Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Kenapa Faksi-faksi Perlawanan Beralih Gunakan Senjata Tajam dan Sabuk Bom?

Kenapa Faksi-faksi Perlawanan Beralih Gunakan Senjata Tajam dan Sabuk Bom?

POROS PERLAWANAN – Salah satu karakteristik menonjol Perlawanan Palestina di Gaza adalah fleksibilitas dan kemampuan adaptasinya dengan berbagai kondisi perang, juga menyusun strategi baru untuk menghadapi Rezim Zionis dan mementahkan rencana-rencana Netanyahu.

“Pada Sabtu pagi 21 Desember, para pejuang Brigade al-Qassam menyergap pasukan Israel di utara Gaza. Para pejuang membunuh 5 serdadu Zionis dengan senjata tajam dan mengambil senjata mereka. Serangan ini menandakan dimulainya fase baru strategi menghadapi Rezim Zionis. Hal ini menunjukkan, Perlawanan masih aktif, terutama di kawasan kamp pengungsi Jabaliya dan Bet Lahiya. Padahal Militer Israel berusaha mengosongkan kawasan-kawasan tersebut dari penduduk dan memuluskan jalan untuk membangun permukiman-permukiman Zionis,” tulis Abdel Bari Atwan di Rai al-Youm, diberitakan al-Alam.

“Kami tidak menepis klaim sejumlah analis militer Israel bahwa Perlawanan beralih menggunakan senjata tajam dan operasi berani syahid disebabkan kelangkaan senjata api dan amunisi. Sebab, dengan melihat konfrontasi faksi-faksi Perlawanan Palestina selama 15 bulan dengan Militer terkuat ke-5 dunia, yang disokong sepenuhnya oleh AS dan Eropa, problem (kelangkaan senjata dan amunisi) ini jelas akan muncul.”

“Ketika gudang-gudang senjata besar dan modern Rezim Zionis dalam perang ini saja terkuras, sehingga mereka terpaksa mengemis dari AS untuk mengisinya kembali, jelas bahwa stok senjata dan amunisi terbatas al-Qassam, dan Brigade al-Quds akan habis. Apalagi Rezim Zionis memblokir seluruh jalan masuk ke Gaza dari darat dan udara, menduduki koridor Salahudin, memblokade kawasan ini dari arah laut, dan menghancurkan gudang-gudang senjata Perlawanan dalam beberapa bulan lalu.”

“Berlawanan dengan impian Netanyahu, perlawanan heroik Gaza tidak akan menyerah dan mengibarkan bendera putih. Ketika Perlawanan mengalahkan Militer Israel, menyungkurkan hidung Ariel Sharon ke tanah, dan memaksanya menerima kekalahan, pada saat itu Perlawanan tidak memiliki rudal, drone, atau senjata baru. Pada hakikatnya, tekad yang di hari itu menang, saat ini masih ada dan bahkan lebih kuat dibandingkan tahun 2005.”

Dalam pandangan Redaktur Rai al-Youm, Perlawanan Gaza memiliki 4 jenis senjata yang akan mereka gunakan dalam tahap kedua perjuangan:

Pertama, sabuk bom yang bisa dibuat dengan mudah untuk digunakan dari jarak dekat dalam operasi berani syahid. Sabuk-sabuk bom ini sangat efektif dan membuat takut Militer Israel di Tepi Barat.

Kedua, meningkatnya operasi berani syahid di Gaza dan perpindahan taktik ini ke Tepi Barat. Bukti-bukti yang ada menunjukkan penguatan taktik ini. Salah satunya adalah distribusi lebih dari 7 ribu pucuk senjata adi tengah para pemukim Zionis baru-baru ini.

Ketiga, bergabungnya lebih dari puluhan ribu pemuda Gaza dengan faksi-faksi Perlawanan. Mereka menyatakan siap syahid di medan tempur alih-alih di tenda-tenda pengungsian.

Keempat, legalisasi penggunaan senjata, taktik pemasangan bom di reruntuhan, penggunaan sabuk bom, senjata tajam, dan artileri, menghadapi musuh dari jarak dekat, dan melakukan perlawanan dengan segala sarana.

“Ketika musuh yang memandang pembunuhan anak-anak, pembakaran mereka di kemah-kemah, dan pelaparan mereka hingga nyaris mati sebagai sebuah kesenangan, terpaksa dihadapi Perlawanan dengan senjata tajam dan sabuk bom, ini adalah sebuah aib bagi umat manusia, Pemerintah-pemerintah Arab-Islam, dan para jenderal mereka yang menghabiskan miliaran Dolar demi membeli senjata untuk diri mereka sendiri,” sindir Atwan.

“Sebagian negara tetangga Gaza dan Tepi Barat bukan hanya tidak memberikan dukungan untuk bangsa Palestina, tapi bahkan bekerja sama dengan musuh. Ini terutama ditujukan kepada Mesir dan Yordania. Mereka bukan hanya menutup perbatasan dan tidak memberikan senjata, bahkan juga tidak memberikan obat dan makanan kepada bangsa Palestina. Mesir dan Yordania telah melakukan ‘dosa terbesar’ yang tidak akan diampuni Allah.”

“Perlawanan di Gaza dan Tepi Barat pasti akan menang, sebagaimana mereka menang di Intifada I dan II.”

Di akhir tulisannya, Atwan mengapresiasi Yaman yang tetap konsisten membela Perlawanan Palestina. Meski Sanaa dan al-Hudaydah digempur oleh AS, Inggris, dan Israel, namun Yaman tetap menyerang Tel Aviv, Eilat, dan kapal-kapal AS-Inggris dengan drone dan rudal hipersonik.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *