Loading

Ketik untuk mencari

Eropa

Sinn Féin Boikot Gedung Putih: Perlawanan Moral atas Genosida di Gaza

POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, langkah politik sarat pesan kembali ditunjukkan oleh Partai Republik Nasionalis asal Irlandia, Sinn Féin, yang memperjuangkan persatuan Irlandia dan keadilan sosial. Berakar dari tradisi perjuangan kemerdekaan dan proses perdamaian Irlandia Utara, Sinn Féin kini menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Irlandia serta memimpin Pemerintahan di Irlandia Utara.

Untuk tahun kedua berturut-turut, partai tersebut memboikot perayaan Hari St. Patrick di Gedung Putih. Keputusan ini bukan sekadar gestur diplomatik, melainkan pernyataan politik terbuka terhadap apa yang mereka nilai sebagai genosida yang terus berlangsung di Gaza.

Presiden Sinn Féin, Mary Lou McDonald mengonfirmasi bahwa partainya tidak akan menghadiri acara tahunan itu. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa kehadiran di Gedung Putih akan bertentangan dengan komitmen partai terhadap penegakan hukum internasional dan solidaritas terhadap rakyat Palestina.

“Situasi di Gaza dan Tepi Barat tetap mengerikan. Serangan Israel belum berakhir. Genosida terus berlanjut,” tegas McDonald.

Pernyataan tersebut menjadi kritik langsung terhadap normalisasi hubungan diplomatik yang tetap berjalan di tengah krisis kemanusiaan.

Bagi Sinn Féin, politik tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab moral. Menghadiri seremoni simbolik di pusat kekuasaan global, sementara ribuan warga sipil terus menjadi korban, dianggap sebagai bentuk pembiaran. “Sangat penting bagi kami menggunakan suara untuk menuntut agar hukum internasional ditegakkan dan perdamaian serta keadilan diwujudkan,” tambah McDonald.

Meski memboikot acara tersebut, McDonald tetap menekankan bahwa hubungan rakyat Irlandia dengan Amerika Serikat memiliki arti penting. Ia menyebut ikatan historis Irlandia-Amerika telah memainkan peran besar dalam proses perdamaian di Irlandia Utara dan dalam kampanye reunifikasi Irlandia. Sikap tegas terhadap Gaza, menurutnya, tidak berarti memutus hubungan antarbangsa, melainkan menjaga integritas nilai.

Sikap berbeda datang dari Wakil Menteri Pertama Irlandia Utara, Emma Little-Pengelly. Ia memastikan akan tetap bertolak ke Washington. Menurutnya, undangan tersebut merupakan peluang strategis untuk mempromosikan kepentingan Irlandia Utara di panggung internasional.

Little-Pengelly menyatakan kunjungan itu memberi kesempatan hampir tak tertandingi untuk bertemu dengan Pemerintahan paling berpengaruh di dunia, serta menjalin komunikasi dengan pelaku usaha dan tokoh politik Amerika. Baginya, keterlibatan tidak identik dengan dukungan terhadap setiap kebijakan yang diambil tuan rumah.

Tanpa secara langsung mengkritik Sinn Féin, ia mengisyaratkan bahwa menolak undangan secara berulang dapat membawa konsekuensi diplomatik. “Pintu tidak akan selalu terbuka,” ujarnya, menyiratkan bahwa akses politik global memerlukan kehadiran aktif.

Namun bagi Menteri Pertama Irlandia Utara dari Sinn Féin, Michelle O’Neill, keputusan untuk tidak hadir bukanlah soal strategi akses, melainkan soal kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa sejak keputusan boikot tahun lalu, tidak ada perubahan signifikan dalam kondisi rakyat Palestina.

“Kita melihat pemboman tanpa pandang bulu setiap hari. Kita melihat keluarga-keluarga terusir dari rumah mereka. Dunia internasional terus berpaling,” ujarnya.

O’Neill menyatakan bahwa jabatan publik membawa tanggung jawab moral untuk bersuara bagi mereka yang tertindas.

Baginya, menghadiri perayaan di tengah penderitaan yang belum mereda hanya akan mengirimkan pesan yang salah. “Ini tentang kemanusiaan. Ini tentang melakukan hal yang benar,” tegasnya.

Perbedaan sikap ini mencerminkan dua pendekatan dalam politik internasional yaitu pragmatisme diplomatik dan konsistensi moral. Di satu sisi, ada keyakinan bahwa keterlibatan membuka ruang pengaruh. Di sisi lain, ada pandangan bahwa legitimasi simbolik terhadap kekuasaan yang dinilai membiarkan tragedi kemanusiaan adalah batas yang tak bisa dinegosiasikan.

Dengan latar sejarah perjuangan panjang melawan ketidakadilan dan kolonialisme, sikap Sinn Féin terhadap Gaza mempertegas identitas politiknya sebagai partai yang memosisikan diri di barisan solidaritas global. Di tengah gemerlap diplomasi Washington, mereka memilih absen dan menjadikan ketidakhadiran sebagai bentuk perlawanan.

Tags: