Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Ketika Warga Dunia Rayakan Tahun Baru dengan Gemerlap Bahagia, Derita Tak Berkesudahan Terus Menimpa Gaza

POROS PERLAWANAN – Di saat dunia merayakan Tahun Baru dengan gemerlap dan harapan baru, Gaza terjerat dalam penderitaan  tak terhingga. Sementara tawa dan kebahagiaan memenuhi udara di berbagai penjuru dunia, di Gaza, jeritan dan ratapan tidak pernah berhenti. Pembunuhan, kelaparan, penyakit, dan pengungsian menggerogoti setiap aspek kehidupan mereka, sementara tenda-tenda darurat yang rapuh, kekurangan air bersih, serta makanan yang semakin menipis menambah beban mereka yang tak tertahankan. Setiap hari, mereka hidup dalam ketidakpastian, di bawah bayang-bayang keputusasaan yang kian tebal, tanpa kejelasan kapan derita ini akan berakhir.

Keheningan dan Pengabaian Dunia

Di balik tragedi yang sudah berbulan-bulan lamanya ini, dunia seakan terperangkap dalam keheningan. Tidak ada teriakan protes yang menggelegar, hanya ada kebisuan yang meresahkan. Ketika negara-negara di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berusaha mengajukan resolusi untuk menghentikan kekerasan yang dilancarkan Israel, mereka hanya menemui tembok veto yang keras, yang diletakkan oleh Amerika Serikat. Upaya-upaya diplomatik yang sejatinya harus melindungi rakyat Palestina justru menjadi sia-sia, terhalang oleh blokade politik yang mencekik. Rakyat Gaza harus terus menderita, sementara dunia berbalik arah.

Dingin yang Memperburuk Penderitaan

Datangnya musim dingin hanya menambah derita yang sudah tak terhingga. Suhu yang membekukan tubuh semakin mempersulit kehidupan mereka yang terpaksa berlindung dalam tenda-tenda yang bocor dan pengungsian yang kekurangan fasilitas. Baru-baru ini, tak kurang dari enam bayi harus mengembuskan napas terakhir mereka akibat kedinginan yang menggigit. Dan PBB, melalui UNRWA, memperingatkan bahwa lebih banyak bayi akan kehilangan nyawa jika suhu yang sangat rendah ini terus melanda tanpa adanya bantuan. Betapa pilunya, dunia yang sibuk merayakan kehidupan baru, sementara di Gaza, kehidupan itu direnggut oleh dingin yang tak kasat mata.

Seorang ibu yang terpaksa mengungsi ke tenda darurat di Deir Al-Balah, Alaa Al-Shawish menceritakan betapa keputusasaan itu semakin merenggut harapan.

“Kami mati karena kedinginan. Ini bukan hidup, ini bukan kehidupan. Saya berdoa setiap hari agar kami mati untuk dibebaskan dari hidup ini,” kata Al-Shawish, dengan suara penuh kepedihan. Dalam setiap kata-katanya, terasa betapa rapuhnya harapan mereka yang tertindas. Begitu banyak orang, termasuk Yahya Al-Batran, yang hanya bisa pasrah melihat anak-anak mereka, seperti bayi berusia 20 hari yang baru saja meninggal karena kedinginan, meninggalkan mereka dalam kehancuran yang tak terperi.

Mengapa Mereka Harus Menanggung Semua Ini?

Di tengah-tengah penderitaan yang terus berlanjut ini, satu pertanyaan besar terus menggelora: mengapa rakyat Gaza harus menanggung semua ini? Apa salah mereka? Apa dosa sekitar 2,3 juta jiwa yang hidup di Gaza? Atau, mungkinkah satu-satunya kesalahan mereka adalah dilahirkan di tanah yang kini dikenal dengan nama Palestina?

Sejarah panjang penjajahan di tanah Palestina memberikan gambaran yang lebih kompleks. Sejak awal abad ke-20, tanah Palestina telah menjadi medan perebutan. Ketika para penjajah mengukuhkan berdirinya negara Israel pada 1948, mereka menulis ulang takdir rakyat Palestina. Sebelum itu, umat Muslim dan Yahudi hidup berdampingan dalam damai, namun kedatangan Zionis mengubah segalanya. Penderitaan yang datang sejak saat itu terus berlanjut hingga hari ini, semakin dalam dan tak berkesudahan.

Sejarah yang Mengarah ke Ketegangan Tanpa Henti

Albert Einstein, dalam sebuah wawancara yang dimuat di Haaretz pada 23 November 2015, mengungkapkan kekhawatirannya akan meningkatnya ketegangan di Palestina akibat kedatangan gelombang besar imigran Yahudi pada 1920-an. Kekhawatirannya ternyata terbukti, saat ketegangan tersebut semakin memuncak dan akhirnya berujung pada konflik yang tak berkesudahan. Sejak pendirian Israel, dunia internasional, terutama Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, lebih memilih untuk mendukung Israel daripada menekan negara tersebut untuk memberi ruang bagi rakyat Palestina memiliki negara mereka sendiri. Bila kesempatan itu diberikan, mungkin tragedi yang terjadi pada 7 Oktober 2023 bisa dihindari, dan rakyat Palestina tidak perlu mengalami kehancuran ini.

Namun, di balik semua itu, pemimpin-pemimpin Israel, dengan tangan yang penuh kekuasaan, tampaknya justru memanfaatkan kesempatan ini untuk menghancurkan apa yang tersisa dari Palestina. Dengan melanjutkan pendudukan dan mengabaikan hak-hak dasar rakyat Palestina, mereka memperburuk keadaan yang sudah sangat memprihatinkan ini.

Warga Gaza, Terperangkap dalam Penderitaan yang Tak Terhingga

Saat anak-anak di seluruh dunia merayakan Tahun Baru dengan penuh kegembiraan, anak-anak Gaza masih terperangkap dalam kegelapan, tanpa harapan untuk hidup yang lebih baik. Keputusasaan, kematian yang tak terelakkan, dan ketidakpastian masa depan mereka menciptakan realitas yang jauh berbeda dari pesta yang berlangsung di luar sana. Gaza, yang seharusnya menjadi tempat di mana harapan masih ada, kini telah menjadi simbol dari penderitaan yang tak berujung. Dan dalam kebisuan dunia, pertanyaan ini terus menggema: kapan penderitaan mereka akan berakhir? Kapan dunia akan benar-benar mendengar tangisan mereka dan mengakhiri tragedi ini? [PP/MT]

Referensi:

1. Haaretz, “Albert Einstein and the Problem of Zionism”, 23 November 2015.

2. United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA), “Winter Crisis in Gaza and the Humanitarian Response”, 2023.

3. United Nations, “Humanitarian Crisis in Gaza”, 2023.

4. BBC News, “Israel-Palestinian Conflict: Gaza and the Aftermath of October 7”, 2023.

5. Amnesty International, “Gaza: Human Rights Crisis”, 2023.

6. Human Rights Watch, “Gaza: A Decade of Crisis”, 2023.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *