Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Begini Kondisi Terkini Gaza: Kelaparan dari Selatan hingga Utara

POROS PERLAWANAN – Kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memburuk dengan kelaparan yang melanda seluruh wilayah, dari selatan hingga utara. Para ahli Palestina menyebut situasi ini diperburuk oleh cuaca dingin dan hujan yang mengguyur tenda-tenda pengungsi, menciptakan penderitaan yang tak terbayangkan bagi warga yang sudah lama terjebak dalam blokade.

Krisis Kebutuhan Pokok di Gaza

Seorang akademisi dan pakar ekonomi di Gaza, Muhammad Miqdad, dalam wawancaranya dengan Fars News Agency pada Rabu 20 November, menegaskan bahwa blokade ketat oleh rezim Zionis telah menghambat masuknya truk-truk bantuan kemanusiaan dan barang dagangan ke Gaza. Akibatnya, kebutuhan pokok seperti tepung, beras, minyak, dan protein hewani menjadi langka di pasar.

Miqdad mengungkapkan bahwa harga tepung telah meroket hingga 1.200 Shekel (sekitar $320 atau 22 juta rupiah) untuk setiap kantong 25 kilogram di Khan Younis, Gaza Selatan. “Sebagian besar keluarga di Gaza kini tidak mampu membeli tepung untuk membuat roti. Roti menjadi barang langka, sementara antrean panjang di toko roti dipenuhi ribuan orang yang sering kali pulang dengan tangan kosong karena stok terbatas,” ujarnya.

Lonjakan harga juga terjadi pada beras, yang kini mencapai 30 Shekel per kilogram, dan minyak goreng, yang harganya naik menjadi 45 Shekel per liter. Selain itu, produk protein seperti daging, susu, dan telur hampir sepenuhnya hilang dari pasar, terutama di wilayah selatan Gaza.

Kondisi Tenda Pengungsi yang Tragis

Miqdad menggambarkan kondisi memilukan di tenda-tenda pengungsian di Khan Younis. “Tadi malam, hujan deras membuat semua tenda terendam air. Para pria sibuk menggunakan tali, plastik, dan ember untuk mengalirkan air keluar dari tenda. Tak ada yang bisa tidur semalam,” jelasnya.

Utara Gaza: Blokade dan Eksekusi Lapangan

Sementara itu, di Gaza Utara, situasi semakin kritis. Seorang peneliti Euro-Mediterranean Human Rights Monitor yang kini mengungsi di Gaza, Ahmad Abu Qamar bersama keluarganya, menjelaskan bahwa selama lebih dari 1,5 bulan terakhir, Militer Israel telah memberlakukan blokade ketat di wilayah utara, khususnya Beit Lahia dan kamp pengungsi Jabalia. Tak satu pun truk bantuan diizinkan memasuki wilayah ini.

“Jika ada warga yang mencoba keluar dari rumah mereka untuk mencari makanan, mereka menjadi target penembakan langsung oleh tentara Israel. Ini adalah eksekusi lapangan,” ujar Abu Qamar. Dia menambahkan bahwa Human Rights Monitor menyerukan agar wilayah utara Gaza secara resmi dinyatakan sebagai zona kelaparan.

Bantuan Tak Mencukupi

Di Kota Gaza, bantuan yang masuk hanya mampu memenuhi 5% kebutuhan warga. Sementara itu, air bersih juga sulit didapat. “Israel telah menargetkan fasilitas desalinasi air, dan tidak ada bahan bakar untuk mengoperasikan alat penyulingan atau memompa air dari sumur,” kata Abu Qamar.

Krisis di Rumah Sakit Gaza

Sistem kesehatan Gaza berada di ambang kehancuran. Rumah Sakit Kamel Odwan dan Al-Awda di utara Gaza telah dikepung oleh Militer Israel, sementara Rumah Sakit Indonesia hampir sepenuhnya tidak dapat beroperasi. Satu-satunya rumah sakit yang masih aktif adalah Rumah Sakit Al-Ma’madani di Kota Gaza.

Namun, menurut Abu Qamar, Israel juga menghalangi akses dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya untuk mencapai rumah sakit di Gaza Utara. “Siapa pun yang mencoba pergi ke sana akan ditembak,” tegasnya.

Krisis Kemanusiaan Tanpa Solusi

Kelaparan dan penderitaan di Gaza mencerminkan tragedi kemanusiaan yang semakin dalam akibat blokade dan serangan brutal. Sementara dunia internasional masih diam, warga Gaza terus berjuang untuk bertahan hidup di tengah situasi yang semakin tidak manusiawi.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *