Dukung Narasi Genosida Israel, Samir Geagea Serukan Pelucutan Senjata Hizbullah di Tengah Krisis Aleppo
POROS PERLAWANAN – Pemimpin Partai Pasukan Lebanon (LFP), Samir Geagea mendukung narasi genosida Israel dengan mengeklaim Hizbullah kalah dalam perang melawan Israel dan menyerukan pelucutan senjata Kelompok Perlawanan tersebut.
Sebelumnya, dokumen WikiLeaks juga menunjukkan langkah serupa yang pernah diambil Geagea setelah perang Juli 2006, ketika Hizbullah berhasil mematahkan mitos ketangguhan Israel.
Dalam pertemuan luar biasa bersama anggota parlemen dan badan eksekutif LFP, pada Sabtu 30 November Geagea mempresentasikan rencana baru untuk menargetkan Hizbullah. Strateginya mencakup pembongkaran struktur Hizbullah di utara Sungai Litani, baik secara politik maupun militer, dengan tujuan melemahkan dukungan sosial kelompok tersebut.
Tanpa mengutuk pelanggaran gencatan senjata oleh Israel, Geagea mendorong agar senjata Hizbullah dikembalikan ke Iran. Ia juga menuduh Hizbullah bertanggung jawab atas apa yang disebutnya “kejahatan besar terhadap rakyat Lebanon”. Pernyataan ini bertentangan dengan sejumlah deklarasi resmi Pemerintah Lebanon yang mengakui legitimasi Perlawanan.
Geagea mengancam bahwa siapa pun yang berharap situasi akan kembali seperti sebelum 7 Oktober 2023 akan kecewa. Ia menegaskan perlunya membatasi senjata hanya kepada tentara Lebanon, dengan menyatakan anggota Hizbullah sebaiknya bekerja sebagai aparat lokal.
Sebagai figur yang ambisius untuk kursi kepresidenan, Geagea tampaknya mengabaikan risiko memprovokasi konflik sektarian. Usahanya untuk melucuti senjata Hizbullah justru menunjukkan kegagalannya membaca dinamika politik dan keamanan yang lebih luas, termasuk apa yang tak dapat dicapai oleh militer Israel.
Pada masa pemberontakan di Suriah lebih dari satu dekade lalu, LFP menggunakan solidaritas palsu sebagai alat politik. Delegasi yang dipimpin oleh Antoine Zahra malah mengabaikan kondisi buruk kamp pengungsi Palestina di Lebanon, fokusnya lebih kepada memanipulasi dukungan rakyat Palestina untuk agenda LFP.
Di sisi lain, Poros Perlawanan terus melakukan perlawanan terhadap kehadiran militer AS di Suriah. Serangan terhadap pangkalan AS membuktikan kegagalan strategi “pencegahan” Washington, yang sebelumnya ditingkatkan dengan pelatihan militer dan pengiriman persenjataan ke Tentara Pembebasan Suriah melalui pangkalan Tanf.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengeklaim telah menargetkan kelompok yang disebut “didukung Iran”. Namun, eskalasi ini lebih banyak mencerminkan upaya AS mempertahankan posisinya daripada mengamankan stabilitas.
Sementara itu, Aleppo menyaksikan perkembangan signifikan setelah tentara Suriah memperkuat pertahanan di sekitar bandara. Serangan udara yang diluncurkan untuk menghancurkan kelompok bersenjata menunjukkan tekad Pemerintah Suriah mengembalikan kendali penuh atas wilayah tersebut. Di kawasan utara, warga Nubl dan Zahraa mengungsi akibat masuknya Pasukan Demokratik Suriah (SDF).
Narasi ini semakin mengungkap hubungan kompleks di wilayah tersebut, di mana intervensi asing terus memperburuk situasi, sementara Perlawanan tetap fokus melindungi stabilitas dan kedaulatan.
