Loading

Ketik untuk mencari

Eropa Profil

Saat Orang Syiah Terkaya dalam Sejarah Dihabisi 24 Tahun Lalu

Saat Orang Syiah Terkaya dalam Sejarah Dihabisi 24 Tahun Lalu

POROS PERLAWANAN – Dalam periode seperti sekarang (pertengahan November 2000), 24 tahun lalu, seorang pria, yang mengabaikan penghasilan 60 miliar Dolar per tahun demi mengikuti mazhab Ahlulbait a.s., telah disingkirkan dari muka Bumi.

Edoardo Agnelli lahir tanggal 9 Juni 1954 di New York. Setelah lulus dari Atlantic College, ia melanjutkan studinya di bidang sastra modern dan filsafat timur di Universitas Princeton. Setelah menamatkan studinya, ia pergi ke India untuk mempelajari mistisisme dan agama-agama timur. Ia lalu melawat ke Iran dan akhirnya menganut mazhab Syiah.

Ayah Edoardo, Senator Giovanni Agnelli, adalah salah satu orang paling kaya dan berpengaruh di Italia. Dia pemilik pabrik mobil Fiat, Ferrari, Lamborghini, Alfa Romeo, dan selainnya. Agnelli juga memiliki pabrik pembuat suku cadang industri, sejumlah bank swasta, perusahaan fashion, harian La Stampa dan Corriere della Sera, klub balap Ferrari, dan juga klub sepakbola Juventus.

Keluarga Agnelli juga pemilik saham utama di beberapa perusahaan kontruksi, pembuatan jalan, produsen alat medis, dan helikopter. Jumlah kekayaan dan skala pengaruh keluarga Agnelli begitu besar, sampai-sampai media Italia menyebut mereka sebagai “keluarga kerajaan Italia.” Para pakar ekonomi memperkirakan, pemasukan tahunan keluarga Agnelli mencapai 60 miliar Dolar. Angka ini lebih banyak 2 kali lipat dari devisa minyak tahunan Iran.

Edoardo dan Islam

Edoardo adalah mahasiswa jurusan Filsafat Agama di Princeton, New York. Dia mempelajari Taurat dan Injil. Namun ia masih belum puas. Saat berusia 20 tahun, secara kebetulan ia melihat Alquran di perpustakaan. Ia membaca beberapa ayatnya dan merasa bahwa itu tidak mungkin berasal dari manusia.

Edoardo menjelaskan bagaimana ia memeluk Islam. “Saat saya berjalan-jalan di perpustakaan New York dan melihat-lihat buku, saya melihat Alquran. Saya penasaran apa yang ada di dalamnya. Saya mengambilnya dan mulai membuka lembaran-lembarannya serta membaca ayat-ayat yang diterjemahkan ke bahasa Inggris. Saya merasa, kalimat-kalimat dalam Alquran adalah kalimat-kalimat bercahaya. Tidak mungkin itu adalah ucapan manusia. Saya sangat terkesan. Saya meminjamnya dan menelaahnya. Saya merasa bisa memahami dan menerimanya.”

Setelah itu, Edoardo pergi ke sebuah pusat Islam di New York. Ia mengajukan permintaan untuk memeluk agama Islam. Ia pun diberi nama Hesham Aziz.

Salah seorang teman Edoardo, Mohammad Eshaq Abdollahi bercerita,”Edoardo kerap begadang dan mempelajari Alquran di bawah cahaya lilin hingga pagi.”

Pernyataan ini membuktikan bahwa Edoardo masuk Islam bukan karena ia banyak bergaul dengan orang Muslim. Sebab dengan kedudukan politik dan finansial ayahnya, tak seorang pun akan diizinkan untuk membicarakan masalah-masalah semacam ini kepadanya dan mengajaknya memeluk Islam. Setelah bertemu dengan Dr. Ghadiri Abyaneh, Edoardo menganut mazhab Syiah dan menggantinya namanya dengan Mahdi.

Pada tahun 1981, saat Ghadiri Abyaneh menjabat sebagai Konsuler Media di Italia, ia hadir dalam acara debat tentang penyanderaan staf Kedubes AS yang disiarkan televisi Italia. Edoardo menonton acara tersebut.

Ghadiri mengatakan,”Seminggu setelah acara tersebut, ketika saya berada di kediaman Kedubes, penjaga datang dan berkata,’Seorang pemuda Italia datang untuk bertemu Anda.’ Saya menyuruhnya memberi tahu pemuda itu agar ia datang besok saja. Namun penjaga menelepon dan berkata bahwa pemuda itu mengatakan,’Tuhan membuka segala pintu yang tertutup.’”

“Saya lalu menyuruh penjaga untuk membuka gerbang. Saya pun datang menemui pemuda tersebut. Dia seorang pemuda tinggi kurus yang datang dengan sebuah sepeda motor kuno. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Edoardo Agnelli. Tanpa berharap mendapatkan jawaban positif darinya, saya bertanya,’Apa Anda punya hubungan dengan keluarga Agnelli yang terkenal itu?’ Dia menjawab,’Saya putranya.’ Saya berkata,’Kalau memang Anda putranya, kenapa datang dengan motor kuno ini?’ Dia menjawab,’Ini milik penjaga kami. Saya menggunakannya agar tidak dikenali. Saya melihat wawancara Anda. Saya seorang Muslim.’ Saya bertanya kapan dia masuk Islam. Dia menjawab, empat tahun lalu.”

‘Edoardo menceritakan bagaimana ia masuk Islam. Ia meminta agar kami berteman. Setelah itu, tiap kali dia datang ke Roma, rumahnya sendiri ada di Torino, ia selalu mengunjungi saya. Setelah beberapa kali bertemu, ia pun menjadi Syiah.”

“Wartawan La Stampa, Igor Man, mengatakan,’Ketika Edoardo berbicara tentang pertemuannya dengan Imam Khomeini dan bagaimana ia terkesan dengannya, saya merasa bahwa Khomeini telah menyihirnya.’ Sebulan sebelum syahadahnya, Edoardo berniat pergi ke Iran sekali lagi. Namun kedua orangtuanya menyembunyikan paspornya agar ia tidak bisa pergi,” tutur Ghadiri.

Tekanan-tekanan atas Edoardo

Hossein Abdollahi adalah seorang teman Iran paling akrab Edoardo. Dia menyatakan, tekanan-tekanan terhadap Edoardo dari keluarganya sungguh sulit dipercaya.

“Edoardo mendapat tekanan ekonomi yang sangat besar. Keluarga Agnelli memberlakukan embargo ekonomi atas dirinya. Bahkan ia sampai tak punya uang untuk naik taksi.”

“Suatu hari, kami pergi bersama Edoardo ke perwakilan Iran Air di Italia untuk membelikan tiket baginya. Pegawai Italia Iran Air berkata bahwa saya tidak bisa membelikan tiket untuk Edoardo. Setelah berdebat lama, akhirnya diketahui bahwa sekretaris ayah Edoardo telah menelepon pegawai tersebut. Dia diperintah agar tidak memberikan tiket kepada Edoardo,” kata Abdollahi.

Menurut Dr. Ghadiri, sulit bagi keluarga Agnelli untuk mengumumkan bahwa putra Senator Agnelli memeluk agama Islam, sementara Italia adalah pusat Kristen Katolik. Sebab itu, mereka menekan Edoardo agar keluar dari Islam. Mereka mengancam tidak akan memberinya warisan, dan ancaman itu dilakukan mereka. Namun Edoardo bersikukuh dengan pendiriannya. Fakta ini sendiri bisa membantah klaim bahwa Edoardo bunuh diri. Sebab, ia rela mengabaikan harta miliaran Dolar demi menjaga agamanya. Jadi mana mungkin dengan keyakinan sekuat itu kepada Islam, ia melakukan bunuh diri, padahal itu dilarang oleh Islam?

Dibunuh atau Bunuh Diri?

Sebagai seorang Agnelii, Edoardo mengetahui banyak rahasia Italia serta organisasi-organisasi Mafia dan Zionis. Ia menjadi berbahaya lantaran memeluk Islam dan memihak Revolusi Islam Iran. Terlebih ia juga berkampanye menentang Salman Rushdie di Italia dan mengutuk kejahatan Rezim Zionis di Palestina. Ia bahkan menghubungi Perdana Menteri dan Presiden Italia via telepon terkait masalah ini.

Edoardo sendiri sudah menduga ia akan menjadi sasaran orang-orang Zionis. Ia mengatakan kepada Konsuler Media Iran di Italia bahwa pada akhirnya, ia akan dibunuh lantaran masuk Islam. Kemudian mereka akan mengeklaim bahwa ia mati karena bunuh diri, kecelakaan, atau penyakit.

Salah satu hal mencurigakan terkait kasus Edoardo adalah tidak pernah ada penyelidikan menyeluruh terkait kematiannya. Jasadnya tidak diautopsi. Kematiannya juga langsung diumumkan sebagai bunuh diri. Bahkan sebelum polisi secara resmi mengumumkannya sebagai kasus bunuh diri, sejumlah koran telah mengabarkannya terlebih dahulu demi menggiring opini publik. Jasad Edoardo langsung dikuburkan pada siang sehari setelah kejadian demi menutup kesempatan penyelidikan lebih lanjut.

Setelah kematian Edoardo, sensor ketat diberlakukan terkait keislaman, kepercayaan, bahkan kunjungannya ke Iran. Berbagai pendapat koran-koran Iran, erutama Asosiasi Islam Alumnus Italia, terkait dugaan pembunuhannya sama sekali tidak diekspos.  Padahal, keluarga Agnelli adalah salah satu dinasti terbesar Italia. Pandangan apa pun tentang dinasti tersebut pasti akan segera diberitakan. PM Italia sendiri menyampaikan belasungkawa atas kematian Edoardo kepada keluarga Agnelli. Sebelum pertandingan Timnas Italia dan Inggris, seisi stadion mengheningkan cipta untuk Edoardo.

Usai kematian Edoardo, segala dokumen dan bukti terkait aktivitas dan kehidupannya dikumpulkan. Bahkan film dokumenter yang dibuat olehnya dan berada di Arsip Kanal 1 Italia, juga dikeluarkan dari Arsip stasiun televisi tersebut.

Beberapa tahun setelah pembunuhan Edoardo, salah satu kawan terdekatnya, Luca Gaetani Lavatelli juga dibunuh dengan skenario serupa. Dia adalah sahabat Edoardo dan datang bersamanya ke Iran. Dia juga menjadi Syiah di Iran. Luca juga salah satu keturunan bangsawan Italia. Ayahnya dikenal sebagai “Sultan Anggur Italia.” Keluarganya adalah salah satu keluarga paling terkenal di negara itu.

Dengan melihat nasib serupa Luca dengan Edoardo, tampaknya “bunuh diri palsu” adalah salah satu takik utama untuk melenyapkan para pemuda yang menolak tetap berada dalam kesesatan.

Dr. Marco Bava, yang merupakan teman akrab Edoardo, pernah memprotes cara penyelidikan kasus temannya. Di tahun 2001, Bava menulis surat ke Mahkamah Agung Italia. Dalam suratnya, Bava mengkritik proses penanganan kasus Edoardo. Dia mempertanyakan kenapa boneka manekin tidak digunakan untuk merekonstruksi adegan bunuh diri. Menurut Bava, bukti-bukti terkat pakaian dan sepatu Edoardo tidak mendukung klaim bunuh diri. Bava juga mengkritik karena jasad Edoardo tidak diautopsi.

Tags: