Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Syekh Qasim Peringatkan Pemerintah Lebanon: Perlawanan Tidak Akan Serahkan Senjata

Sheikh Qassem Peringatkan Pemerintah Lebanon: “Perlawanan Tidak Akan Serahkan Senjata”

POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, ketegangan politik di Lebanon kembali memanas usai Pemerintah mengumumkan rencana kontroversial yang disebut-sebut berisiko melumpuhkan kekuatan pertahanan nasional. Dalam pidatonya pada peringatan Arbain Imam Husein a.s di Baalbek, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qasim mengecam keras keputusan Kabinet Lebanon yang menugaskan tentara nasional untuk mengendalikan seluruh persenjataan di bawah otoritas negara.

Syekh Qasim menyebut keputusan yang diambil pada Selasa 5 Agustus itu sebagai langkah “berbahaya” dan “memfasilitasi pembunuhan para pejuang Perlawanan”. Ia menyebut Pemerintah telah tunduk pada tekanan asing dan secara tidak langsung menjalankan agenda Israel-Amerika yang ingin membungkam Perlawanan, bahkan jika harus mengorbankan stabilitas internal.

“Jika kalian tidak mampu menghadapi musuh, serahkan pada kami. Jangan tarik tentara Lebanon ke konflik internal,” tegasnya, seraya menyampaikan keprihatinan bahwa kebijakan ini justru dapat memecah-belah bangsa dan menghapus legitimasi perjuangan yang telah lama dilakukan oleh Kelompok Perlawanan.

Rencana Pemerintah tersebut diputuskan dalam pertemuan Kabinet yang dipimpin Presiden Joseph Aoun, dan akan meminta Angkatan Darat untuk menyusun strategi pengonsolidasian senjata sebelum akhir 2025. Namun, langkah ini memicu kekhawatiran bahwa milisi Perlawanan termasuk Hizbullah akan kehilangan peran strategisnya dalam menjaga kedaulatan wilayah, terutama di perbatasan selatan yang kerap menjadi target agresi Israel.

Syekh Qasim menegaskan bahwa Perlawanan memperoleh legitimasi bukan dari negara, melainkan dari “darah para syuhada”. Ia memperingatkan bahwa Lebanon tidak akan mampu bertahan jika para pemimpinnya memilih untuk berlawanan satu sama lain, alih-alih bersatu melindungi Tanah Air.

Ia juga menyinggung ambisi ekspansionis Israel, termasuk pernyataan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu soal “Israel Raya” yang mencakup wilayah Lebanon, Yordania, Palestina, dan Suriah. “Bagaimana mungkin Pemerintah Lebanon diam terhadap ancaman semacam ini?” tanyanya.

Dalam pidatonya, Syekh Qasim juga menyampaikan belasungkawa atas gugurnya tentara Lebanon di Zibqin akibat ledakan sisa persenjataan Israel. Ia menyebut para tentara sebagai “syuhada Tanah Air” dan menyerukan agar tentara tidak dijadikan alat konflik politik.

Merujuk pada warisan perjuangan Karbala, ia menegaskan Perlawanan siap menghadapi segala bentuk konfrontasi untuk mempertahankan senjata dan kedaulatan. “Kemenangan sejati lahir dari pengorbanan. Kami tidak akan menyerah, sebagaimana Imam Hussein a.s tidak menyerah dalam menghadapi tirani,” ujarnya.

Syekh Qasim juga mengingatkan tentang kemenangan Hizbullah pada perang Juli 2006 melawan Israel, yang menurutnya berhasil membendung ambisi perluasan wilayah Israel selama hampir dua dekade.

Menutup pidatonya, ia kembali menegaskan pentingnya kesatuan nasional. “Negara ini tidak bisa dibangun oleh satu faksi saja. Kita harus bersatu atau kita semua akan hancur bersama,” ujarnya.

Ia pun menyampaikan dukungan penuh terhadap rakyat Palestina dan meyakini bahwa kemenangan mereka hanya tinggal menunggu waktu saja.

Tags: