Menlu Iran Pastikan Tanggapan Defensif atas Setiap Serangan Israel
POROS PERLAWANAN – Menteri Luar Negeri Iran, Sayyid Abbas Araghchi menyatakan bahwa tindakan rezim Zionis pada 27 Oktober adalah serangan baru terhadap Republik Islam Iran, yang memberi negaranya hak untuk merespons secara defensif.
Mengutip Kantor Berita Farsnews, pada Selasa 5 November, Araghchi menyebut serangan baru Israel sebagai agresi serius. Ia menegaskan bahwa Iran berhak membela diri berdasarkan hukum internasional dan Piagam PBB, dan menyatakan tanggapan pasti akan dilakukan.
Araghchi juga menjelaskan bahwa Operasi “Janji Sejati 2” merupakan tindakan pertahanan penuh sebagai respons terhadap serangan rezim Zionis, termasuk insiden sebelumnya seperti syahidnya Ismail Haniyeh dan serangan di tempat lain.
Dalam wawancara dalam program “Hamose Khoun”, Araghchi menambahkan bahwa Iran tidak membuat keputusan emosional. Setiap kali mendapat serangan, Iran selalu memberikan balasan yang cermat, bijaksana, dan penuh pertimbangan. Adalah fakta bahwa dalam berbagai operasi, termasuk “Janji Sejati 1 dan 2”, Iran telah menunjukkan kebijaksanaannya sebagai bangsa bersejarah dengan ribuan tahun peradaban.
Kekuatan Iran Bukan Barang Impor
Menanggapi pertanyaan tentang pesan kepada musuh, Araghchi menyatakan Iran tidak dapat dianggap remeh. “Jangan uji tekad kami. Kami telah menunjukkan kemampuan kami sebelumnya,” katanya.
Dia menegaskan, kemampuan Iran tidak dapat dihancurkan dengan roket atau bom, karena teknologi dan ilmu tersebut sudah dikuasai secara mandiri oleh Iran.
Menteri Luar Negeri juga menyinggung sistem pertahanan dan teknologi Iran yang sepenuhnya buatan dalam negeri. “Jika satu bagian dihancurkan, kami akan membangunnya kembali. Ilmu dan teknologi itu ada di sini, dalam pikiran kami, dan tidak dapat dihancurkan dengan rudal,” tegasnya.
Menurutnya, sistem pertahanan rudal Bavar dan teknologi misil lainnya adalah hasil karya Iran. “Berbeda dengan senjata yang dibeli dari luar, kami tidak akan panik jika terjadi kerusakan karena semuanya buatan sendiri,” ujarnya.
Dia juga menyebutkan bahwa pihak luar sering mengirim pesan untuk menghentikan siklus bentrokan, menyadari bahwa Iran tidak akan mundur dalam konfrontasi tersebut.
Kisah Syahid Ismail Haniyeh dan Insiden di Lebanon
Dalam kesempatan itu Araghchi juga menceritakan momen memilukan ketika mendengar kabar syahidnya Ismail Haniyeh, tamu yang hadir dalam acara pelantikan di Teheran.
“Pagi itu, saya terkejut melihat kabar tersebut di ponsel. Seolah-olah langit runtuh. Tidak mudah menerima kenyataan bahwa Haniyeh, tamu kehormatan kami di Tehran, telah syahid,” kenangnya.
Mengenai ledakan di Beirut yang melukai Duta Besar Iran, Araghchi menceritakan malam itu Iran segera mengirim pesawat untuk mengevakuasi Duta Besar dan korban luka. Atas permintaan Sayyid Hasan Nasrallah, tim dokter mata juga dikirim, dan sekitar seratus korban dipulangkan ke Iran.
Araghchi juga mengungkapkan bahwa setelah mendapat kepercayaan dari parlemen, ia berencana mengunjungi Beirut dan Damaskus sebelum berangkat ke New York. Namun, Sayyid Hasan Nasrallah menyarankan agar tidak terburu-buru karena alasan keamanan.
“Sekarang saya menyesal, seandainya kunjungan itu bisa terwujud,” pungkasnya.
