Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Menyoal ‘Liputan Timpang dan Provokatif’ SCTV tentang ‘Insiden Amsterdam’ yang Dipicu Ulah Destruktif Suporter Maccabi Tel Aviv

POROS PERLAWANAN – Pada Sabtu, 9 November, Liputan 6 SCTV menayangkan laporan berjudul “Suporter Israel Diserang Kelompok Antisemit Usai Pertandingan Sepak Bola.” Judul ini sangat kontroversi, karena sedang menggiring opini publik ke arah dukungan terhadap narasi Israel, meski konteks konflik Palestina-Israel sangat kompleks. Di tengah simpati global yang semakin meningkat terhadap Palestina, Liputan 6 SCTV tampak kehilangan fokus pada aspek kemanusiaan dengan menyudutkan kelompok pro-Palestina yang memprotes kekerasan rezim Zionis.

Di Belanda, insiden yang melibatkan suporter Maccabi Tel Aviv justru dipandang sebagai tindakan provokatif. Suporter klub ini menurunkan dan merobek bendera Palestina di rumah-rumah warga, dan meneriakkan slogan-slogan anti-Palestina, yang kemudian memicu ketegangan. Sebaran video dan foto dari media mainstream maupun sosial menunjukkan bahwa suporter Maccabi justru yang pertama kali melakukan aksi destruktif, termasuk bentrok dengan polisi serta kekerasan terhadap warga setempat.

Sayangnya, media Barat pro-Israel, tetap menggambarkan suporter Maccabi Tel Aviv sebagai korban. Padahal bukti visual justru menunjukkan mereka sebagai pemicu ketegangan di ruang publik. Dalam kerusuhan Kamis malam, 7 November, publik Eropa memperlihatkan dukungannya terhadap hak-hak Palestina, merespons aksi suporter Maccabi yang merusak fasilitas umum dan membakar bendera Palestina.

Max Blumenthal, editor The Grayzone News, menyoroti bias media dalam menggambarkan suporter Israel sebagai korban. “Banyak video menunjukkan perusuh Israel merusak properti di Amsterdam, menyerang polisi dan warga sipil, serta merobek bendera Palestina. Kini mereka berperan seolah menjadi korban,” tulisnya di media sosial. Sikap provokatif ini memicu kecaman dari jurnalis olahraga Leyla Hamed yang melaporkan bahwa suporter Maccabi juga mencuri bendera Palestina dari rumah-rumah warga, semakin mengobarkan sentimen pro-Palestina di kalangan masyarakat Belanda.

Perkembangan ini memperkuat solidaritas Eropa terhadap Palestina dan kritik yang semakin vokal terhadap kebijakan pendudukan Israel. Insiden Amsterdam menggarisbawahi bahwa protes-protes tersebut tidak lagi hanya berupa penolakan terhadap agresi, namun juga bentuk solidaritas nyata untuk menuntut penghormatan hak-hak Palestina. Sebaliknya, rezim Israel mengklaim insiden tersebut sebagai “kekerasan terhadap warga Israel,” suatu pernyataan yang dianggap banyak pihak sebagai “upaya mengaburkan konteks.”

Dukungan finansial dan politik dari rezim Israel terhadap Maccabi Tel Aviv menjadikan klub ini simbol yang dianggap memperkuat legitimasi pendudukan di Palestina. Suporter Maccabi sering kali membawa narasi pro-Israel yang bagi sebagian besar masyarakat Eropa justru dianggap mengusik rasa keadilan dan menjadi alasan kuat protes publik terhadap keberadaan klub ini di Eropa.

Ketegangan yang menyelimuti pertandingan Maccabi Tel Aviv bukanlah fenomena baru di Eropa. Pada 2015, pertandingan Liga Champions antara Maccabi dan Chelsea di London juga berakhir bentrok dengan kelompok pro-Palestina, memperlihatkan bahwa simbolisme klub ini tidak hanya soal olahraga, tetapi juga mencerminkan konflik politik antara pendukung kebijakan Israel dan advokat hak-hak Palestina.

Liputan 6 SCTV dalam Kritik: Objektivitas atau Kepentingan?

Dalam konteks ini, pemilihan istilah “antisemit” oleh Liputan 6 SCTV dalam menggambarkan protes pro-Palestina di Amsterdam sangat tidak tepat. Sebagai media yang berpengaruh di tanah air, SCTV hanya bersikap netral dan objektif saja tidak cukup, tapi harus berani menunjukkan kebenaran, terlebih dalam isu sensitif seperti Palestina-Israel. Dengan melabeli protes ini sebagai “antisemitisme,” Liputan 6 SCTV sedang mengerdilkan simpati publik dan gagal menangkap konteks yang lebih luas. Sikap ini jelas mencerminkan sudut pandang yang menyudutkan kelompok pro-Palestina, dan mengabaikan dimensi kemanusiaan dari konflik tersebut.

Langkah Liputan 6 SCTV ini pasti akan menuai kekecewaan publik, terutama dari kalangan yang menyuarakan hak-hak Palestina dan kebebasan. Jika SCTV terus bersikap berat sebelah dan mengabaikan sisi kemanusiaan dalam pemberitaan konflik, ia akan kehilangan kredibilitas sebagai sumber berita yang seharusnya menyajikan informasi dengan akurat dan berimbang, sekaligus menempatkan diri di posisi yang relevan di tengah upaya publik global dalam mencari keadilan dan perdamaian yang sesungguhnya. [PP/MT]

Tags: