Loading

Ketik untuk mencari

Amerika Iran

Politico: Justru AS yang Terpaksa Datang Berunding, Bukan Iran

Politico: Yang Terpaksa Datang Berunding adalah AS, Bukan Iran

POROS PERLAWANAN – Berbagai media di AS berusaha mengesankan bahwa Iran terpaksa hadir di meja perundingan. Namun seorang analis senior AS mengemukakan pandangan lain.

“Selama bertahun-tahun, para pejabat AS menipu diri mereka sendiri bahwa sanksi ekonomi (atas Iran) bisa memberikan prevensi nuklir.”

Diberitakan Fars, ini adalah intisari pandangan Ray Takeyh, salah satu mantan pejabat Kemenlu dan pakar senior AS. Takeyh mengemukakan pandangannya soal perundingan tak langsung Iran-AS dalam sebuah tulisan di situs Politico pada Sabtu 19 April lalu.

Berlawanan dengan propaganda yang lazim dilakukan media-media Barat, Takeyh berpendapat bahwa yang memaksa AS berunding di berbagai periode adalah ketakutan Washington terhadap kemajuan nuklir Tehran, bukan lantaran tekanan sanksi atas Iran.

Di tengah propaganda media, pandangan Takeyh ini diperkuat oleh sejumlah bukti dalam statemen para petinggi Pemerintah AS.

Salah satunya adalah Menlu AS terdahulu, John Kerry. Dalam buku autobiografinya berjudul “Every Day is Extra”, Kerry secara gamblang menyatakan bahwa Pemerintahan Barack Obama menyimpulkan, tidak ada cara untuk berunding dengan Tehran selain mengakui program pengayaan lokal Negeri Mullah.

“Terlepas dari apakah Iran memiliki hak pengayaan atau tidak, saya sudah menyadari bahwa selama kita tidak siap bicara soal kemungkinan berlanjutnya pengayaan uranium Iran di bawah pembatasan yang ditentukan secara cermat, tak ada cara lain untuk mewujudkan akses, transparansi, dan pembatasan yang dibutuhkan untuk memastikan Iran tidak menjalankan program nuklir militer. Bahkan mungkin sama sekali tidak ada cara untuk membawa Iran ke meja perundingan,” tulis Kerry.

Dalam tulisannya, Takeyh menyatakan bahwa proyek Tekanan Maksimum Trump di periode pertama kepresidenannya tidak mampu mengontrol program nuklir Iran. Takeyh mengingatkan, dimulainya perundingan dengan Iran, bahkan di era Obama, disebabkan “keistimewaan krusial” yang diberikan Washington kepada Tehran.

“Interaksi bersahabat Obama baru mendapatkan kemajuan setelah Washington memberikan sebuah keistimewaan krusial (kepada Tehran): hak pengayaan (uranium).”

“AS juga memberikan keistimewaan lain kepada Iran, yaitu mengizinkan Tehran mempertahankan infrastruktur-infrastruktur nuklirnya.”

Tags: