Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Siapa ‘Mengail di Air Keruh’ Krisis Ukraina?

Siapa ‘Mengail di Air Keruh’ Krisis Ukraina?

POROS PERLAWANAN – Di saat krisis Ukraina telah berlangsung selama hampir 2 bulan dan hingga kini belum ada horizon terang untuk krisis tersebut, sebuah tim militer “Reaksi Cepat” yang dibentuk AS dan sejumlah sekutunya telah memulai aktivitasnya di Laut Merah pada Minggu 17 April lalu.

Dilansir al-Alam, aliansi militer baru ini mendeklarasikan eksistensinya di tengah krisis Ukraina pada Rabu pekan lalu. Ada sejumlah tujuan utama yang diincar oleh pembentukan aliansi militer ini:

Pertama, melindungi pasar energi dari ancaman-ancaman Rusia, yang terutama menyasar negara-negara Eropa.

Kedua, mendeklarasikan dukungan tak tertulis untuk Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, menyusul disingkirkannya Mansour Hadi yang merupakan pelaksana kebijakan-kebijakan Kubu Barat-Arab-Israel di Yaman.

Ketiga, melayangkan peringatan kepada Ansharullah soal urgensi perundingan dan berkompromi dengan Dewan Kepemimpinan Presiden, yang merupakan peluang terakhir Koalisi Agresor untuk selamat dari rawa-rawa Yaman.

Di hari-hari pertama krisis, UEA secara mengejutkan bersikap abstain terhadap resolusi Dewan Keamanan yang mengecam operasi militer Rusia. Namun dengan berlalunya beberapa waktu, motif UEA atas sikapnya itu pun terungkap, yaitu menarik simpati Moskow demi menyetujui direkomendasikannya Ansharullah sebagai kelompok teroris.

Sebagian negara juga memanfaatkan atmosfer internasional yang tidak tenang lantaran krisis Ukraina. Negara-negara ini kembali mengaktifkan kawan-kawan terlupakan mereka, yaitu Jabhat al-Nusra dan sebagian kelompok ISIS, di medan perang Ukraina.

AS berusaha keras memobilisasi Eropa untuk mengekor dirinya. Washington sejauh ini “cukup berhasil” mendekatkan sebagian negara Eropa, seperti Swedia dan Finlandia, ke NATO, meski sebelum ini mereka enggan bergabung dengan pakta militer ini.

Di tengah krisis Ukraina, AS juga berupaya keras untuk memperlemah ekonomi Rusia, termasuk posisi internasional dan kekuatan global negara ini. Salah satu bukti nyatanya adalah pemberlakuan sedikitnya 9000 sanksi atas Rusia hanya dalam tempo 50 hari terakhir. Selain itu, sejumlah pihak juga berpendapat, tenggelamnya kapal Moskva milik Rusia bukan didalangi oleh Tentara Ukraina, tapi pihak-pihak lain.

Permainan ganda Israel di tengah krisis ini mungkin bisa disebut sebagai contoh paling nyata “mengail di air keruh”. Di awal krisis, Israel sempat mencemaskan bahwa perundingan nuklir Iran di Wina akan dikalahkan oleh munculnya krisis Ukraina. Israel berusaha keras supaya perhatian AS dan Eropa yang teralih ke Ukraina tidak sampai membuat Iran meraih keuntungan dalam perundingan.

Namun dalam beberapa hari terakhir, Israel meningkatkan kecamannya atas operasi militer Rusia di Ukraina. Kecaman ini begitu keras sehingga Kemenlu Rusia memanggil Dubes Israel untuk menjelaskan sikap Menlu Israel, Yair Lapid.

Di pihak lain, Rusia pun tak tinggal diam dan membalas tingkah Israel dengan mengaktifkan sistem pertahanan udaranya di Suriah. Hasilnya adalah rontoknya salah satu dari 2 rudal Israel di langit Damaskus beberapa hari lalu.

Tags: