Perlawanan Rakyat di Latakia Tewaskan Komandan Teroris HTS
POROS PERLAWANAN – Kelompok teroris yang dipimpin oleh Abu Muhammad al-Jolani mengalami pukulan keras di provinsi Latakia, Suriah, setelah terjebak dalam serangan yang dilakukan oleh pasukan lokal. Salah satu pemimpin militer kelompok teroris ini dilaporkan tewas pada Selasa 07 Januari. Peristiwa ini dianggap sebagai awal kebangkitan Perlawanan rakyat di wilayah yang tengah dikuasai oleh teroris.
Kondisi Suriah yang Semakin Kompleks
Situasi di Suriah terus memburuk. Setelah jatuhnya Damaskus pada 8 Desember lalu akibat intervensi yang melibatkan Amerika Serikat, Turki, rezim Zionis, dan sejumlah negara Barat serta Arab, kekacauan semakin meluas. Kelompok teroris seperti Haiat Tahrir al-Sham (HTS) kini mendominasi dan terus menindas rakyat. Sementara itu, rezim Zionis dan sekutunya memperkuat pijakan mereka di Suriah dengan menguasai sumber daya air dan infrastruktur yang tersisa.
Ketidakpuasan rakyat terhadap kelompok teroris semakin meningkat. Laporan dari Al Jazeera menyebutkan bahwa pasukan HTS, yang dikenal sebagai rezim al-Jolani, disergap oleh pasukan lokal di Latakia. Dalam insiden tersebut, sejumlah teroris tewas, termasuk seorang pemimpin senior.
Pengiriman Pasukan ke Daraa
Senin kemarin, sekitar 2.000 anggota teroris HTS dikirim ke provinsi Daraa untuk menekan Perlawanan rakyat yang kian menguat. Langkah ini dilakukan setelah pasukan rakyat berhasil melawan dan menewaskan beberapa anggota HTS sehari sebelumnya.
Meskipun terdapat upaya sensor yang ketat, bukti-bukti kekejaman kelompok teroris ini tetap muncul di media sosial. Gambar-gambar dan video menunjukkan eksekusi lapangan, penindasan brutal, serta tindakan teror yang dilakukan oleh HTS di berbagai wilayah Suriah.
Nasib Tak Jelas 900 Tahanan di Homs
Selain itu, di kota Homs, rezim al-Jolani melakukan penangkapan besar-besaran terhadap lebih dari 900 orang dengan dalih operasi keamanan untuk menargetkan individu yang terkait dengan rezim Suriah sebelumnya. Banyak dari mereka yang ditahan sebelumnya telah menyerahkan dokumen dan senjata mereka kepada otoritas lokal yang dikelola oleh HTS. Namun, mereka tetap menjadi korban penangkapan massal.
