Penobatan ‘Man of the Year’ Imam Khomeini Tahun 1979 oleh Time, Tandai Era Baru Perlawanan Global
POROS PERLAWANAN – Pada penghujung tahun 1979, Time—majalah berita internasional terkemuka asal Amerika Serikat—menobatkan Ayatullah Ruhollah Khomeini sebagai ‘Man of the Year’. Gelar ini diberikan kepada individu yang paling memengaruhi berita global selama setahun terakhir, baik secara positif maupun negatif. Penobatan tersebut mencerminkan dampak Revolusi Islam Iran yang dipimpin Imam Khomeini terhadap tatanan geopolitik global.
Revolusi yang Mengubah Dunia
Revolusi Islam Iran pada Februari 1979 merupakan salah satu peristiwa yang paling berdampak di abad ke-20. Dalam kurun waktu yang singkat, sistem monarki absolut di bawah Syah Mohammad Reza Pahlavi—boneka Amerika Serikat dan negara-negara Barat—digulingkan oleh gerakan rakyat yang dipimpin Imam Khomeini. Peristiwa ini tidak hanya memunculkan sistem negara Republik Islam Iran tetapi juga mengubah dinamika politik global, terutama di kawasan Timur Tengah.
Sejak awal, media internasional memusatkan perhatian pada Revolusi ini, terutama karena keberadaan Imam Khomeini sebagai simbol utama perjuangan rakyat Iran. Dalam narasinya, Time menggambarkan peristiwa tersebut sebagai transformasi besar yang tidak hanya memengaruhi Iran, tetapi juga sistem kekuatan dunia.
Wawancara Bersejarah di Qom
Pada 29 Desember 1979, dua jurnalis Time, L. Bruce van Voorst dan Roland Flamini, mendapat kesempatan langka untuk mewawancarai Imam Khomeini di Qom, kota suci di Iran yang menjadi pusat gerakan revolusioner. Wawancara ini terjadi sehari sebelum Time mengumumkan Imam Khomeini sebagai ‘Tokoh Tahun Ini’.

Dalam wawancara tersebut, Imam Khomeini membahas berbagai isu penting, mulai dari kejahatan rezim Syah hingga dampak internasional Revolusi Islam. Imam juga secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap para mahasiswa Iran yang menyerbu Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tehran pada 4 November 1979. Aksi tersebut, yang memicu krisis sandera selama 444 hari, menjadi simbol Perlawanan Iran terhadap “imperialisme” Amerika.
Saat ditanya tentang kemungkinan pembebasan para sandera Amerika, Imam Khomeini dengan tegas menjawab:
“Kami ingin membuktikan kepada dunia bahwa negara Adikuasa dapat dikalahkan oleh kekuatan Iman. Kami akan melawan Amerika dengan sekuat tenaga. Kami tidak takut pada kekuatan apa pun.”
Imam Khomeini di Mata Time
Dalam artikelnya, Time menggambarkan Imam Khomeini sebagai seorang tokoh yang penuh paradoks:
Seorang ulama berusia 79 tahun yang hidup sederhana di Qom tetapi mampu mengguncang dunia. Pemimpin spiritual yang sekaligus menjadi simbol Perlawanan politik global terhadap kekuatan adidaya.
Majalah ini menulis:
“Satu hal yang pasti: dunia tidak akan terlihat sama seperti sebelum 1 Februari 1979, hari ketika [Imam] Khomeini terbang kembali ke Tehran setelah 15 tahun diasingkan.”
Dengan penobatan ini, Imam Khomeini menjadi tokoh Iran kedua yang meraih gelar ‘Man of the Year’. Sebelumnya, Perdana Menteri Mohammad Mossadegh menerima penghormatan serupa pada 1951, setelah kebijakannya menasionalisasi industri minyak Iran.
Dampak Revolusi Islam
Time menyoroti dampak besar Revolusi Islam Iran terhadap dunia, baik di kalangan negara-negara Muslim maupun non-Muslim. Revolusi ini tidak hanya menginspirasi umat Muslim untuk melawan imperialisme Barat, tetapi juga mengguncang tatanan politik internasional yang sebelumnya didominasi oleh dua kekuatan Adidaya: Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Majalah itu memperingatkan bahwa ide-ide revolusi Imam Khomeini akan menyebar dari India ke Turki, Jazirah Arab, hingga Afrika. Dengan menjadikan Al-Quran sebagai landasan Hukum tertinggi, Revolusi Islam Iran menciptakan tantangan baru terhadap gagasan modernisasi dan industrialisasi yang selama ini dipromosikan oleh Barat.
Selain itu, revolusi ini juga berdampak signifikan pada ekonomi global. Tahun 1979 menandai dimulainya era baru di mana dunia menghadapi kekurangan minyak yang kronis akibat gejolak politik di Iran, salah satu produsen minyak utama dunia.
Reaksi Dunia Barat
Dalam analisisnya, Time menyoroti hubungan antara Revolusi Islam dengan sejarah panjang kolonialisme Barat di dunia Muslim. Dukungan Amerika Serikat terhadap Syah Mohammad Reza Pahlavi dan Israel dianggap sebagai bentuk kelanjutan imperialisme yang memicu kebangkitan gerakan anti-Barat.
Di sisi lain, revolusi ini juga memicu aksi protes di berbagai negara Muslim. Di Pakistan, misalnya, massa membakar Kedutaan Besar Amerika di Islamabad, menewaskan dua tentara AS. Di Arab Saudi, kerentanan monarki terlihat jelas ketika kelompok bersenjata merebut Masjidil Haram di Mekkah, simbol suci umat Islam.
Time menyebut Revolusi Iran sebagai “krisis internasional besar pertama yang tidak terkait dengan konflik Timur-Barat.” Majalah itu juga memperingatkan bahwa Perlawanan yang dipimpin Imam Khomeini telah merusak stabilitas Timur Tengah—wilayah strategis yang menyuplai lebih dari separuh kebutuhan minyak dunia Barat.
Dalam pandangan Time, revolusi ini bukan sekadar peristiwa lokal, tetapi menjadi katalisator perubahan besar di dunia. Ide-ide Imam Khomeini menginspirasi umat Muslim di seluruh dunia, sekaligus mengubah cara negara-negara Barat memahami dinamika politik dan budaya di Timur Tengah.
Kini di bawah kepemimpinan Ayatullah Imam Ali Khamenei, Iran tetap teguh dengan melanjutkan visi, misi dan perjuangan agung Imam Khomeini. Dalam kata-kata yang melegenda, Imam Khomeini pernah berkata:
“Amrika hich ghalati nemitavanad bokonad.” Bahwa Amerika tidak bisa melakukan apa-apa.
Frasa ini digunakan dalam konteks untuk menekankan ketidakberdayaan dan ketidakmampuan Amerika Serikat dalam mencapai tujuannya di Iran.
Pernyataan Imam Khomeini ini tetap relevan dalam konteks geopolitik modern sekarang, yang mencerminkan posisi Iran sebagai salah satu kekuatan politik dan ideologis utama di kawasan Timur Tengah bahkan global.[]
