Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Erdogan, Anggur Asam yang Diharapkan Menjadi Manis, Tapi Malah Menjadi Anggur Memabukkan

POROS PERLAWANAN – Hossein Shariatmadari, Pemimpin Redaksi Surat Kabar Kayhan, memberikan pandangannya mengenai peran Turki dalam kejatuhan pemerintah Suriah. Dalam wawancara dengan Fars News Agency, pada Kamis, 12 Desember, Shariatmadari menyebutkan bahwa kebijakan Turki di bawah pemerintahan Recep Tayyip Erdogan telah selaras dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel. Menurutnya, Erdogan telah menjalankan misi yang dirancang oleh kedua negara tersebut untuk melemahkan Suriah.

Ia menegaskan, “Hanya sekitar satu jam setelah gencatan senjata antara rezim Zionis dan Hizbullah Lebanon, sekitar 20 ribu militan Takfiri bersenjata lengkap menyerbu Suriah melalui perbatasan utara, yang dikendalikan Turki. Para militan ini berasal dari berbagai negara, termasuk Tajikistan, Uzbekistan, Turkistan Timur (Uyghur), dan sejumlah negara lainnya.”

Peran Strategis Turki

Shariatmadari menjelaskan bahwa operasi militer besar-besaran ini membutuhkan perencanaan matang selama berbulan-bulan, termasuk pelatihan dan penyediaan logistik. Turki, sebagai anggota NATO, memainkan peran sentral dalam proses tersebut. “Tidak hanya menyediakan jalur masuk bagi militan, Turki juga secara langsung terlibat dengan membombardir puluhan titik strategis di wilayah Suriah,” tambahnya.

Kritik terhadap Erdogan

Menanggapi citra Erdogan yang kerap disebut sebagai pemimpin Islamis, Shariatmadari mengkritik arah kebijakan Erdogan yang dianggapnya telah menyimpang jauh dari prinsip-prinsip awal yang ia gaungkan. Shariatmadari mengutip laporan media Barat, seperti United Press, yang pernah menyebut kemenangan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) sebagian besar didukung oleh citra istri para pemimpinnya yang mengenakan hijab. Namun, menurut Shariatmadari, Erdogan kemudian menjauh dari jalur tersebut dan kini berada di posisi yang “sangat disayangkan.”

Pernyataan Necmettin Erbakan

Sebagai penutup, Shariatmadari mengutip pernyataan almarhum Necmettin Erbakan, tokoh Islamis dan mantan Perdana Menteri Turki, yang pernah mengomentari penyimpangan Erdogan. “Erdogan adalah ghureh (anggur asam) yang kami harapkan akan menjadi anggur manis, tetapi ia malah berubah menjadi sharab (anggur memabukkan),” ujar Shariatmadari mengutip Erbakan.

Pernyataan ini mencerminkan kekecewaan berat para pengamat Islamis terhadap Erdogan yang dianggap telah meninggalkan nilai-nilai Islam dalam kebijakan domestik dan luar negerinya, terutama dalam konteks konflik di Suriah.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *