Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Takfiri ISIS Jadikan Gereja Sasaran Teror, Minoritas Kristen Suriah Kembali Jadi Korban

POROS PERLAWANAN – Ledakan dahsyat mengguncang Gereja Mar Elias di distrik Dweila, Damaskus, pada Minggu 22 Juni, menewaskan sedikitnya 20 jemaat yang sedang beribadah. Serangan terjadi bertepatan dengan perayaan Hari Raya Semua Orang Suci Antiokhia, menjadikannya simbol tragis dari kekerasan sektarian yang terus membayangi minoritas Kristen di Suriah.

Menurut laporan RIA Novosti, saksi mata menyebut pelaku mengenakan rompi bom dan meledakkan diri di tengah misa. Foto-foto yang dirilis SANA menunjukkan kondisi gereja yang hancur: dinding hangus, bangku kayu hancur, dan lantai yang berlumuran darah.

Kelompok Takfiri ISIS, yang kerap menargetkan kelompok selain dirinya, mengeklaim bertanggung jawab. Laporan dari Al Mayadeen menyebutkan bahwa serangan ini merupakan bagian dari rangkaian aksi mereka terhadap komunitas minoritas di bawah Pemerintahan transisi pimpinan Al-Jolani.

Respons Internasional: Kecaman Kosong, Kompromi Moral?

Kecaman segera berdatangan. Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam menyebut insiden itu “tindakan kriminal yang keji”. Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Geir Pedersen menyerukan penghentian kekerasan terhadap warga sipil dan tempat ibadah.

Namun, di balik pernyataan publik tersebut, respons politik justru menimbulkan tanda tanya. Amerika Serikat diketahui menangguhkan sebagian Caesar Act, sementara Uni Eropa melonggarkan sanksi ekonomi terhadap Suriah. Keduanya mengeklaim langkah tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap stabilisasi Kawasan.

“Ini kompromi moral,” ujar seorang diplomat Eropa di New York. “Melepaskan tekanan tanpa jaminan perlindungan hak-hak sipil dan minoritas sama saja dengan menutup mata terhadap pelanggaran.”

Minoritas dalam Ketakutan, Dunia dalam Keheningan

Tragedi Mar Elias bukan kasus terisolasi. Komunitas Kristen di Suriah terus menjadi sasaran, baik dari sisa-sisa ekstremis maupun ketidakpastian politik di bawah Pemerintahan baru Ahmad al-Sharaa, eks-komandan kelompok militan HTS.

Banyak yang membandingkan kondisi ini dengan kasus-kasus serupa di negara lain, termasuk Indonesia. Serangan bom terhadap Gereja Oikumene di Samarinda (2016), yang menewaskan seorang balita, menjadi pengingat bahwa kekerasan terhadap rumah ibadah adalah ancaman global yang tak mengenal batas geografis.

Tags: