Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Setelah 20 Tahun, Iran Patahkan Garis Utama Keamanan Israel

POROS PERLAWANAN – Dilansir Fars, salah satu pilar pertahanan terpenting Israel adalah kemampuannya untuk menyerang Lebanon kapan pun dan dengan cara apa pun yang diinginkannya. Hal ini diperkuat oleh Doktrin Dahiyeh pada tahun 2006. Namun pada tahun 2026, Iran mematahkannya dengan menciptakan perimbangan baru.

“Kebebasan bertindak Israel di Lebanon”, yang berarti “kemampuan untuk menyerang titik mana pun di Lebanon kapan pun diinginkan”, Ini adalah salah satu pilar inti keamanan yang telah didefinisikan untuk Zionis sedemikian rupa, sehingga Netanyahu dalam semua pernyataannya bersikeras bahwa meskipun tercapai kesepakatan antara Israel dan Lebanon, atau AS dan Iran, Tel Aviv tidak akan “menukar” kebebasannya untuk menyerang Lebanon.

Poin ini merupakan masalah yang melampaui Pemerintahan atau individu tertentu, yaitu Netanyahu. Ini diakui sebagai salah satu “kepentingan vital Rezim Zionis” di seluruh jajaran Pemerintahannya. Dalam hal ini, Doktrin Dahiyeh memiliki arti penting khusus bagi Israel.

Doktrin Dahiyeh adalah strategi militer utama bagi Rezim Zionis, yang diperkenalkan pada tahun 2006 oleh mantan Kepala Staf Umum Militer Israel, Jenderal Gadi Eizenkot. Menurut doktrin ini, ketika menghadapi pasukan Perlawanan, khususnya Hizbullah, Israel tidak boleh menyerang secara proporsional. Sebaliknya, skala serangannya harus sedemikian rupa sehingga menghancurkan aset militer, pasukan, dan bahkan infrastruktur sipil serta masyarakat umum kota.

Tentu saja, doktrin ini sejauh ini belum berhasil membawa kemenangan bagi Israel dalam isu-isu besar. Contoh utamanya adalah penerapan Doktrin Dahiyeh di Gaza untuk menghancurkan Hamas, yang pada akhirnya gagal. Namun, metode militer ini menimbulkan pembantaian dan kehancuran yang parah, hingga bahkan menuai kritik dari organisasi hak asasi manusia yang bersekutu dengan Israel.

Dalam beberapa hari terakhir, Israel bermaksud menerapkan Doktrin Dahiyeh di distrik Dahiya, Beirut. Namun, Iran terlebih dahulu memperingatkan bahwa mereka akan membalas dengan cara yang sama jika tindakan tersebut dilakukan. Iran menepati ancamannya segera setelah Israel menyerang Beirut.

Menurut sumber-sumber keamanan Israel, Rezim Zionis tidak percaya bahwa Teheran akan menindaklanjuti ancamannya. Namun, kekhawatiran utama bagi Zionis adalah munculnya perimbangan baru ini: “Serangan terhadap Beirut akan diikuti oleh serangan dari Teheran terhadap Tel Aviv.”

Akibatnya, dapat dikatakan bahwa setelah 20 tahun, Iran dan Hizbullah telah secara mendasar mengubah Doktrin Dahiyeh. Artinya, Israel telah beralih dari “strategi serangan tak terbatas terhadap Beirut” ke titik di mana “Iran tidak akan membiarkan serangan terjadi”.

Peristiwa ini menargetkan fondasi keamanan Zionis dan mempertanyakan kebebasan bertindak Tel Aviv di Beirut. Perlu dicatat bahwa pencapaian besar ini hanya terwujud melalui serangan militer dan tidak mungkin dicapai melalui perjanjian atau negosiasi apa pun.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *