Kemanusiaan

Salah satu tragedi paling nyata dari ketegangan ini adalah nasib jutaan pengungsi Afghanistan di Pakistan. Kebijakan deportasi massal yang dimulai tahun lalu telah memaksa lebih dari 3 juta orang kembali ke Tanah Air yang masih belum stabil. Di daerah perbatasan, ribuan keluarga terpaksa meninggalkan rumah akibat serangan udara dan artileri lintas batas.

Dalam situasi seperti ini, perbatasan tidak lagi memisahkan dua negara, tetapi dua bentuk penderitaan.

Resonansi Regional: Bayangan Panjang di Asia Barat dan Tengah

Konflik ini mengguncang keseimbangan regional. Iran menyerukan de-eskalasi dan dialog; Arab Saudi serta Qatar mendorong mediasi; sementara India diam-diam mempererat komunikasi diplomatik dengan Kabul, sebuah langkah yang tentu menggelisahkan Islamabad.

Tiongkok, dengan kepentingan besar melalui China–Pakistan Economic Corridor (CPEC), menjadi pihak paling vokal dalam menyerukan stabilitas. Beijing dan Moskow khawatir, ketegangan ini akan merembet ke Asia Tengah dan mengganggu inisiatif ekonomi regional.

Dengan kata lain, perbatasan Afghanistan–Pakistan bukan semata-mata isu dua negara, melainkan variabel utama dalam kalkulasi keamanan Eurasia.

Prospek: Dialog atau Perang Tanpa Nama

Meski potensi perang besar dinilai kecil, risiko konflik laten yang berulang tetap tinggi. Para analis seperti Asif Durrani dan Ibrahim Bahis sepakat bahwa, kedua pihak tidak memiliki kapasitas, atau kepentingan untuk perang jangka panjang. Namun tanpa mekanisme kepercayaan yang konkret, bentrokan lokal akan terus berulang seperti siklus musiman.

Solusi hanya mungkin lahir dari diplomasi yang jujur dan realistis. Isu-isu struktural, dari garis Durand hingga aktivitas TTP, harus dihadapi melalui kerja sama perbatasan, pertukaran intelijen, dan revitalisasi ekonomi lintas batas.

Zona perdagangan bebas, proyek infrastruktur bersama, dan komunikasi militer langsung dapat menjadi fondasi perdamaian yang lebih kokoh daripada janji politik. Karena pada akhirnya, stabilitas satu pihak adalah prasyarat bagi keamanan pihak lainnya.

Kesimpulan

Krisis Afghanistan–Pakistan bukanlah semata-mata konflik dua negara, melainkan refleksi kegagalan geopolitik global dalam menyembuhkan luka kolonial yang diwariskan. Selama Garis Durand tetap menjadi garis pemisah antara hukum dan keadilan, selama kepercayaan digantikan oleh kecurigaan, dan selama keamanan didefinisikan sebagai dominasi, maka perbatasan ini akan tetap gelisah, bukan oleh geografi, melainkan oleh sejarah yang belum selesai.

Tags: