Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Qatar Sebut Tarif Sementara di Selat Hormuz Masih Bisa Dinegosiasikan

POROS PERLAWANAN — Qatar menyatakan menolak penerapan biaya permanen bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, tetapi membuka kemungkinan negosiasi tentang tarif sementara untuk mendukung pemulihan pelayaran di jalur strategis tersebut.

Menurut laporan Farsnews Agency yang dikutip dari The Straits Times dan Bloomberg pada Sabtu 30 Mei, Wakil Perdana Menteri Qatar, Sheikh Saud bin Abdulrahman Al Thani menyampaikan posisi itu dalam forum pertahanan Asia Shangri-La Dialogue di Singapura.

Ia mengatakan Doha menolak penerapan tarif permanen karena pada akhirnya akan membebani konsumen dan berdampak terhadap stabilitas perdagangan energi global.

“Qatar dan mitra-mitranya di Teluk dengan jelas menyatakan bahwa pungutan permanen pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen, sehingga kami menolaknya,” ujarnya.

Namun Sheikh Saud menyebut pungutan jangka pendek masih dapat dinegosiasikan, terutama untuk kebutuhan seperti pembersihan ranjau atau pemulihan keamanan jalur pelayaran.

Selat Hormuz Jadi Fokus Negosiasi Kawasan

Pernyataan tersebut disampaikan saat menjawab pertanyaan mengenai situasi Selat Hormuz yang kini berada di bawah kontrol Iran setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Pengelolaan jalur strategis itu menjadi salah satu isu utama dalam pembicaraan regional pascaperang.

Iran sebelumnya menegaskan bahwa situasi Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum perang. Tehran menyatakan kapal-kapal hanya dapat melintas dengan izin Iran dan pembayaran biaya layanan tertentu.

Sheikh Saud juga mengatakan Qatar berupaya menjaga keseimbangan hubungan dengan Amerika Serikat dan Iran di tengah meningkatnya ketegangan Kawasan.

Menurutnya, Doha mendorong tercapainya kesepahaman bersama di antara negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mengenai strategi regional terhadap Iran.

Doha Dorong Strategi Bersama GCC terhadap Iran

“Kami ingin memiliki strategi dan pendekatan yang jelas terhadap Iran, termasuk dalam hubungan perdagangan dan strategi politik kami,” kata Sheikh Saud seperti dikutip Bloomberg.

Pernyataan itu muncul ketika negara-negara Teluk mulai menghadapi konsekuensi langsung dari meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur energi terpenting dunia.

Selat Hormuz menjadi lintasan utama perdagangan minyak dan gas global. Setiap perubahan aturan pelayaran atau kebijakan keamanan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas energi internasional dan harga minyak dunia.

Tags: