Sekjen Hizbullah Peringatkan Lebanon Tak Terjebak Negosiasi dengan Israel
POROS PERLAWANAN — Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qasim meminta Pemerintah Lebanon tidak menggantungkan harapan pada negosiasi langsung dengan Israel di tengah berlanjutnya serangan militer di wilayah Lebanon.
Pernyataan itu disampaikan dalam pesan resmi yang dibacakan Anggota Parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah saat peringatan gugurnya Komandan Perlawanan, Yusuf Hasyim pada Senin malam 11 Mei. Dalam pernyataannya, Syekh Qasim menilai Pemerintah Lebanon telah kehilangan momentum untuk mewujudkan gencatan senjata menyeluruh dan memperingatkan bahwa jalur yang ditempuh saat ini berpotensi memicu lebih banyak korban sipil.
“Prioritas Perlawanan hari ini bukan isu sampingan, melainkan menghadapi agresi yang terus berlangsung,” kata Syekh Qasim seperti dikutip Fars News Agency.
Syekh Qasim juga meminta otoritas Lebanon tidak mengulangi kesalahan politik dengan berharap pada negosiasi langsung bersama Israel. Menurutnya, stabilitas hanya dapat dicapai melalui ketahanan di medan pertempuran dan dukungan masyarakat terhadap Kelompok Perlawanan.
“Kami tidak akan kembali pada situasi sebelum 2 Maret lalu,” ujarnya merujuk pada kesepakatan gencatan senjata sebelumnya antara Lebanon dan Israel.
Ketegangan di perbatasan Lebanon-Israel terus meningkat meski kedua pihak sebelumnya sempat terlibat dalam mekanisme perundingan yang dimediasi internasional. Dalam laporan Fars News Agency disebutkan bahwa selama lebih dari satu tahun periode gencatan senjata, serangan dan operasi pembunuhan yang dilakukan Israel di wilayah Lebanon telah menewaskan lebih dari 500 warga Lebanon serta menghancurkan sejumlah desa dan permukiman perbatasan.
Di tengah kritik internal terhadap Pemerintah Lebanon dan berlanjutnya operasi militer Israel, Washington dijadwalkan menjadi lokasi putaran ketiga perundingan trilateral antara Lebanon dan Israel pada Kamis dan Jumat pekan ini di bawah pengawasan Amerika Serikat.
Delegasi Lebanon akan dipimpin mantan Duta Besar Lebanon untuk Amerika Serikat, Simon Karam bersama Duta Besar Lebanon di Washington, Nadi Hamadeh Moawad. Sementara dari pihak Israel diperkirakan hadir mantan menteri Ron Dermer bersama sejumlah pejabat militer dan diplomatik Israel.
Pernyataan terbaru Syekh Qasim memperlihatkan sikap Hizbullah yang tetap menolak pendekatan diplomatik langsung dengan Israel dan menempatkan jalur perlawanan bersenjata sebagai respons utama terhadap eskalasi konflik di kawasan perbatasan Lebanon selatan.
