Haj Qasim Soleimani dan Hashd al-Shaabi: Warisan Strategis untuk Keamanan Irak Masa Lalu dan Masa Kini
POROS PERLAWANAN – Warisan strategis dari Komandan Syahid Haj Qasim Soleimani dalam pembentukan Hashd al-Shaabi di Irak kini menjadi kekuatan resmi negara yang berperan penting dalam menjaga keamanan Irak dari ancaman terorisme.
Menurut laporan Tasnim News Agency pada Selasa 31 Desember, kegagalan proyek “Timur Tengah Baru” setelah perang 33 hari di Lebanon pada 2006 mendorong Amerika Serikat dan Israel merancang konspirasi baru yang bertujuan menciptakan ketidakstabilan di Kawasan.
Irak dan Suriah menjadi sasaran utama konspirasi ini, dengan dukungan finansial dari negara-negara Arab yang memungkinkan lahirnya kelompok ekstremis Takfiri seperti ISIS. Pada 2013, ISIS berhasil merebut Ramadi, Fallujah, Mosul, dan Tikrit, menguasai wilayah seluas 56 ribu kilometer persegi, serta mendominasi kehidupan 4,5 juta penduduk Irak.
Krisis Mosul dan Panggilan untuk Bantuan
Serangan mendadak ISIS ke Mosul pada 10 Juni 2014 memaksa Perdana Menteri Irak saat itu, Nouri al-Maliki, menghubungi Abu Mahdi al-Muhandis melalui telepon dan meminta bantuan dari Iran. Maliki memperingatkan bahwa setiap penundaan dalam pengiriman perlengkapan militer atau kehadiran penasihat militer Iran akan mengakibatkan jatuhnya Baghdad dalam hitungan jam.
Abu Mahdi segera melaporkan situasi tersebut kepada Komandan Pasukan Quds, Haj Qasim Soleimani, dan mengundangnya ke sebuah pertemuan di kediamannya di Baghdad. Pada Juni 2014, Haj Qasim tiba di Irak dan menghadiri pertemuan dengan komandan Korps Badr serta penasihat militer Iran yang telah dikerahkan.
Strategi Pembentukan Pasukan Rakyat
Dalam pertemuan tersebut, Haj Qasim berbagi pengalamannya dalam menghadapi kelompok ekstremis selama perang Iran-Irak. Ia mengusulkan pembentukan pasukan rakyat untuk menghadapi ancaman ISIS. Berdasarkan usulan tersebut, Kabinet Irak yang dipimpin Maliki pada 10 Juni 2014 mengeluarkan pernyataan resmi untuk merekrut relawan dan membentuk Pasukan Rakyat.
Pasukan ini kemudian dikenal sebagai Hashd al-Shaabi, yang dipimpin oleh Haj Abu Mahdi al-Muhandis. Dalam waktu singkat, pasukan ini berhasil diorganisasi dan dikerahkan ke garis depan untuk melawan terorisme ekstremis.
Fatwa Jihad dan Perlawanan
Pada 13 Juni 2014, ulama tertinggi di Najaf, Ayatullah Sayyid Ali Sistani mengeluarkan fatwa yang menyatakan perang melawan Takfiri ISIS sebagai kewajiban kolektif (Fardhu Kifayah). Fatwa ini menjadi landasan moral bagi masyarakat Irak untuk bergabung dengan Hashd al-Shaabi.
Bersamaan dengan itu, Haj Qasim bersama Abu Mahdi bergerak ke wilayah al-Dujail untuk menghentikan gerak maju ISIS menuju Baghdad. Dalam perjalanan berikutnya, Haj Qasim mengorganisasi Hashd al-Shaabi dan Poros Perlawanan, yang kemudian berhasil mencegah jatuhnya Baghdad serta melindungi situs-situs Suci di Irak.
Warisan Strategis
Strategi dan kepemimpinan Haj Qasim Soleimani membentuk dasar Hashd al-Shaabi, yang kini menjadi pasukan resmi Irak. Pasukan ini tidak hanya melindungi negara dari ancaman terorisme, tetapi juga menjaga stabilitas dan kedaulatan nasional.
Pemikiran strategis ini menjadi warisan berharga yang terus memainkan peran penting dalam menghadapi tantangan keamanan di Irak hingga hari ini.
