Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Presiden Azerbaijan: Pengamat Uni Eropa di Armenia Lakukan Spionase terhadap Iran

POROS PERLAWANAN — Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev melontarkan tuduhan serius terhadap misi pengamat Uni Eropa di Armenia, dengan menyatakan bahwa para pengamat tersebut melakukan kegiatan mata-mata terhadap Republik Islam Iran, khususnya selama eskalasi militer Iran-Israel baru-baru ini.

Dalam wawancara dengan sejumlah wartawan yang dilansir Kantor Berita Tasnim pada Senin 21 Juli, Aliyev mengambil sikap tegas dan belum pernah terjadi sebelumnya terkait berbagai isu strategis, termasuk hubungan dengan Rusia, kebijakan energi nasional, serta keberadaan pengamat Eropa di perbatasan selatan Armenia.

“Armenia telah mengundang apa yang disebut ‘pengamat Eropa’ ke perbatasan mereka. Mereka adalah mata-mata profesional, dan mereka terlibat dalam operasi spionase terhadap Iran, terutama selama konflik terakhir antara Iran dan Israel,” ungkap Aliyev. “Benar, mereka juga mengawasi kami dengan teropong, tapi kami pun mengawasi mereka dari wilayah kami sendiri.”

Aliyev juga menyampaikan penolakan keras terhadap tawaran perusahaan asing, termasuk dari AS, yang ingin menyewa koridor Zangezur. Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada operator asing di wilayah Azerbaijan. Menurutnya, jalur aman dan tanpa hambatan antara Azerbaijan daratan dan eksklave Nakhchivan merupakan tuntutan mutlak dan sah.

“Kami tidak bisa membiarkan warga kami berulang kali diperiksa oleh penjaga perbatasan Armenia. Ini soal keamanan nasional,” ujarnya.

Ia juga mengingat insiden era Soviet, ketika kereta api dari Baku ke Nakhchivan sering dilempari batu saat melewati wilayah Armenia.

Aliyev: Energi adalah Urusan Komersial, Bukan Politik

Menanggapi upaya Uni Eropa mencari alternatif pasokan gas dari Rusia, Aliyev menjelaskan bahwa Azerbaijan tidak pernah mempolitisasi kebijakan energinya.

“Kami bukan pesaing Rusia, bahkan ketika mereka mengekspor 150 miliar meter kubik gas ke Eropa,” katanya. “Kami bertindak murni berdasarkan prinsip komersial.”

Aliyev menyebutkan bahwa Azerbaijan saat ini mengekspor gas ke 12 negara, termasuk delapan anggota Uni Eropa. Negara ini berencana meningkatkan produksi gas dari 25 miliar menjadi 33 miliar meter kubik pada 2030. Namun, ia menggarisbawahi bahwa perluasan infrastruktur pipa menjadi syarat utama untuk meningkatkan ekspor.

Tuding Rusia Tembak Jatuh Pesawat Azal: “Kami Akan Gugat ke Pengadilan Internasional”

Dalam pernyataan yang sangat jarang terdengar dari Baku, Aliyev mengecam keras Rusia terkait insiden jatuhnya pesawat komersial Azerbaijan yang diduga ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Rusia.

“Sudah tujuh bulan berlalu, tapi belum ada tanggapan resmi dari Rusia. Kami tahu apa yang terjadi, dan mereka juga tahu. Kami memiliki bukti kuat,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa pesawat tersebut dihantam dua kali, dan klaim bahwa drone Ukraina menabraknya adalah “cerita anak TK”. Pilot berhasil melakukan pendaratan darurat, dan tim investigasi Azerbaijan segera mendokumentasikan kondisi pesawat yang dipenuhi lubang serta korban luka akibat pecahan peluru.

Aliyev menyesalkan bahwa Rusia hanya menutup wilayah udaranya beberapa menit setelah serangan terjadi, dan menyebut bahwa penutupan tersebut seharusnya dilakukan sebelumnya sebagai bagian dari tanggung jawab pengendalian wilayah udara.

“Kami sudah memperingatkan Moskow: kami akan membawa kasus ini ke pengadilan internasional. Kami sedang menyiapkan berkasnya. Mungkin memakan waktu, tapi kami tidak akan diam. Keadilan akan kami tempuh, apa pun risikonya,” tandasnya.

Pernyataan Aliyev membuka babak baru ketegangan geopolitik di Kaukasus Selatan. Tudingannya terhadap pengamat Eropa memperkuat narasi bahwa Uni Eropa menggunakan dalih stabilisasi regional untuk memata-matai negara-negara yang menentang hegemoni Barat, termasuk Iran.

Bagi Iran dan blok Poros Perlawanan, tuduhan ini mengonfirmasi kekhawatiran lama bahwa pengaruh Barat di Kaukasus bukan hanya soal keamanan regional, melainkan juga bagian dari proyek intelijen besar yang menyasar Republik Islam.

Tags: