Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Iran-Arab Saudi Sepakat Hentikan Perang di Gaza dan Lebanon

POROS PERLAWANAN – Pertemuan bersama para pemimpin negara-negara Arab dan Islam di Riyadh pada Senin 13 November, diinterpretasikan oleh beberapa analis Barat sebagai sinyal persatuan antara Iran dan Arab Saudi dalam upaya menghentikan konflik yang berlangsung di Gaza dan Lebanon.

Para pemimpin dari negara-negara Arab berkumpul di Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh, untuk berdiskusi mengenai perkembangan signifikan di kawasan Asia Barat, khususnya terkait konflik yang memanas di wilayah tersebut. Pertemuan ini juga berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan pasca kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat.

Sebelum pecahnya perang di Gaza, Arab Saudi sempat menunjukkan sinyal kesiapan untuk mengakui Israel secara resmi. Namun, perang di Lebanon dan Gaza meredam niat Riyadh untuk berdamai, dan kini Saudi beserta sekutu-sekutunya berupaya memperkuat hubungan dengan Republik Islam Iran.

Bulan lalu, para menteri luar negeri negara-negara Teluk melakukan pertemuan bersejarah secara kolektif dengan Menteri Luar Negeri Iran. Pada Minggu 10 November, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Arab Saudi juga bertemu dengan mitranya dari Iran di Tehran, yang menurut laporan The New York Times, mengindikasikan menghangatnya hubungan antara kedua negara saat Iran tengah berupaya membalas dendam atas tindakan Israel.

Dalam pidato pembukaan pada Senin, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman menyampaikan pernyataan yang mencerminkan kehangatan hubungan antara Tehran dan Riyadh. Ia menyerukan kepada masyarakat internasional untuk menekan Israel agar menghormati kedaulatan Iran dan tidak menyerang wilayahnya.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan, pekan lalu juga menyatakan bahwa Saudi dan Iran mengadakan dialog yang sangat terbuka dan jujur. The Washington Post melaporkan pendapat beberapa analis bahwa Arab Saudi mungkin memanfaatkan pertemuan Riyadh untuk mengirim pesan kepada Pemerintahan baru AS yang dipimpin Donald Trump.

Anggota senior International Institute for Strategic Studies, Hassan al-Hasan menyatakan kepada media tersebut bahwa Trump telah berjanji akan menghentikan perang setelah menjabat. “Arab Saudi mungkin ingin menunjukkan dirinya sebagai mitra potensial untuk Trump dalam mencapai kesepakatan yang menghentikan perang, terutama karena upaya diplomatik dari mediator regional lainnya, seperti Qatar dan Mesir, belum membuahkan hasil.”

Sebelum pertemuan Riyadh dimulai, Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, mendesak pembentukan aliansi negara-negara Arab dan Islam untuk menekan Israel dan sekutunya guna menghentikan perang di Gaza dan Lebanon.

Di akhir pertemuan, para peserta mengeluarkan pernyataan bersama yang menekankan pentingnya isu Palestina dan dukungan penuh untuk rakyat Palestina dalam memperjuangkan hak-hak sah mereka. Pernyataan tersebut juga menegaskan hak rakyat Palestina atas kemerdekaan dan pembentukan negara berdaulat dengan Yerusalem Timur sebagai Ibu Kotanya, serta menegaskan bahwa Yerusalem adalah Ibu Kota abadi Palestina.

Para pemimpin dalam pertemuan ini turut menekankan pentingnya hak-hak pengungsi Palestina untuk kembali ke Tanah Air mereka, menegaskan bahwa isu Palestina merupakan perjuangan yang adil untuk kebebasan dari penjajahan, sebagaimana perjuangan bangsa-bangsa lain yang berjuang untuk membebaskan diri dari penindasan.

Tags: