Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Maariv: Brigade Elite “Golani” Catatkan Korban Terbesar di “Tentara” Israel

POROS PERLAWANAN – Dalam konteks pengakuan resmi oleh “Tentara” Pendudukan Israel atas kerugian signifikan yang terus bertambah di Gaza dan Lebanon, surat kabar Maariv mengungkap bahwa Brigade “Golani” telah menanggung korban yang jauh lebih besar dibandingkan dengan brigade infanteri lainnya dalam “tentara” Israel. Laporan tersebut mempertegas dampak besar yang dialami oleh salah satu unit paling elite militer Israel ini selama operasi mereka.

Korban Jiwa dan Kerugian Materiil

Menurut laporan Maariv, pada Kamis, 21 November, Brigade “Golani” tercatat membayar harga tertinggi sepanjang konflik ini, dengan 110 tentara tewas di medan pertempuran Gaza dan Lebanon. Korban ini termasuk berbagai tingkatan hierarki di dalam brigade, menandai pukulan besar terhadap struktur kepemimpinan.

Kemarin, militer Israel secara resmi mengakui bahwa Kepala Staf Brigade “Golani” mengalami luka serius akibat serangan, sementara Komandan Kompi dari Batalion ke-13 brigade ini juga terluka parah. Selain itu, seorang “ahli arkeologi” yang dilaporkan diselundupkan oleh komandan brigade ke wilayah Lebanon selatan ditemukan tewas, bersama seorang tentara yang juga merenggang nyawa dalam penyergapan yang dilakukan oleh Hizbullah di kota Shama, Lebanon selatan.

Pernyataan Pejabat Militer

Menanggapi kerugian besar itu, Brigadir Jenderal (Cadangan) Yoali Or, mantan wakil komandan Brigade “Golani” yang kini menjabat sebagai CEO Asosiasi Brigade tersebut, menyebut bahwa kerugian ini merupakan yang terbesar sejak berdirinya brigade pada tahun 1948. Ia menjelaskan, dari total korban tewas, setengahnya merupakan pemimpin brigade, terdiri dari 22 perwira dan 37 bintara serta kopral. Fakta ini memperlihatkan dampak langsung terhadap komando dan efektivitas operasional brigade.

Kerugian di Medan Pertempuran

Media Israel itu juga mengakui, masuknya Brigade “Golani” ke Gaza, diikuti dengan operasi di Lebanon, telah menyebabkan kerugian besar. Mereka menyebut, “harga masuknya sangat mahal,” dengan formasi brigade yang terus menyusut akibat banyaknya korban jiwa dan cedera. Hal ini memengaruhi moral pasukan sekaligus efektivitas operasional mereka dalam menghadapi perlawanan yang terorganisasi, baik dari Hamas di Gaza maupun Hizbullah di Lebanon.

Evaluasi Taktik Militer

Dalam laporan lain, Maariv menyoroti serangan-serangan strategis yang dilancarkan oleh Hizbullah terhadap Unit “Egoz” dan Batalion ke-51 dari Brigade “Golani.” Serangan ini disebut sebagai penyebab utama kerugian terbesar yang dialami brigade tersebut sejak pertama kali didirikan. Kondisi ini memaksa “tentara” Israel untuk melakukan evaluasi ulang terhadap taktik dan strategi yang diterapkan di Lebanon selatan, mengingat kuatnya perlawanan yang diberikan Hizbullah di wilayah tersebut.

Hizbullah menggunakan metode penyergapan yang canggih dan serangan langsung yang menargetkan titik-titik kelemahan unit elite ini. Dalam beberapa kasus, strategi tersebut berhasil mengisolasi unit Israel, memperlemah koordinasi, dan menyebabkan korban jiwa yang signifikan di pihak Israel.

Kerugian yang dialami Brigade elite “Golani” selama konflik ini tidak hanya menjadi tanda tanya besar terhadap kesiapan taktis militer Israel, tetapi juga memunculkan kritik di dalam negeri. Banyak pihak mempertanyakan efektivitas operasi militer yang dilakukan di Gaza dan Lebanon, mengingat tingginya harga yang harus dibayar, baik dalam hal korban jiwa maupun moral pasukan.

Selain itu, tingginya jumlah korban di kalangan perwira menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan struktur komando militer, terutama jika konflik terus berlanjut tanpa adanya strategi yang jelas dan efektif. Laporan ini menjadi sinyal kuat bahwa medan perang di Gaza dan Lebanon telah memberikan tantangan yang belum pernah dihadapi oleh “tentara” Israel sebelumnya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *