Loading

Ketik untuk mencari

Profil

Syahid Ayatullah Ali Khamenei: Ia yang Menepati Janji

POROS PERLAWANAN – Di jalan-jalan berliku di Mashhad, tempat aroma buku-buku tua bercampur dengan lantunan azan, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei memulai kehidupan yang kelak akan memadukan iman, intelektualitas, dan takdir nasional.

Sejak kecil, ia mendalami studi Islam dan warisan sastra kotanya, hingga tumbuh menjadi sosok yang pengaruhnya jauh melampaui batas-batas hauzah.

Sejak awal, ia aktif secara sosial dan politik, terlibat langsung dalam kegiatan perlawanan terhadap monarki Pahlavi yang didukung Barat.

Setelah Revolusi Islam 1979, ia menjadi presiden dan memimpin dari garis depan dalam perang Pertahanan Suci. Ia menjadi teladan bagi para pejuang muda.

Lompat ke periode 2025–2026. Iran menghadapi agresi asing dua kali—pertama pada Juni 2025, lalu kembali pada Februari 2026. Kedua perang tersebut, yang disebut tanpa provokasi dan ilegal, menjadi momen penting bagi Iran untuk menunjukkan kemampuan militernya yang luar biasa kepada dunia melalui Operasi Janji Sejati.

Kemudian datang pagi 28 Februari. Sebuah rudal AS-Israel menghantam kantor rumahnya di pusat Teheran, hingga ia syahid saat sedang membaca Al-Qur’an dalam keadaan berpuasa.

Itulah hari pertama Perang Ramadan. Empat puluh hari kemudian, perang berakhir. Amerika Serikat menerima resolusi 10 poin yang diajukan oleh Iran.

Hari “kemenangan bersejarah” Iran bertepatan dengan hari ke-40 sejak wafatnya Pemimpin Revolusi Islam, yang diikuti dengan aksi massa besar pada hari-hari setelahnya.

Seperti disepakati para pakar militer, kemenangan melawan apa yang disebut “adidaya” dan sekutunya yang ilegal di Asia Barat ini menjadi bukti visi pemimpin yang telah gugur.

Pembunuhannya mengguncang dunia—bukan hanya karena kehilangan seorang pemimpin politik dan spiritual, melainkan juga karena hilangnya figur ayah yang telah membentuk tata kelola, keamanan, kebijakan sosial, dan identitas budaya negara selama lebih dari tiga dekade.

Perjalanan inspiratifnya ditempa dalam gejolak Revolusi Islam dan pembangunan tata kelola serta ketahanan nasional yang penuh perjuangan—sebuah jalan yang meninggalkan jejak mendalam pada Republik Islam Iran.

Kini, ketika bangsa Iran merayakan kemenangan bersejarah melawan mesin perang AS-Israel setelah 40 hari pertempuran tanpa henti, saatnya mengingat kontribusi Ayatullah Khamenei terhadap kemenangan ini—dan merefleksikan posisi Angkatan Bersenjata Iran saat ini.

 

Kepemimpinan Pertahanan dan Militer

Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat lanjut di hauzah, perjalanan Ayatullah Khamenei segera diuji oleh gejolak yang melanda Iran saat itu.

Rezim Pahlavi yang represif dan didukung Barat, dengan kekuasaan terpusat dan mengabaikan martabat serta suara rakyat, berbenturan dengan gelombang semangat revolusioner yang terus berkembang.

Ia aktif dalam gerakan akar rumput melawan rezim tersebut dan sempat dipenjara oleh aparat pemerintah.

Namun, perang Pertahanan Suci pada 1980-an setelah Revolusi Islam-lah yang benar-benar menyingkap kedalaman tekadnya. Ketika perang dipaksakan kepada Iran dari wilayah Khuzestan, ia tidak mundur ke posisi administratif.

Sejak hari-hari awal perang, ketika pasukan Rezim Ba’ath pimpinan Saddam Hussein menginvasi wilayah Iran, ia memegang berbagai peran sekaligus: perwakilan Imam Khomeini di Dewan Pertahanan Tertinggi, wakil rakyat Teheran di Majelis Syura Islam, serta pemimpin salat Jumat Ibu Kota. Namun, alih-alih membatasi diri di Komite dan kantor, ia memilih keterlibatan langsung di garis depan.

Dengan izin Pemimpin Revolusi Islam, Imam Khomeini, ia bergabung dengan Komandan Iran Mostafa Chamran di garis depan Ahvaz, menghadapi langsung ancaman agresor.

“Ia bukan tipe komandan yang hanya berada di balik peta dan perlindungan,” kenang salah satu rekannya.

Ayatullah Khamenei bergerak di Khorramshahr, Susangerd, dan Dobb-e Hardan, melintasi medan berbahaya, bahkan hingga ke tepi sungai dekat garis musuh.

“Bahkan ketika garis depan sangat berbahaya, ia tetap kembali ke Teheran untuk memimpin salat Jumat, lalu kembali ke medan perang tanpa henti. Setelah selamat dari upaya pembunuhan pada 27 Juni 1981 di Masjid Abuzar, ia tidak melemah, melainkan terjaga sebagai cadangan Ilahi untuk masa depan Revolusi,” kata mantan Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Yahya Rahim Safawi, dalam sebuah wawancara.

Safawi menggambarkan Ayatullah Khamenei sebagai “tulang punggung strategis Kawasan, Komandan yang berdiri di antara kehancuran dan kelangsungan hidup. Tanpanya, Suriah akan jatuh. Irak akan menyusul. Sebagai Pemimpin dunia Islam, ia berdiri bersama negara-negara tersebut di masa tergelap mereka, dan dengan keteguhan itu mengubah arah sejarah Kawasan.”

Pengaruh Ayatullah Khamenei juga meluas ke ranah strategis Iran.

Mantan Komandan Pasukan Dirgantara IRGC, mendiang Amir Ali Hajizadeh, mengenang: “Bahkan di hari-hari awal, ketika peti yang berisi dua rudal pertama kami belum dibuka, ia masuk ke ruangan dan menatap langsung para spesialis, menenangkan mereka. ‘Mengapa belum dibuka? Mengapa belum dirakit? Mengapa belum dimulai?’ Ia menanamkan keberanian pada kami. Jangan takut. Maju terus, katanya.”

Di bawah bimbingannya yang inspiratif, industri pertahanan Iran berkembang dari ketergantungan pada perangkat impor menjadi produsen senjata berstandar global.

Rudal pertahanan udara mencapai terobosan yang sebelumnya dianggap mustahil. Pengembangan drone, yang hampir ditinggalkan setelah perang, dihidupkan kembali atas desakannya, dengan integrasi kecerdasan buatan untuk memperluas jangkauan operasional melampaui kendali manusia.

Di bawah kepemimpinannya, Iran menjadi pemimpin global dalam teknologi rudal dan drone, yang digunakan secara efektif dalam Operasi Janji Sejati 4, memberikan pukulan besar kepada musuh sebagaimana terlihat dalam 99 gelombang operasi sejak 28 Februari.

“Pengetahuannya tentang kecerdasan buatan begitu luas sehingga saya kesulitan mengimbanginya,” ujar Hajizadeh.

“Pertanyaannya menunjukkan dengan jelas: jika kita ingin maju, kita harus memperluas studi kita ke setiap lini depan teknologi. Ayatullah Khamenei bukan sekadar memantau pekerjaan kami; ia adalah mesin penggerak, pendukung teguh dalam membangun kapasitas pertahanan Iran.”

 

Pemerintahan: Revolusi, Partisipasi, dan Kemandirian Budaya

Perhatian terhadap detail dan visi ke depan yang sama juga mencirikan pendekatannya terhadap pemerintahan.

Warisan pemerintahan despotik era Pahlavi yang didukung Barat meninggalkan kondisi penutupan politik dan tirani individu, di mana kehidupan, harta, dan kehormatan rakyat Iran diperlakukan sebagai milik pribadi Shah.

Ayatullah Khamenei berupaya merancang model partisipasi revolusioner yang berlandaskan hukum, kemandirian budaya, dan keterlibatan warga.

Selama masa kepemimpinannya sebagai Pemimpin Revolusi Islam, ia menekankan dimensi budaya sebagai ukuran utama keberhasilan Revolusi Islam.

Ia memandang Revolusi Islam bukan sekadar perubahan politik, melainkan transformasi budaya yang membangkitkan masyarakat yang lama dikondisikan untuk memandang dirinya sebagai inferior.

“Sejak kecil, masyarakat dikondisikan untuk menginternalisasi gagasan bahwa menjadi orang Iran berarti rendah dan tidak bermutu,” ujarnya suatu ketika. “Revolusi membangkitkan kepercayaan diri, menumbuhkan keyakinan diri, dan menempatkan Iran pada jalur menuju kemandirian budaya.”

Melalui Pemilu yang terstruktur, mobilisasi publik, dan partisipasi sipil, pemimpin yang gugur tersebut berupaya menanamkan akuntabilitas dan kohesi sosial, menciptakan mekanisme yang memungkinkan sirkulasi kekuasaan melalui cara yang legal dan representatif.

Reformasi ini tetap menjadi aspek penentu tata kelola Iran pasca-Revolusi, memadukan prinsip-prinsip agama dengan politik partisipatif.

 

Visi Ekonomi: Tidak Mementingkan Diri Sendiri, Kemandirian, dan Pembangunan Tanpa Ketergantungan pada Minyak

Visi strategis Ayatullah Khamenei juga mencakup ekonomi sebagai pilar utama kekuatan nasional, dengan penekanan pada perencanaan berkelanjutan dan etika kerja.

Slogan tahunan, mulai dari “Jihad Ekonomi” (2011–2012) hingga “Ekonomi Perlawanan” (2016–2017), menunjukkan integrasi prioritas ekonomi dalam kerangka ideologis Pemerintahan menurut pandangannya.

Jauh dari sekadar bereaksi terhadap sanksi Barat yang tidak manusiawi dan ilegal setelah Revolusi Islam 1979, arahan ekonominya justru telah mendahului krisis, dengan menekankan penghematan, produksi nasional, dukungan terhadap tenaga kerja, dan disiplin finansial.

Ia menekankan pentingnya ekonomi tanpa ketergantungan pada minyak, dengan berargumen bahwa ketergantungan pada ekspor bahan mentah membuat negara rentan terhadap manipulasi dan serangan harga.

Produksi bernilai tambah dan pertumbuhan industri domestik, menurutnya, merupakan kunci kedaulatan dan stabilitas jangka panjang negara dalam menghadapi tekanan eksternal.

Filosofi ekonominya memadukan perencanaan rasional dengan imperatif religius, dengan penekanan pada keadilan, kesetaraan, dan tanggung jawab sosial.

Pada 1996, ia menyatakan, “Jagalah sumber daya keuangan negara, lawan pemborosan dan sikap berlebihan, serta tentang mereka yang merusak properti publik dan privat.”

Prinsip-prinsip ini tetap menjadi inti arah pembangunan Iran, mencerminkan visi ke depan, pragmatisme, dan panduan moralnya.

 

Kontribusi sastra: Menjaga Identitas Budaya

Jauh sebelum kepemimpinan politik dan militernya, Ayatullah Khamenei menunjukkan dedikasi seumur hidup terhadap sastra dan puisi Persia.

Dalam masa penuh gejolak setelah Revolusi Islam, ia mengumpulkan para penyair terkemuka untuk membantu membentuk identitas budaya nasional.

Bahkan di tengah tanggung jawab politik yang berat, ia tetap menghadiri pertemuan penyair revolusioner, mengkritisi karya mereka, dan mendorong diskursus sastra.

Pertemuan-pertemuan ini kemudian berkembang menjadi acara publik yang diadakan setiap tanggal 15 pada hari kelahiran Imam Hasan (a.s), cucu Nabi Muhammad s.a.w.

Acara tersebut diadakan untuk menghormati puisi yang berkomitmen dan sarat nilai, serta mengingatkan para pembuat kebijakan budaya akan pentingnya sastra bagi identitas nasional.

Karya literernya sangat luas, mencakup tulisan tentang fikih, sejarah, tafsir Al-Qur’an, serta sistem intelektual Revolusi Islam. Ia juga menulis banyak buku puisi.

Beberapa karyanya yang terkenal antara lain: “Empat Buku Utama tentang Ilmu Rijal (Kritik terhadap Perawi Hadis)”, “Dari Kedalaman Doa”, “Semangat Tauhid”, “Nabi Pembawa Rahmat”, “Kharisma Husain (a.s)”, “Pemerintahan Islam”, serta “Kuliah tentang Musik oleh Ayatullah Khamenei”.

Terjemahan dan analisisnya menunjukkan penguasaan atas sastra Persia dan Arab, serta pemahaman mendalam terhadap puisi klasik dan mistik.

“Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menghafal tak terhitung banyaknya bait dari Masnavi dan ghazal para penyair gaya India, dan membagikannya kepada para ulama serta pencinta sastra,” ujar Gholam Ali Haddad Adel selaku Penasihat senior Ayatullah Ali Khamenei sekaligus Presiden Akademi Bahasa dan Sastra Persia, dalam sebuah wawancara terbaru.

Ia menambahkan bahwa kepekaan sastra Ayatullah Khamenei tidak dapat dipisahkan dari kehidupan spiritual dan politiknya, yang memperkuat keterkaitan antara Islam dan identitas Persia yang menjadi inti dari visi pemimpin tersebut terhadap Iran.

Perempuan dan masyarakat: Martabat, Hak, dan Pemberdayaan

Pendekatan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei terhadap hak dan pemberdayaan perempuan mencerminkan perpaduan antara prinsip-prinsip agama dan kemajuan sosial.

Ia menggambarkan posisi perempuan dalam Islam sebagai “tinggi dan mulia”, serta menekankan bahwa ungkapan-ungkapan Al-Qur’an mengenai identitas perempuan merupakan “yang paling luhur dan paling progresif”.

Ia membandingkan hal tersebut dengan kegagalan budaya kapitalis Barat, dengan menegaskan bahwa Islam memberikan ketentuan mengenai tata busana serta dorongan terhadap pernikahan yang selaras dengan fitrah perempuan dan kebutuhan masyarakat.

Ia menekankan keadilan dalam kehidupan sosial dan keluarga sebagai hak utama perempuan: “Menjaga keamanan, kesucian, dan martabat juga merupakan bagian dari hak-hak mendasar perempuan. Berbeda dengan kapitalisme Barat yang menginjak-injak martabat perempuan, Islam menekankan penghormatan penuh terhadap perempuan,” ujarnya dalam sebuah pidato pada 2025.

Sebagai Pemimpin Republik Islam, Ayatullah Khamenei merayakan pencapaian perempuan di berbagai bidang seperti sains, olahraga, riset, politik, dan kesehatan. Ia sering memandang pencapaian tersebut sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah Iran dan setara dengan laki-laki.

“Sepanjang sejarahnya, Iran tidak pernah memiliki bahkan seper-seratus dari jumlah ilmuwan, pemikir, dan intelektual perempuan seperti saat ini. Republik Islamlah yang mengangkat perempuan dan memungkinkan kemajuan mereka di semua bidang penting,” ujar Ayatullah Khamenei saat berbicara dalam sebuah pertemuan perempuan pada 2025.

“Perempuan itu seperti bunga. Mereka bukan pelayan,” katanya dalam salah satu pidatonya yang banyak beredar, seraya menekankan bahwa pekerjaan domestik dapat diberikan kompensasi finansial dan bahwa ketenangan psikologis perempuan sangat penting bagi keharmonisan keluarga.

Ia selalu menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kekuatan yang saling melengkapi.

“Jika kita melihat secara menyeluruh, kita akan menyadari bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Beberapa keistimewaan diberikan kepada perempuan dan sebagian lainnya kepada laki-laki, berdasarkan karakteristik alami yang dianugerahkan Allah kepada mereka.”

Visi Ayatullah Khamenei memandang perempuan sebagai partisipan aktif dalam masyarakat sekaligus sebagai pembawa pengaruh budaya dan spiritual, yang membentuk baik keluarga maupun komunitas yang lebih luas.

“Fakta bahwa terdapat begitu banyak perempuan yang berpengetahuan, terdidik, berpikiran luas, dan unggul—baik dalam bidang intelektual maupun praktis—di masyarakat kita merupakan salah satu kebanggaan terbesar Republik Islam. Ini adalah berkah yang luar biasa dan sumber kehormatan yang besar,” ujarnya dalam sebuah pertemuan pada 2018.

Kehidupan Ayatullah Ali Khamenei terbentang di seluruh spektrum sejarah modern Iran. Ia bukanlah otoritas yang jauh, melainkan seorang pemimpin yang berada di pusat perjuangan, tanggung jawab, dan pembangunan bangsa.

Setiap bidang mencerminkan jejak seorang pemimpin yang terus berdialog dengan tekanan, krisis, dan aspirasi rakyat yang ia yakini harus ia pertanggungjawabkan.

Kepemimpinannya melahirkan modernisasi militer, restrukturisasi ekonomi, pengembangan keilmuan agama, serta perdebatan moral-etis yang membentuk peran perempuan dalam masyarakat.

Warisannya tecermin dalam pembangunan berkelanjutan sebuah negara yang kuat secara militer, dinamis secara budaya, kohesif secara sosial, dan tangguh secara ekonomi—dipandu oleh prinsip iman, keadilan, dan martabat nasional.

Di Iran dan dunia Islam secara lebih luas, jejak Ayatullah Khamenei tetap bertahan: sebuah kehidupan di mana pengabdian, intelektualitas, dan tindakan berpadu, meninggalkan cetak biru kepemimpinan yang berakar pada tanggung jawab, visi ke depan, dan pengabdian tanpa henti.

Oleh: Humaira Ahad

Sumber: Press TV

Tags: