Kehadiran Pejuang 60 Tahun dalam Operasi al-Qassam Kirim Berbagai Pesan kepada Israel
POROS PERLAWANAN – Pakar militer dan strategi, Wasif Uraiqat menyebut operasi-operasi mutakhir Brigade al-Qassam sangat luar biasa. Menurutnya, partisipasi seorang pejuang berusia 60 tahun di garis depan al-Qassam membawa berbagai pesan untuk Rezim Zionis.
“Kehadiran seorang pejuang berusia 60 tahun di garis depan operasi terbaru Brigade al-Qassam mengirim pesan keras untuk Militer Israel. Ini menunjukkan budaya perlawanan yang mengakar di tengah rakyat Palestina. Ini bukti bahwa perlawanan bangsa ini tidak terbatas pada kelompok usia tertentu,” kata Uraiqat dalam wawancara dengan al-Jazeera, diberitakan al-Alam.
Pada hari Selasa 12 November, sayap militer Hamas itu memublikasikan video penargetan dan penghancuran perangkat militer Israel dengan rudal Yasin 105. Operasi itu dilakukan di timur Jabaliya di utara Gaza. Seorang pejuang berusia 60 tahun ikut dalam operasi-operasi tersebut.
“Operasi-operasi ini luar biasa dan menjelaskan kebanggaan tiap orang Palestina serta pendukung norma rakyat Palestina. Pejuang 60 tahun ini membuktikan, perlawanan adalah sebuah tekad, bukan masalah usia. Dengan kehadirannya, ia telah menguatkan semangat spiritual semua orang. Ini adalah pesan kuat kepada Musuh Zionis,” imbuh Uraiqat.
“Tiap adegan dalam video yang dipublikasikan al-Qassam mengandung berbagai konsep mendalam. Mulai dari pakaian pejuang hingga detail tempatnya. Jabaliya bukan lagi sekadar sebuah kamp pengungsi, namun telah berubah menjadi sebuah pangkalan militer sejati Palestina, yang berani menghadapi musuh dan mengancam keamanannya.”
“Berulangnya operasi Perlawanan di hadapan keunggulan militer Israel menunjukkan bahwa faktor manusia yang berani dan bertekad kuat di tengah para pejuang Perlawanan adalah elemen terpenting dalam perimbangan perang, bukan perangkat militer semata.”
“Operasi seorang pejuang berusia 60 tahun, yang membidik targetnya dengan sangat akurat, bukan hanya sebuah pertempuran lapangan, tapi merupakan bagian dari perang psikologi dan media; perang yang dikelola secara profesional oleh Perlawanan di tengah kondisi blokade.”
“Para pejuang Perlawanan mampu membuat pusing Militer Israel. Para serdadu Zionis yang menghadapi mereka didera ketakutan. Mereka mengaku bertempur melawan ‘para hantu.’ Ini membuktikan pengaruh psikis operasi-operasi Perlawanan atas mereka,” tandas Uraiqat.
