Sekjen Hizbullah: Hanya Medan Perang yang Mampu Hentikan Konflik Berkepanjangan dengan Israel
POROS PERLAWANAN – Sekjen Hizbullah, Syekh Naim Qasim, dalam pidato yang disiarkan secara langsung menegaskan bahwa hanya “medan perang” yang dapat menghentikan konflik berkelanjutan dengan Israel. Dalam pidato pada Rabu malam 6 November, memperingati 40 hari kesyahidan Sayyid Hasan Nasrallah, Syekh Qasim menyampaikan, Hizbullah memiliki puluhan ribu pejuang yang siap bertempur.
“Kami memiliki puluhan ribu pejuang Perlawanan yang terlatih, siap untuk bertempur,” ujarnya dengan penuh keyakinan. Ia menegaskan, tidak ada satu pun wilayah di Israel yang dianggap “terlarang” dari serangan Hizbullah. “Hizbullah tidak hanya melawan musuh, melainkan juga berjuang membangun negara,” tambahnya, sembari menekankan, Perlawanan akan terus berkembang dan semakin kuat.
Syekh Qasim juga menyoroti pernyataan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, yang “ingin mengubah wajah Timur Tengah”. Pemimpin Hizbullah tersebut memperingatkan, tujuan Netanyahu adalah menduduki Lebanon dan menghapus keberadaan Hizbullah dari kawasan itu. “Netanyahu memiliki rencana untuk menduduki Lebanon dan mengakhiri eksistensi Hizbullah,” katanya.
Syekh Qasim menegaskan, Hizbullah kini berada dalam posisi bertahan untuk menghadapi agresi dan ambisi ekspansionis Israel. Dia mengingatkan, Israel sebelumnya telah berusaha mencapai Sungai Litani, tetapi upaya mereka berhasil digagalkan oleh Perlawanan yang kokoh. “Kami percaya hanya ada satu hal yang dapat menghentikan perang yang penuh agresi ini, yaitu medan perang — baik di perbatasan maupun di dalam wilayah Israel,” tegasnya.
Dengan nada yang tegas, Sekjen Hizbullah itu mengatakan, Hizbullah tidak akan pernah memohon penghentian agresi. “Kami tidak akan memohon agar agresi dihentikan,” tandasnya. “Sebaliknya, kami akan membuat musuh memohon penghentian agresi.”
Ditambahkannya, Hizbullah tidak menggantungkan harapan pada hasil Pemilu Amerika Serikat atau pada upaya politik internasional, melainkan hanya pada kemampuan perlawanan mereka sendiri untuk menjaga kedaulatan Tanah Air.
“Pilihan kami satu-satunya adalah mencegah Israel meraih tujuannya,” tegasnya, dengan keyakinan bahwa Hizbullah “tidak bisa dikalahkan” selama kebenaran ada di pihak mereka.
“Lebanon kuat meskipun dalam kesakitan, tetapi Lebanon juga memberikan rasa sakit yang besar bagi musuh,” katanya, menyoroti ketahanan dan semangat rakyat Lebanon dalam menghadapi tantangan.
Dalam konteks diplomasi, Syekh Qasim mengatakan, dasar dari setiap negosiasi haruslah “menghentikan agresi dan melindungi kedaulatan Lebanon”. Di sisi lain, ia juga memuji peran Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri yang disebutnya “memegang panji perlawanan politik”, dan memperlihatkan pentingnya dukungan politik dalam memperkuat posisi Perlawanan.
Mengenai insiden penculikan seorang kapten laut Lebanon dari Batroun, Syekh Qasim mendesak Angkatan Darat Lebanon segera menyampaikan posisi resmi mereka terkait kejadian tersebut. Ia juga mempertanyakan peran UNIFIL, khususnya kontingen Angkatan Laut Jerman, dalam menjalankan tugas mereka menjaga keamanan Lebanon.
Syekh Naim Qasim menilai, tanggapan dan perlindungan yang efektif sangat penting untuk memastikan keselamatan warga Lebanon di tengah ancaman yang terus berlangsung.
