Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Haaretz Laporkan Kekejaman dan Pelanggaran Berat Militer Israel dalam Operasi Penghancuran di Gaza

POROS PERLAWANAN – Harian berbahasa Ibrani, Haaretz, melalui investigasi mendalam, mengungkapkan sejumlah pelanggaran berat yang dilakukan oleh militer Israel di Jalur Gaza. Laporan ini merinci penghancuran sistematis terhadap rumah-rumah warga Palestina yang melibatkan tindakan di luar prosedur militer resmi.

Dalam laporannya yang dilansir Farsnews Agency pada Rabu 1 Januari, Haaretz menyebut bahwa Komandan Divisi 252 Angkatan Darat Israel, Brigadir Jenderal Yehuda Fakh, secara sepihak melancarkan operasi penghancuran di Gaza. Ia juga memberikan kewenangan kepada saudaranya untuk membentuk Unit Khusus yang bertugas menghancurkan bangunan milik warga Palestina di wilayah tersebut.

Tindakan di Luar Prosedur Militer Resmi

Menurut investigasi tersebut, Unit yang dibentuk oleh saudara Fakh beroperasi dengan tujuan utama untuk menghancurkan sebanyak mungkin bangunan di Gaza.

Haaretz lebih lanjut melaporkan bahwa Fakh melibatkan individu-individu di luar struktur resmi militer, termasuk kelompok ekstremis Zionis “Pemuda Bukit”, untuk mendukung operasinya. Unit ini diizinkan untuk masuk ke kawasan Netsarim tanpa melalui proses pencatatan identitas atau izin resmi.

Seorang perwira teknik Militer Israel mencoba mempertanyakan tindakan Unit ini saat mereka melakukan penghancuran, tetapi ia diperingatkan untuk tidak mencampuri operasi tersebut. Para anggota Unit tersebut dilaporkan merasa bahwa mereka sedang menjalankan misi yang mereka anggap “berani dan membanggakan”, meskipun melanggar prosedur standar.

Pengusiran Paksa Warga Gaza Utara

Dalam laporan tersebut, Haaretz mengutip pernyataan perwira Zionis yang menyebut bahwa Fakh memerintahkan tentara di bawah komandonya untuk mengusir sekitar 250.000 warga Palestina dari rumah mereka di wilayah utara Gaza. Fakh berpendapat “warga Palestina hanya akan belajar melalui kehilangan tanah mereka”.

Haaretz juga melaporkan bahwa Fakh memerintahkan penghancuran bangunan yang tidak memiliki nilai strategis militer. Ia menetapkan target penghancuran 60 bangunan per hari di kawasan Netsarim, dengan tujuan memastikan tidak ada warga yang kembali ke wilayah tersebut.

Motivasi dan Tujuan Operasi

Menurut sumber militer yang diwawancarai oleh Haaretz, Fakh memiliki ambisi pribadi untuk menciptakan reputasi sebagai pemimpin yang berhasil dalam misi militer. Ia menyatakan bahwa “kesuksesan Divisi ini akan terwujud jika seluruh penduduk Gaza utara dipaksa mengungsi ke wilayah selatan”.

Haaretz menutup laporannya dengan mengutip salah satu perwira Israel yang mengatakan bahwa “ini adalah perang pertama di mana setiap orang dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan”. Pernyataan ini menunjukkan lemahnya pengawasan dan kendali dalam operasi militer tersebut, yang berpotensi melanggar hukum humaniter internasional.

Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Laporan ini menimbulkan keprihatinan mendalam terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Hukum Internasional oleh tentara Israel. Pengusiran paksa, penghancuran properti sipil tanpa alasan strategis, serta keterlibatan pihak di luar militer dalam operasi ini menjadi sorotan utama.

Pihak-pihak internasional, termasuk organisasi hak asasi manusia, diharapkan untuk menyelidiki dan mengambil langkah hukum atas tindakan ini guna memastikan keadilan bagi korban dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *