Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Perlawanan Sengit Hizbullah Bikin Gagal Total Serangan Israel ke Selatan Lebanon 

POROS PERLAWANAN – Serangan besar-besaran yang dilancarkan pasukan Israel ke selatan Lebanon pada Sabtu-Minggu 23-24 November berakhir dengan kegagalan. Kelompok Hizbullah berhasil menahan pasukan Israel dari memasuki wilayah strategis Al-Khiam dan memaksa Militer Zionis mundur dari sektor timur.

Pagi tadi, menurut laporan media-media Iran, Israel kembali melancarkan serangan baru dengan mengerahkan konvoi kendaraan lapis baja ke daerah tersebut. Meski mereka berharap perlawanan Hizbullah telah melemah setelah bentrokan semalam, kenyataannya Hizbullah justru telah bersiap untuk serangan lanjutan. Dalam pertempuran terbaru, dua tank Merkava dan sejumlah kendaraan lapis baja Israel dihancurkan oleh rudal antitank Hizbullah.

Pertempuran di Beberapa Sektor

Tembakan artileri dan ledakan terus menggema di pedesaan tenggara Lebanon. Di wilayah timur, tepatnya di utara Deir Mimas, pasukan Israel berhasil maju sejauh 1,5 kilometer. Meski demikian, klaim media Israel yang menyebutkan bahwa pasukan mereka telah mencapai jalan-jalan utama terbukti tidak benar. Israel hanya mampu membombardir jalan-jalan tersebut dari jarak jauh tanpa mencapainya.

Di sektor barat daya, pasukan Israel berhasil merebut kendali atas beberapa desa perbatasan, termasuk Shama. Sementara itu, pertempuran sengit juga terus berlangsung di sekitar Jabin dan Taair. Israel melancarkan serangan baru di tiga titik strategis, yakni Ras Al-Naqoura, Al-Bayada, dan Majdal Zun, menuju wilayah pesisir. Serangan ini diklaim lebih intens dibandingkan serangan sebelumnya, disertai dengan bombardir berat dan pengerahan pasukan dalam jumlah besar.

Namun, Hizbullah memberikan perlawanan sengit. Sepanjang hari, Kelompok Perlawanan ini melancarkan serangan balasan menggunakan rudal, artileri, dan mortir, yang berhasil menahan laju pasukan Israel sekaligus menimbulkan kerugian besar. Unit rudal jarak jauh Hizbullah juga aktif menargetkan tank-tank Israel dan konsentrasi pasukan mereka dari lokasi tersembunyi.

Taktik Pertahanan Hizbullah

Israel telah mengerahkan dua divisi dengan total sekitar 15.000 tentara, termasuk pasukan cadangan, di sepanjang perbatasan Lebanon. Namun, hanya sekitar 200 pejuang Hizbullah yang bertahan di sisi barat dan utara, dengan beberapa ratus lainnya bertanggung jawab atas pertahanan di area perbukitan dan hutan. Mereka menggunakan taktik gerilya untuk menghambat pergerakan pasukan Israel, menciptakan tekanan signifikan terhadap musuh.

Hizbullah juga meningkatkan aktivitas penembak jitu dan serangan rudal antitank. Di beberapa wilayah timur laut dan barat laut Israel, pertempuran berlangsung sangat sengit. Hizbullah memanfaatkan jaringan terowongan untuk melancarkan serangan mendadak, menimbulkan kerugian besar bagi Israel. Bahkan, dukungan penuh Amerika Serikat belum mampu memberikan hasil yang diharapkan.

Kemajuan Israel Terbatas

Hingga sore ini, pasukan Israel belum berhasil mencapai kemajuan signifikan ke dalam wilayah Lebanon. Mereka hanya bergerak maju-mundur sejauh dua kilometer dari perbatasan, dengan merebut beberapa desa perbatasan tanpa mencapai target strategis.

Hizbullah menggunakan taktik pertahanan gerilya, yang memungkinkan musuh bergerak maju untuk kemudian diserang secara efektif. Namun, sejauh ini, Hizbullah telah berhasil menghentikan pergerakan Israel di zona sempit dua kilometer dari perbatasan.

Jika Israel tidak mampu mencapai kemajuan dalam beberapa hari mendatang, mereka mungkin terpaksa menarik mundur pasukan mereka dari selatan Lebanon. Kegagalan ini dikhawatirkan akan meningkatkan jumlah korban jiwa di pihak Israel. Kritik mulai muncul terkait strategi Israel, yang dianggap tidak rasional dan terlalu memaksakan pasukan untuk mencapai kemenangan sesaat.

Ancaman dari Unit Radwan Hizbullah

Jika Israel mampu melewati garis pertahanan pertama Hizbullah dan terus maju ke wilayah barat laut atau timur laut, mereka akan berhadapan dengan unit elite Hizbullah, yaitu pasukan Radwan. Unit ini didukung jaringan terowongan yang tersebar luas, memungkinkan mereka melancarkan serangan gerilya yang terorganisasi.

Awalnya, Israel dan Amerika Serikat memperkirakan bahwa pasukan Israel dapat mencapai Sungai Litani, sekitar 25 kilometer ke dalam wilayah Lebanon, dalam waktu satu setengah bulan. Namun, perlawanan gigih Hizbullah telah mengubah perhitungan tersebut. Perlawanan ini menciptakan medan perang yang sangat sulit bagi pasukan Israel, yang kini menghadapi tantangan berat di setiap langkah mereka.

Laporan ini mencerminkan realitas pertempuran di selatan Lebanon hingga hari ini, memberikan gambaran kompleks tentang dinamika konflik yang tengah berlangsung.

Tags: