Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Trik Baru Israel Putarbalikkan Fakta di Gaza: Sangkal Genosida Sistematis dan Tuding Bukti Kelaparan sebagai ‘Rekayasa’

Komandan Israel: Pembunuhan 50 Ribu Orang Palestina ‘Urgen untuk Dilakukan’

POROS PERLAWANAN — Rezim Israel, yang selama beberapa dekade mengandalkan strategi penyangkalan untuk menutupi tindakannya di mata dunia, kini menggunakan taktik baru untuk membingkai ulang peristiwa di Gaza.

Mengutip Al-Mayadeen pada Jumat malam 5 September, mesin propaganda Israel, bersama dengan aparat Militer Tel Aviv, intensif membenarkan dan memutarbalikkan kenyataan akibat tragedi kemanusiaan di Gaza sejak awal konflik. Majalah Israel, 972+ melaporkan bahwa propaganda ini dirancang untuk membentuk persepsi publik agar penderitaan warga Gaza tampak direkayasa atau pantas diterima.

Meski berlimpah bukti berupa gambar dan video pembantaian warga sipil, anak-anak kelaparan, dan permukiman hancur, media dan pejabat Israel menyebut dokumentasi tersebut palsu atau bagian dari konspirasi yang menuduh warga Gaza dan organisasi HAM memalsukan fakta. Fenomena ini, yang dikenal sebagai “Pallywood”, menegaskan tuduhan bahwa penderitaan Palestina adalah hasil produksi film yang sistematis.

Kasus Muhammad al-Durra, bocah berusia 12 tahun yang gugur di Gaza pada September 2000, menjadi simbol Intifada Kedua. Rekaman kematiannya sempat dipertentangkan oleh Israel dan pendukungnya melalui ratusan jam analisis dan dokumenter yang berusaha mendiskreditkan bukti visual.

Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu menyebut situasi kemanusiaan Gaza sebagai “ilusi krisis kemanusiaan”, sementara Menteri Luar Negeri Gideon Sa’ar menyebut foto anak-anak Palestina yang kelaparan sebagai “realitas virtual”, dengan tudingan bahwa gambar itu sengaja dimanipulasi atau diambil dari sumber lain, termasuk menggunakan teknologi kecerdasan buatan.

Menteri Kebudayaan Israel, Amihai Eliyahu menambahkan bahwa kelaparan di Gaza sengaja dibesar-besarkan, dengan menyatakan, “Ketika Anda diperlihatkan foto anak-anak yang kelaparan, perhatikan baik-baik, dan Anda akan selalu menemukan anak gemuk di sebelahnya yang makan dengan lahap. Ini kampanye yang direncanakan!”

Pada tahap berikutnya, pejabat Israel mencoba membenarkan kebijakan militer mereka terhadap warga Gaza, dengan alasan bahwa tidak ada bangsa yang memberi makan musuhnya, dan mengaitkan bencana kelaparan dengan keberadaan Hamas.

Selama puluhan tahun menolak pengakuan atas Nakba, legislator Israel kini mengakui bahwa Gaza sedang mengalami “Nakba kedua”. Tentara Israel bahkan merekam pelanggaran hak asasi manusia di Gaza dan mengunggahnya ke media sosial, sambil menekankan bahwa Hamas bertanggung jawab atas kelaparan, atau bahwa kelaparan merupakan konsekuensi perang yang tak diinginkan.

Beberapa posisi internasional yang pasif juga membantu Israel mendistorsi peristiwa, dengan mengakui kelaparan di Gaza tetapi menolak mengaitkan peran Militer Israel dalam menciptakan krisis tersebut.

Tags: