Loading

Ketik untuk mencari

Arab Saudi

Saudi Lecehkan Baitullah: Jadikan Ka’bah Digital Atraksi Utama dalam Festival Riyadh Season 2024

POROS PERLAWANAN – Festival Riyadh Season 2024, yang memulai rangkaian acaranya dengan simbol Ka’bah sebagai salah satu atraksi utama, memicu gelombang kritik dari umat Islam di seluruh dunia. Arab Saudi menyebut langkah ini sebagai upaya mempromosikan sektor pariwisata, namun banyak pihak menilai penggunaan simbol agama tersebut sebagai bentuk pelecehan terhadap kesucian Islam.

Pengumuman pertama terkait Riyadh Season 2024 disampaikan pada Juli 2024, sementara tanggal resmi pelaksanaan acara diumumkan pada Sabtu 12 Oktober, melalui unggahan di platform X oleh Turki Al-Sheikh.

Festival dan Simbol Baitullah Ka’bah Digital

Festival Riyadh Season yang dipimpin oleh Turki Al-Sheikh, Ketua Otoritas Umum Hiburan Arab Saudi, menjadi sorotan dengan menampilkan struktur digital berbentuk Baitullah Ka’bah. Menurut Al-Sheikh, festival ini bertujuan memperkuat posisi Arab Saudi sebagai destinasi wisata global.

Namun, penggunaan simbol Ka’bah dalam festival ini memicu kecaman luas. Kritikus menyebut tindakan tersebut tidak menghormati nilai-nilai Islam. “Mereka bermain-main dengan simbol rumah Allah,” ujar salah satu komentar pedas di media sosial.

Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah selebritas dunia seperti Jennifer Lopez, Celine Dion, dan Nancy Ajram, yang semakin memperbesar kontroversi.

Masa Lalu yang Penuh Polemik

Ini bukan pertama kalinya langkah Saudi menuai kritik. Pada 2023, Festival Film Laut Merah yang digelar di Jeddah juga menimbulkan protes karena lokasinya yang dekat dengan Makkah. Acara tersebut dilaporkan memicu kebiasaan masuknya individu tanpa hijab ke Masjid Nabawi di Madinah.

Samsul Maarif, Kepala Pusat Kajian Agama di Indonesia, menegaskan bahwa Arab Saudi memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kesucian Makkah dan Madinah. “Acara semacam ini seharusnya tidak meluas ke kota-kota suci tersebut,” katanya.

Proyek NEOM di Balik Kontroversi

Sebagian pihak mengaitkan simbol Ka’bah dalam Riyadh Season dengan proyek ambisius “NEOM”, sebuah kota futuristik yang didesain menyerupai kubus seperti Ka’bah. Proyek ini diproyeksikan menjadi salah satu pusat Piala Dunia 2034.

Namun, laporan menunjukkan bahwa Arab Saudi menghadapi tantangan keuangan serius untuk melanjutkan proyek ini, menyusul penurunan pendapatan minyak. Langkah-langkah seperti Riyadh Season dianggap sebagai strategi untuk menarik perhatian dunia terhadap proyek tersebut.

Kritik atas Pendekatan Arab Saudi

Arab Saudi, melalui Visi 2030, berupaya mengurangi ketergantungan pada minyak dengan meningkatkan sektor pariwisata. Kepala Departemen Hiburan Kementerian Pariwisata Saudi, Adel bin Hanif mengakui bahwa Pemerintah Saudi tengah memulai strategi ini dan merencanakan lebih banyak acara serupa hingga 2025.

Namun, pendekatan ini dianggap bertentangan dengan identitas Islam Saudi. “Negara-negara Islam harus bereaksi untuk menghentikan langkah-langkah yang merendahkan Islam dan simbol-simbol sucinya,” ujar seorang pengamat.

Menyeimbangkan Identitas dan Ambisi

Banyak ahli menyerukan perubahan arah kebijakan Arab Saudi. Mereka menilai Saudi harus lebih memprioritaskan menarik wisatawan Muslim daripada selebritas Barat. “Mereka seharusnya menjadi contoh sebagai penjaga dua tanah suci, bukan sekadar mengejar pendapatan melalui hiburan,” tegas Samsul Maarif.

Kontroversi ini mencerminkan tantangan Arab Saudi dalam menyeimbangkan ambisi ekonominya dengan mempertahankan identitas religiusnya. Pertanyaan besar kini adalah sejauh mana Riyadh akan melangkah untuk mengejar status sebagai pusat pariwisata global tanpa mengorbankan nilai-nilai fundamental yang telah lama dijaga oleh dunia Islam.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *