Mantan Menteri Penerangan Afrika Selatan: Israel Sudah di Penghujung Stasiun
POROS PERLAWANAN – “Zionisme belum mati, tetapi jelas sedang sekarat. Biaya yang harus dibayar akan sangat besar, luar biasa tinggi, namun mereka yang kita tangisi akan memenangkan perang.” – Ronnie Kasrils.
Dalam sebuah analisis yang diterbitkan di Palestine Chronicle pada 29 Oktober, mantan Menteri Penerangan Afrika Selatan, Ronnie Kasrils memaparkan visinya tentang krisis di Palestina. Lewat artikelnya berjudul “Beyond the Logic of Dehumanization – Those for Whom We Weep Will Win the War”, Kasrils menyatakan bahwa meskipun Zionisme belum sepenuhnya mati, ia mendekati kehancurannya. Ia menekankan bahwa harga untuk ini sangat tinggi, tetapi tetap optimis bahwa mereka yang tertindas akan menang.
Menurut Kasrils, tindakan Israel di Gaza, termasuk kejahatan kemanusiaan yang brutal, justru mempercepat kejatuhannya. Ia menyoroti genosida yang sedang berlangsung di Gaza dan mengkritik pembenaran yang digunakan oleh Zionis dan pendukung liberalnya, yang menyebut pembantaian itu sebagai tanggapan sah atas Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober tahun lalu.
“Di kancah internasional, hak untuk melakukan perlawanan bersenjata terhadap pendudukan diakui,” ujarnya, menambahkan bahwa hak Israel untuk mempertahankan diri tidak memiliki dasar legitimasi internasional.
Kasrils juga menyinggung tiga poin penting yang kerap diabaikan.
Pertama, Israel dan sekutunya meluncurkan propaganda yang, menurutnya, tidak berdasar, termasuk tuduhan palsu tentang pemenggalan bayi dan pemerkosaan massal.
Kedua, mayoritas korban Israel dalam serangan itu adalah tentara, bukan warga sipil, dan banyak dari warga sipil yang tewas adalah bagian dari pasukan cadangan.
Ketiga, catatan menunjukkan bahwa banyak kematian di pihak warga sipil disebabkan oleh tembakan Israel sendiri.
Kasrils menegaskan bahwa latar belakang 75 tahun pendudukan dan pembersihan etnis terhadap rakyat Palestina harus selalu diperhatikan. Termasuk juga bahwa sebagian besar penduduk Gaza adalah pengungsi akibat pembersihan etnis tahun 1948 dan 1967.
Latar Belakang Kekerasan dan Perjuangan Gaza
Kasrils melanjutkan dengan menggarisbawahi penderitaan Gaza yang telah berlangsung selama 17 tahun akibat pengepungan yang brutal. Ia menyoroti bahwa warga Palestina di Gaza telah lama terjebak dalam penderitaan ini, sementara orang-orang yang disandera juga berada di penjara Israel, menunggu pertukaran yang adil. Ia mengaitkan sejarah revolusi melawan kolonialisme dan perbudakan, menyatakan bahwa penindasan yang sistematis melahirkan kekerasan.
Logika Fasis Zionisme
Kasrils, yang juga seorang Yahudi, mengkritik logika Zionisme yang ia anggap dehumanisasi dan fasis. Ia mengolok-olok pandangan yang menilai nyawa Israel lebih berharga daripada nyawa Palestina.
“Logika ini adalah warisan kolonialisme dan fasisme,” tulisnya, menyoroti statistik mengerikan seperti enam anak yang terbunuh setiap jam di Gaza. Ia mengungkapkan bahwa banyaknya korban jiwa tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, bahkan oleh para penyair.
Dalam refleksinya, Kasrils mencatat bahwa setelah satu tahun sejak dimulainya serangan terhadap Gaza, lebih dari 42.000 orang telah tewas, dengan lebih dari 10.000 orang hilang, jasad mereka masih tertimbun reruntuhan. Sementara itu, lebih dari 100.000 orang mengalami luka-luka, banyak di antaranya sangat parah. Ia menegaskan bahwa respons Israel yang begitu keras tidak akan mungkin terjadi tanpa dukungan besar-besaran dari Amerika Serikat, yang telah mengucurkan bantuan militer senilai 22,76 miliar Dolar sejak Operasi Badai Al-Aqsa dimulai.
Perlawanan di Kalangan Pemuda Yahudi
Kasrils menyoroti perlawanan yang tumbuh di Amerika Serikat, termasuk di kalangan pemuda Yahudi yang kini semakin bersimpati pada perjuangan Palestina. Ia mengutip data yang menunjukkan bahwa 40% orang Yahudi di bawah usia 35 tahun menentang Zionisme, memahami bahwa Yudaisme telah ada jauh sebelum pendirian negara Israel dan akan terus ada setelahnya.
Kegagalan Strategis Israel dan Skandal Netanyahu
Dalam pandangannya, Kasrils menegaskan bahwa Israel mengalami kegagalan strategis. Meskipun tentara Israel mungkin meraih keberhasilan taktis, mereka semakin terperosok dalam perang yang melampaui kapasitas mereka. Perpecahan dalam masyarakat Israel semakin tajam, terutama akibat kebijakan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu. Isu penyanderaan telah memperlemah dukungan terhadapnya, dan kebocoran informasi rahasia memperkeruh keadaan.
Situs Axios melaporkan bahwa tentara Israel telah menuntut penyelidikan atas kebocoran informasi yang melibatkan orang-orang dekat Netanyahu. Penangkapan ini memicu pertanyaan besar tentang apakah Netanyahu terlibat dalam skandal tersebut. The Times of Israel juga melaporkan adanya penyelidikan oleh Shin Bet, kepolisian, dan militer Israel.
Protes di BBC dan Pemberitaan Media Barat
Kasrils mencatat bahwa media Barat, termasuk BBC, cenderung memihak Israel dalam pemberitaannya. Lebih dari 100 staf BBC menandatangani surat protes yang menuduh media Inggris berpihak pada rezim Zionis. Mereka menyoroti betapa pentingnya prinsip-prinsip jurnalistik yang tegas dan berbasis bukti untuk melaporkan kekejaman yang terjadi di Gaza.
