Bawa-bawa Dalih Agama, Hegseth Umbar Retorika ‘Perang Salib’ di Balik Agresi Washington terhadap Iran
POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, ketika konflik antara Amerika Serikat dan Iran semakin memanas, laporan terbaru dari media Barat mengungkap dimensi ideologis yang mengkhawatirkan di balik kebijakan Militer Washington. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth disebut membingkai konfrontasi dengan Republik Islam Iran melalui narasi religius yang sarat dengan simbolisme “Perang Salib”, mencampurkan keyakinan nasionalisme Kristen dengan strategi militer modern.
Pendekatan Hegseth memunculkan kekhawatiran serius mengenai politisasi agama di jantung lembaga Militer AS. Alih-alih sekadar berbicara dalam bahasa geopolitik dan keamanan nasional, Hegseth berulang kali menggambarkan konflik dengan Iran sebagai bagian dari perjuangan spiritual yang lebih luas.
Dalam sebuah wawancara dengan CBS News, ia menegaskan keyakinannya bahwa Washington tidak perlu meragukan hasil konfrontasi dengan Teheran. Hegseth menyatakan bahwa kekuatan Militer Amerika tidak hanya unggul secara teknologi dan kemampuan tempur, tetapi juga berada di bawah “perlindungan Tuhan”. Pernyataan tersebut memunculkan kritik karena dianggap membawa-bawa legitimasi teologis ke dalam operasi militer.
Retorika religius itu juga terlihat dalam cara Hegseth menggambarkan Iran. Ia menyebut para pemimpin Iran sebagai “fanatik agama” yang memiliki ambisi apokaliptik, sambil menegaskan bahwa para prajurit Amerika membutuhkan hubungan spiritual dengan Tuhan dalam menghadapi perang. Bahkan dalam konferensi pers di Pentagon, ia mengutip ayat Alkitab Mazmur 144 yang berbicara tentang Tuhan yang “melatih tangan untuk berperang”.
Pernyataan semacam itu memicu ratusan keluhan dari personel Militer Amerika sendiri. Beberapa prajurit menilai penggunaan retorika keagamaan oleh pejabat tinggi pertahanan berpotensi merusak moral dan kesatuan pasukan, serta bertentangan dengan sumpah konstitusi yang mengharuskan Militer tetap netral secara agama.
Kontroversi juga semakin menguat ketika simbolisme pribadi Hegseth turut menjadi sorotan. Ia diketahui memiliki tato Salib Yerusalem serta ungkapan Latin “Deus Vult” yang berarti “Tuhan Menghendakinya”, sebuah slogan yang identik dengan Perang Salib abad pertengahan. Simbol tersebut bahkan ia bahas secara terbuka dalam bukunya tahun 2020 berjudul “American Crusade”, yang menggambarkan aksi militer Amerika sebagai kelanjutan dari konflik historis antara dunia Kristen dan dunia Islam.
Dalam buku tersebut, Hegseth menulis bahwa Amerika dan sekutunya, termasuk Israel, berada dalam sebuah “momen perang salib” modern. Ia menyebut bahwa masyarakat Barat harus melawan kekuatan Islamis di berbagai bidang yaitu budaya, politik, geografis, hingga militer.
Pandangan tersebut juga terkait erat dengan ideologi Zionisme Kristen, yang memandang dukungan terhadap Pendudukan Israel bukan sekadar kepentingan strategis, melainkan bagian dari mandat religius. Dalam sidang konfirmasi jabatannya, Hegseth secara terbuka menyatakan bahwa sebagai seorang Kristen ia mendukung sepenuhnya keberadaan dan “pertahanan eksistensial” Israel.
Para pengamat memperingatkan bahwa perspektif semacam ini berisiko mengubah konflik geopolitik di Asia Barat menjadi narasi perang religius. Organisasi Military Religious Freedom Foundation (MRFF) bahkan menyebut pendekatan tersebut dapat mengasingkan prajurit sekuler serta memperkuat propaganda kelompok ekstremis di luar negeri.
Sejumlah akademisi juga menilai retorika tersebut mencerminkan perpaduan antara nasionalisme Kristen dan doktrin keistimewaan Amerika. Perspektif ini menggambarkan konflik global sebagai pertarungan moral antara “nilai-nilai Amerika” dan pihak yang dianggap bertentangan dengannya.
Bagi banyak pengamat, munculnya retorika “perang suci” di lingkaran kebijakan Militer Washington menandai pergeseran berbahaya. Ketika kekuatan militer terbesar di dunia mulai memaknai konflik geopolitik sebagai misi Ilahi, ketegangan yang sudah rapuh di kawasan Asia Barat berisiko semakin mendekati jurang konfrontasi yang lebih luas.
