Loading

Ketik untuk mencari

Yaman

Cegah Poros Perlawanan Yaman Bebaskan Ma’rib, AS Ajukan Tawaran Ulang di Perundingan Muscat

Cegah Poros Perlawanan Yaman Bebaskan Ma'rib, AS Ajukan Tawaran Ulang di Perundingan Muscat POROS PERLAWANAN - Dikutip al-Alam dari al-Akhbar, setelah berlalunya lebih dari 100 hari sejak Pemerintahan Joe Biden mengaku akan menghentikan perang di Yaman, Washington menunjukkan bahwa pihaknya bukanlah penengah untuk perdamaian. Washington lebih tepat disebut sebagai perwakilan Koalisi Agresor dan para antek lokalnya di Yaman. Dalam perundingan di Muscat, AS mengulang kembali tawaran-tawarannya demi menghentikan gerak maju Tentara dan Komite Rakyat Yaman ke arah Ma’rib. Di antara tawaran-tawaran AS adalah pengulangan dialog terkait bandara Sanaa, yang dalam Perjanjian Stockholm 2 tahun lalu sudah ditegaskan untuk dibuka kembali, namun hingga kini praktis tidak dilaksanakan. Dalam perundingan di Ibu Kota Oman, AS juga mengajukan janji-janji terkait komoditas minyak, namun sama sekali tidak menyinggung isu para tahanan dan tawanan. Menurut sumber-sumber diplomatik di Muscat, Utusan AS Tim Linderking menyatakan, jika Sanaa setuju untuk menghentikan operasi di Ma’rib dan mengakhiri serangan udara ke wilayah Saudi, maka Pemerintah Riyadh siap mencabut dukungannya untuk Mansour Hadi, juga tiga referensi berupa Inisiatif Negara-negara GCC, Perundingan Nasional Yaman, dan Resolusi 2216 Dewan Keamanan. Meski begitu, Delegasi Sanaa menolak semua tawaran parsial tersebut. Sanaa menegaskan, isu kemanusiaan tak boleh dihubungkan dengan isu politik dan militer. Delegasi Yaman juga menuntut agar agresi dan blokade dihentikan sebelum memulai segala bentuk perundingan baru. Sanaa sendiri membaca upaya-upaya AS ini bertujuan untuk memberi kesempatan kepada Koalisi Agresor untuk mengambil napas dan memulihkan kekuatannya, sehingga mereka bisa merebut kembali kawasan yang diduduki Tentara Yaman di Ma’rib. Berdasarkan laporan media-media, dalam beberapa jam terakhir intensitas pertempuran di sekitar Ma’rib meningkat. Pasukan Sanaa tengah merangsek maju di front utara dan barat laut kota tersebut. Redaktur harian al-Wasath, Jamal Amir meyakini, semua upaya AS ini bertujuan untuk “meraih apa yang tak bisa diperoleh di medan perang selama 6 tahun terakhir”.

POROS PERLAWANAN – Dikutip al-Alam dari al-Akhbar, setelah berlalunya lebih dari 100 hari sejak Pemerintahan Joe Biden mengaku akan menghentikan perang di Yaman, Washington menunjukkan bahwa pihaknya bukanlah penengah untuk perdamaian.

Washington lebih tepat disebut sebagai perwakilan Koalisi Agresor dan para antek lokalnya di Yaman. Dalam perundingan di Muscat, AS mengulang kembali tawaran-tawarannya demi menghentikan gerak maju Tentara dan Komite Rakyat Yaman ke arah Ma’rib.

Di antara tawaran-tawaran AS adalah pengulangan dialog terkait bandara Sanaa, yang dalam Perjanjian Stockholm 2 tahun lalu sudah ditegaskan untuk dibuka kembali, namun hingga kini praktis tidak dilaksanakan. Dalam perundingan di Ibu Kota Oman, AS juga mengajukan janji-janji terkait komoditas minyak, namun sama sekali tidak menyinggung isu para tahanan dan tawanan.

Menurut sumber-sumber diplomatik di Muscat, Utusan AS Tim Linderking menyatakan, jika Sanaa setuju untuk menghentikan operasi di Ma’rib dan mengakhiri serangan udara ke wilayah Saudi, maka Pemerintah Riyadh siap mencabut dukungannya untuk Mansour Hadi, juga tiga referensi berupa Inisiatif Negara-negara GCC, Perundingan Nasional Yaman, dan Resolusi 2216 Dewan Keamanan.

Meski begitu, Delegasi Sanaa menolak semua tawaran parsial tersebut. Sanaa menegaskan, isu kemanusiaan tak boleh dihubungkan dengan isu politik dan militer. Delegasi Yaman juga menuntut agar agresi dan blokade dihentikan sebelum memulai segala bentuk perundingan baru.

Sanaa sendiri membaca upaya-upaya AS ini bertujuan untuk memberi kesempatan kepada Koalisi Agresor untuk mengambil napas dan memulihkan kekuatannya, sehingga mereka bisa merebut kembali kawasan yang diduduki Tentara Yaman di Ma’rib.

Berdasarkan laporan media-media, dalam beberapa jam terakhir intensitas pertempuran di sekitar Ma’rib meningkat. Pasukan Sanaa tengah merangsek maju di front utara dan barat laut kota tersebut.

Redaktur harian al-Wasath, Jamal Amir meyakini, semua upaya AS ini bertujuan untuk “meraih apa yang tak bisa diperoleh di medan perang selama 6 tahun terakhir”.

Tags:

5 Komentar

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *