Moskow Tepis Klaim AS Tidak Terlibat Teror Jenderal Rusia
POROS PERLAWANAN – Jubir Kemenlu Rusia, Maria Zakharova membantah klaim Washington bahwa AS tidak terlibat dalam teror terhadap Jenderal Igor Kirillov.
Diberitakan Fars, dalam wawancara dengan RIA Novosti pada Rabu dini hari 18 Desember, Zakharova menyebut klaim Washington tersebut “menggelikan.” Ia menegaskan bahwa pernyataan semacam itu tak perlu didengarkan.
“Washington menciptakan rezim Kiev dan mempersenjatainya. AS juga tidak pernah mengecam serangan teroris atau teror yang direncanakan rezim Kiev,” kata Zakharova.
Pada hari Selasa kemarin, media-media Rusia memberitakan teror terhadap Kepala Pasukan Pertahanan Nuklir, Kimia, dan Biologi Rusia tersebut.
Mengutip dari sebuah sumber di Badan Keamanan Ukraina, Kantor Berita Reuters melaporkan bahwa teror terhadap Kirillov dilakukan oleh Intelijen Ukraina.
Meski demikian, Reuters mengaku tidak bisa membuktikan kebenaran klaim tersebut secara independen.
Berdasarkan laporan sumber-sumber Rusia, Kirillov (54 tahun) menjabat sebagai Kepala Pasukan Pertahanan Nuklir, Kimia, dan Biologi Rusia sejak tahun 2017. Setelah dimulainya perang Ukraina, namanya tercantum dalam daftar sanksi Barat.
Kirillov mengadakan konferensi pers secara rutin di Kemenhan Rusia. Dalam konferensi-konferensi tersebut, ia menjabarkan proyek-proyek di berbagai laboratorium biologi Pentagon di tanah Ukraina untuk menggunakan senjata biologi terhadap Rusia. Ia juga menjelaskan ancaman dari Ukraina yang menggunakan bahan kimia dan radioaktif untuk menyerang Rusia.
Komite Investigasi Rusia dalam statemennya mengumumkan, pada Selasa pagi kemarin sebuah bom yang ditaruh di sebuah sepeda listrik meledak di depan pintu masuk sebuah apartemen di Moskow. Ledakan tersebut menewaskan Kirillov dan asistennya.
Wakil ketua Dewan Keamanan Rusia, Dimytri Medvedev menanggapi teror Kirillov dengan mengatakan,”Upaya untuk menakut-nakuti warga Rusia, menghentikan pergerakan maju Militer Rusia, dan menyebarkan ketakutan pasti akan gagal.”
Ia menyebut kejadian tersebut sebagai serangan teroris dan mengatakan,”Pimpinan militer dan politik rezim Kiev harus menantikan balas dendam tak terelakkan atas pembunuhan Kirillov.”
