Seorang Anggota Pasukan IRGC, Prajurit Terakhir yang Meninggalkan Suriah
POROS PERLAWANAN – Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mayor Jenderal Salami menegaskan bahwa pasukan IRGC adalah yang terakhir meninggalkan garis perlawanan di Suriah. “Orang terakhir yang meninggalkan medan ini adalah seorang anggota IRGC,” ujarnya.
Dalam pertemuan khusus dengan para komandan IRGC, pada Kamis 12 Desember di Tehran, Salami menjelaskan detail penyebab dan dampak peristiwa keamanan dan militer baru-baru ini di Suriah. Menurutnya, selama era Pemerintahan keluarga Assad, Suriah memiliki arah dan pendekatan khusus dalam kebijakan luar negerinya.
Rekam Jejak Suriah dalam Perlawanan terhadap Zionisme
Salami mengawali pembicaraan dengan menceritakan bahwa Suriah memiliki rekam jejak paling menonjol di antara negara-negara Arab dalam melawan Zionisme. “Suriah adalah satu-satunya negara yang tidak pernah menerima rencana rekonsiliasi apa pun, dan selalu mengambil sikap perlawanan, konfrontasi, dan pertahanan terhadap Amerika Serikat dan rezim Israel,” ujarnya.
Satu-satunya kemenangan negara-negara Arab dalam perang empat kali melawan Israel (1948, 1956, 1967, dan 1973), yakni pembebasan provinsi Quneitra dari Pendudukan Israel, merupakan milik Suriah.
Mayor Jenderal Salami juga mencatat bahwa selama bertahun-tahun, Suriah menjadi tempat perlindungan bagi gerakan Revolusioner dan Perlawanan Islam. “Hafez Assad adalah satu-satunya presiden Arab yang berdiri di sisi Iran selama Perang Iran-Irak,” katanya, seraya menambahkan, faktor ini sangat penting dalam pandangan Iran terhadap Suriah.
Tantangan Utama Barat dengan Republik Islam Iran
Jenderal Salami menjelaskan bahwa tantangan utama Barat dan sekutunya dengan Republik Islam Iran terletak pada tiga hal:
1. Menghilangkan pengaruh spiritual Iran di Kawasan.
2. Membatasi dan mengurangi kekuatan pencegahan rudal Iran.
3. Menghancurkan pengetahuan, teknologi, dan kemampuan nuklir Iran.
Menurutnya, Barat tidak dapat menghapus pengaruh spiritual Iran dengan cara-cara konvensional. “Mereka mencoba menciptakan alternatif yang mirip dengan Republik Islam dan Revolusinya,” katanya.
Takfiri sebagai Model Pencegahan Barat
Mayor Jenderal Salami menjelaskan bahwa kelompok Takfiri sebenarnya adalah model pencegahan yang dibuat Barat untuk melawan pengaruh spiritual Republik Islam Iran. “Sekitar 300 ribu anggota Takfiri dikumpulkan dari seluruh dunia melalui perbatasan yang lemah ke Suriah dan Irak,” katanya.
Kelompok ini datang dengan slogan-slogan yang menyerukan pembunuhan massal terhadap Syiah serta penghancuran makam-makam suci para Imam Suci, Wali, dan Nabi Allah.
Salami mencatat bahwa kelompok Takfiri menyerang makam-makam yang menjadi simbol identitas agama Muslim, terutama Syiah, seperti di Hujr bin Adi, para syuhada Perang Shiffin, dan tempat-tempat lain seperti Samarra. “Mereka membakar orang hidup-hidup, seperti yang terjadi di Spiker, Irak, di mana sekitar 2.000 pemuda, kadet Angkatan Udara Irak, dibunuh secara massal dalam satu hari,” pungkasnya.
Melawan Kelompok Takfiri adalah Pelayanan Besar Republik Islam bagi Umat Manusia
Mayor Jenderal Salami menegaskan bahwa melawan kelompok Takfiri yang berbahaya adalah pelayanan besar yang diberikan oleh Republik Islam Iran kepada seluruh umat manusia.
“Jika tindakan tersebut tidak dilakukan pada saat itu, dengan pola serangan yang mereka lakukan, kelompok-kelompok tersebut dapat menguasai seluruh wilayah Islam,” ujarnya.
Peran Penting Syahid Qasim Soleimani dalam Perlawanan
Komandan IRGC menyatakan bahwa dalam situasi tersebut, Iran terpaksa memobilisasi semua kapasitas dunia Islam, baik melalui kehadiran militer langsung maupun pendampingan strategis, untuk mencegah penyebaran fenomena tersebut di Irak dan Suriah.
Tanggung jawab ini berada di tangan Pasukan Quds IRGC di bawah komando Letnan Jenderal Syahid Qasim Soleimani. “Jika tidak ada Haj Qasim, seluruh kapasitas yang ada di sana akan lumpuh,” tegasnya.
Kebijakan Penarikan Pasukan Tidak Esensial dari Suriah
Mayor Jenderal Salami menjelaskan bahwa setelah kekuasaan ISIS dihancurkan, IRGC memutuskan untuk menarik pasukan yang tidak esensial dari Suriah. “Ketika lingkungan sudah aman, dan tentara Suriah mampu mengambil alih garis pertahanan serta menyediakan keamanan, Iran memutuskan untuk meminimalkan keberadaan kami di Suriah,” ujarnya.
Menurutnya, hal ini dilakukan untuk menghindari pemberian alasan politik dan propaganda kepada oposisi Pemerintah Suriah. “Kami mengurangi kehadiran kami sebisa mungkin dan memasuki proses yang disebut Astana, yang berfokus pada pengendalian pihak-pihak yang terlibat untuk melanjutkan gencatan senjata dan keamanan di Suriah,” jelasnya.
Iran Selalu Membalas Serangan Israel
Mayor Jenderal Salami mengingatkan bahwa selama 13 tahun terakhir, Iran berupaya untuk membuat Hizbullah di Lebanon dan Gerakan Perlawanan Palestina lebih mandiri secara geografis dari dukungan Iran.
Ia menekankan bahwa kemandirian Gerakan-gerakan Perlawanan yang berinteraksi dengan Iran selalu menjadi kebijakan strategis Iran. “Beberapa pihak berpikir bahwa Israel menyerang kami, tetapi kami tidak membalas. Ini tidak benar. Selama delapan tahun terakhir, kami tidak pernah membiarkan tindakan Israel berlalu tanpa balasan,” tegasnya.
Tidak Masuk Akal Menggantikan Peran Tentara Suriah Sepenuhnya
Mayor Jenderal Salami menegaskan bahwa tidak logis jika IRGC dan Basij bertempur menggantikan tentara Suriah. “Apakah masuk akal bagi kami untuk melibatkan seluruh IRGC dan Basij dalam perang di negara lain sementara tentara negara tersebut hanya menjadi penonton?” ujarnya.
Jenderal Salami juga menyebutkan bahwa banyak jalur logistik Iran ke Suriah yang terputus, namun Pemerintah Iran tetap berupaya maksimal memberikan bantuan.
“Kami harus hidup dengan realitas di Suriah dan bertindak berdasarkan fakta.” Meski begitu, Salami dengan bangga menegaskan bahwa “Pasukan IRGC adalah yang terakhir meninggalkan garis perlawanan di Suriah. Orang terakhir yang meninggalkan medan ini adalah seorang anggota IRGC.”
Perubahan Strategi Berdasarkan Kondisi
Jenderal Salami menekankan pentingnya fleksibilitas dalam strategi. “Strategi harus berubah sesuai kondisi. Dengan stagnasi dan stabilitas dalam strategi, kita tidak dapat menyelesaikan berbagai masalah global dan regional,” katanya.
Penguasaan Informasi Intelijen Iran dan Peringatan kepada Suriah
Salami juga mengungkapkan bahwa Iran telah mengetahui pergerakan kelompok bersenjata dan Takfiri berbulan-bulan sebelumnya. “Melalui teknik intelijen, saudara-saudara kami berhasil menemukan poros serangan mereka dan menyampaikannya ke level politik dan militer Suriah. Namun, karena tidak ada kehendak sejati untuk perubahan, perang, dan ketahanan, sayangnya terjadilah apa yang kita saksikan,” jelasnya.
Keberanian Hizbullah dalam Perlawanan
Ia memuji keberanian Hizbullah yang mampu bangkit dari tekanan serangan berat. “Hizbullah, dengan perlawanan yang penuh semangat, menunjukkan kekuatan iman meski dalam situasi yang sangat tidak seimbang. Syukur kepada Allah, Poros Perlawanan kini lebih mandiri secara geografis dari Iran,” ujarnya.
Jenderal Salami juga menekankan bahwa Hizbullah tetap hidup dan penuh semangat, sementara rezim Zionis menghadapi arus kebencian politik global yang semakin besar. “Semua ini adalah kekalahan besar bagi mereka,” tambahnya.
Republik Islam Tidak Kehilangan Pengaruh Regionalnya
Terkait cemoohan bahwa Iran telah kehilangan pengaruh regionalnya, Salami dengan tegas membantahnya. “Beberapa pihak mencoba menyebarkan isu bahwa Republik Islam telah kehilangan pengaruh regionalnya. Tidak, kami tidak kehilangan pengaruh kami,” ujarnya.
Iran Memiliki Legitimasi Kuat untuk Berperang
Jenderal Salami menjelaskan bahwa Iran memutuskan tindakan militernya berdasarkan kapasitas internalnya. “Kami memiliki logika politik yang kuat untuk berperang, legitimasi yang kokoh untuk membela diri, bangsa besar yang siap berdiri, seorang pemimpin besar yang memberikan inspirasi, dan kekuatan bersenjata yang tetap utuh. Jika kami lemah, kami tidak akan mampu memenuhi janji-janji kami,” tegasnya.
Dukungan untuk Poros Perlawanan Tetap Terbuka
Ia menekankan bahwa jalur dukungan untuk Poros Perlawanan tetap terbuka. “Ini tidak berarti semua jalur hanya terbatas di Suriah. Bahkan di sana, kondisinya mungkin perlahan berubah bentuk,” pungkasnya.
