Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Terima Gencatan Senjata dan Menyerah di Hadapan Hizbullah: Pilihan Terakhir Israel Sebelum Terkubur Makin Dalam di Lumpur Lebanon

Tak Berdaya Hadapi Hizbullah, Panglima Brigade Golani Mengundurkan Diri

POROS PERLAWANAN – Reaksi berbagai pihak di Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata yang direncanakan dengan Lebanon menunjukkan urgensi di balik tercapainya kesepakatan tersebut. Banyak yang melihat kesepakatan ini sebagai “kesempatan terakhir” sebelum Israel semakin terjebak dalam konflik berkepanjangan di Lebanon, sementara yang lain menilainya sebagai kegagalan strategis dan bentuk penyerahan diri Israel di hadapan Hizbullah.

Dikutip dari Al Mayadeen pada Selasa 26 November, seiring berlanjutnya serangan Hizbullah, termasuk peluncuran roket dan drone ke wilayah Pendudukan serta perlawanan terhadap pasukan Israel di perbatasan dengan Palestina yang Diduduki, Israel tampaknya tidak memiliki banyak opsi selain menyetujui kesepakatan. Hal ini ditegaskan oleh Mayor Jenderal cadangan Militer Israel, Noam Tibon, yang menyatakan bahwa “kesepakatan dengan Lebanon terjadi karena Israel tidak memiliki banyak pilihan lain”.

Dalam wawancaranya dengan saluran televisi Channel 12 Israel, Tibon menjelaskan bahwa penting untuk menyelesaikan kesepakatan saat ini sebelum Israel semakin terjebak dalam “lumpur Lebanon” dan kehilangan lebih banyak tentara tanpa kemajuan berarti.

Tibon, yang sebelumnya menjabat sebagai Komandan Korps Utara Militer Pendudukan Israel, menekankan bahwa kesepakatan ini merupakan hasil dari tekanan internasional yang kuat, ancaman dari Pengadilan Kriminal Internasional, embargo senjata dari Amerika Serikat, dan kondisi sulit yang dialami Militer Israel, termasuk ketidakmampuan untuk mempertahankan posisi strategisnya di medan perang.

Selain itu, seorang penasihat strategi yang diwawancarai oleh saluran yang sama, Barak Sari menyebut tantangan utama yang dihadapi Netanyahu dalam kesepakatan ini adalah menghadapi pendukungnya dan para pemilihnya, yang sebagian besar menentang kesepakatan tersebut. Menurut Sari, Netanyahu akan mencoba meyakinkan mereka dengan menyatakan bahwa gencatan senjata ini bersifat sementara, hanya berlaku selama 60 hari.

Sari juga menekankan bahwa Netanyahu akan mempromosikan kesepakatan ini dengan alasan kepentingan strategis yang lebih besar, terutama terkait hubungannya dengan Amerika Serikat.

Ia menyebut bahwa kesepakatan ini diperlukan untuk mencegah tekanan internasional, memastikan dukungan Amerika Serikat di PBB, serta mengamankan kembali pasokan senjata dan bantuan militer dari Washington. Di sisi lain, kesepakatan ini juga dianggap sebagai langkah darurat untuk mengatur ulang Militer Israel, yang menurutnya sedang menghadapi krisis serius di medan perang dan membutuhkan waktu untuk pemulihan serta penguatan kembali.

Meski demikian, opini publik dan elite politik di Israel tetap terpecah. Sebagian menganggap bahwa kesepakatan ini adalah bentuk kelemahan dan sinyal, Israel menyerah pada tekanan Hizbullah, sementara yang lain menilainya sebagai langkah pragmatis untuk menghindari kerugian lebih besar di medan perang yang sulit di Lebanon.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *