Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Syahid Sayyid Hasan Nasrallah: Pemimpin Abad Ini dan Ikon Abadi Perlawanan (Akhir)

Media Zionis: Ketenangan Nasrallah Membuat Kita Pantas Khawatir

Hizbullah dan Senjata: Antara Identitas, Hak, dan Kedaulatan

POROS PERLAWANAN – Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qasim menegaskan bahwa mengidentikkan Hizbullah semata dengan senjatanya adalah penyederhanaan yang keliru. Hizbullah adalah proyek, doktrin, dan jalur perjuangan, bukan sekadar kekuatan bersenjata.

“Hizbullah adalah sebuah garis ideologis yang berakar pada keadilan dan perlawanan. Senjata adalah alat, bukan identitas. Jika senjata kami menjadi alasan Lebanon kuat, maka upaya pelucutan senjata adalah proyek pelemahan nasional.”

Ia menolak keras wacana pelucutan senjata Hizbullah, menyebutnya sebagai upaya membuka celah baru bagi intervensi asing dan agresi Zionis.

Senjata yang Menjaga Martabat dan Kedaulatan Lebanon

Syekh Qasim memaparkan catatan panjang prestasi Hizbullah dalam menjaga integritas wilayah dan keamanan nasional, dari:

1. Pengusiran penjajah Zionis pada tahun 2000,
2. Kemenangan dalam Perang Juli 2006,
3. Stabilitas keamanan hingga 2023.

“Selama dua dekade, Lebanon terlindungi bukan karena perjanjian internasional, tetapi karena keberadaan Perlawanan. Kami bertanya: Apa kontribusi mereka yang ingin melucuti senjata Hizbullah? Di mana rekam jejak keberhasilan mereka?”

Ia menyebut bahwa mereka yang menyerukan pelucutan senjata justru punya catatan membawa bencana ke Lebanon: ISIS, perang saudara, pendudukan asing, dan kehancuran sosial.

Hizbullah Bukan Ancaman, Tapi Garansi Eksistensi Lebanon

Kepada mereka yang menyebut Hizbullah sebagai ancaman, Syekh Qasim menegaskan: “Perlawanan tidak pernah mengancam Lebanon. Ancaman datang dari mereka yang menjual kedaulatan demi kekuasaan, memicu fitnah, dan membuka jalan bagi pendudukan baru. Hizbullah hadir agar Lebanon tetap hidup dan merdeka.”

Ia menekankan pentingnya konsensus nasional yang murni, bukan sebagai topeng kepentingan elite, tetapi sebagai dasar menjaga eksistensi negara untuk semua rakyatnya.

“Sayap”? Kami Bukan Burung. Kami Barisan yang Teratur.

Menanggapi spekulasi media tentang adanya “sayap” atau faksi di internal Hizbullah, Syekh Qasim menyindir: “Kalau ada sayap, seharusnya bisa terbang, kan? Namun saya tidak melihat sayap di tubuh Hizbullah.”

Ia menegaskan bahwa Hizbullah adalah satu entitas dengan kepemimpinan tunggal, disiplin internal tinggi, dan sistem pengambilan keputusan kolektif melalui Dewan Syura.

Prioritas Strategis: Melanjutkan Jalan Syahid Sayyid Hasan Nasrallah

Syekh Qasim menegaskan bahwa prioritas utama Hizbullah saat ini adalah menjaga dan meneruskan garis ideologis Syahid Sayyid Hasan Nasrallah, termasuk dalam aspek:

1. Pendidikan ideologis,
2. Politik strategis,
3. Budaya perlawanan,
4. Komitmen penuh pada pembebasan Palestina sebagai poros cita-cita utama.

“Musuh kita satu, keyakinan kita satu, dan cita-cita kita adalah pembebasan. Persatuan umat Islam adalah dasar kekuatan kita. Fitnah Sunni-Syiah adalah proyek musuh, bukan proyek kita.”

Iran: Pilar Loyalitas, Kehormatan, dan Dukungan

Terkait hubungan dengan Republik Islam Iran, Syekh Qasim menyatakan bahwa Iran adalah sekutu terbesar Hizbullah, dan hubungan ini bukan hubungan subordinasi, melainkan kemitraan strategis berdasarkan visi dan misi yang sama.

“Apakah Anda mengenal entitas yang lebih terhormat daripada kepemimpinan Republik Islam Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)? Mereka tidak pernah memaksakan apa pun kepada kami. Dukungan mereka adalah dukungan saudara, bukan perintah komando.”

Ia menyampaikan salam dan rasa hormat kepada:

1. Bangsa Yaman dan Ansharullah,
2. Bangsa Irak, Marja’iyah, dan Hashd al-Shaabi, dan
3. Seluruh Poros Perlawanan dari Teheran hingga Gaza.

Penegasan: Kami Akan Jaga Poros Ini dan Membangunnya Lebih Kuat

Sebagai penutup, Syekh Naim Qasim menyampaikan: “Hizbullah akan menjaga dan memperkuat hubungan strategisnya dengan seluruh anggota Poros Perlawanan. Kita bersatu bukan karena perjanjian tertulis, tetapi karena darah yang tertumpah, keyakinan yang sama, dan musuh yang sama.”

Syahid Sayyid Hasan Nasrallah: Pemimpin Abad Ini dan Ikon Abadi Perlawanan

Menutup wawancaranya, Syekh Naim Qasim mengangkat kenangan dan penghormatan mendalam kepada Syahid Sayyid Hasan Nasrallah, menyebutnya sebagai “pemimpin yang tak tertandingi dalam sejarah modern”. Dalam ungkapan yang sarat makna, beliau menegaskan bahwa Sayyid Hasan Nasrallah tidak hanya menjadi sosok karismatik yang dicintai umat, tetapi juga pilar spiritual dan strategis yang membentuk wajah perlawanan kontemporer.

“Syahid Sayyid Hasan Nasrallah adalah pemimpin yang tidak dapat digantikan,” ujar Syekh Qasim. “Ia adalah kombinasi langka antara kebijaksanaan, keikhlasan, keberanian, dan ketajaman spiritual. Ia membawa nilai-nilai agama ke medan pertempuran dengan kemurnian iman dan integritas yang tidak tergoyahkan. Iman tidak lagi sekadar konsep teologis; di tangan beliau, iman menjadi strategi perlawanan.”

Lebih lanjut, Syekh Qasim menggambarkan bahwa kepemimpinan Syahid Nasrallah membentuk arsitektur moral dan politik perlawanan modern. Di bawah komandonya, Hizbullah bukan hanya menjadi kekuatan militer regional, melainkan juga simbol keadilan, kehormatan, dan penolakan total terhadap dominasi Zionis-Amerika di Kawasan.

“Kami memiliki hubungan yang amat dalam dan istimewa,” kata Syekh Qasim dengan nada penuh haru. “Pertemuan bilateral kami yang biasanya dilakukan secara rahasia tiap satu atau dua tahun selalu menjadi momen strategis dan emosional. Dalam salah satu pertemuan itu, saya tiba-tiba berkata kepadanya: ‘Sayyid, saya mencintaimu.’ Dan ia menjawab dengan senyum lembut, ‘Engkau ada sebelum aku, dan aku juga mencintaimu’.”

Dalam pesan terakhirnya kepada sang Syahid, Syekh Qasim menyampaikan perasaan kehilangan yang mendalam namun penuh keyakinan dan kesetiaan: “Saya sungguh merindukanmu, wahai Sayyid. Tidak ada hari tanpa kehadiranmu dalam pikiran kami. Engkau meringankan beban kami semua, terutama saya. Pidatomu selalu membawa ketenangan, kepastian, dan kekuatan di saat yang paling genting. Kini engkau telah menggapai puncak kemuliaan, memperoleh medali tertinggi yang bisa didapatkan oleh seorang mujahid sejati, kesyahidan. Kami bersumpah di hadapan Allah dan di hadapan darah sucimu bahwa kami tidak akan mundur. Para pengikutmu tetap setia, dan jalan yang engkau rintis tidak akan pernah padam.” []

Tags: