Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Tentara Israel Bersiap Mundur Bertahap dari Jalur Gaza

Para Serdadu Israel Rahasiakan Identitas Asli Mereka Hindari Tangan-tangan Hukum Internasional

POROS PERLAWANAN – Sumber militer Israel mengungkapkan bahwa tentara rezim ini tengah mempersiapkan rencana penarikan bertahap dari Jalur Gaza. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya kemungkinan tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

Menurut laporan jaringan televisi Israel Kan, pada Selasa malam (14/01), persiapan tersebut mencakup penarikan dari sejumlah jalur strategis seperti Netzarim di utara Gaza dan Philadelphi di selatan Gaza. Sumber militer tersebut menambahkan bahwa infrastruktur seperti menara komunikasi di Netzarim akan mulai dibongkar, dengan proses evakuasi wilayah ini diperkirakan memakan waktu hingga satu minggu.

Sumber yang sama menyebutkan tentara Israel siap meninggalkan Rafah segera setelah perjanjian gencatan senjata ditandatangani.

Konteks Penarikan dan Respons Internal

Langkah penarikan ini terjadi di tengah tekanan domestik dan kritik dari berbagai pihak di Israel. Banyak pihak mengakui bahwa Hamas masih mempertahankan sejumlah batalion aktif dan memiliki kapasitas untuk merekrut anggota baru. Situasi ini dinilai sebagai kegagalan strategi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang sebelumnya berkeras bahwa pembebasan tawanan Israel hanya dapat dicapai melalui operasi militer.

Kegagalan tersebut menuai kritik tajam dari keluarga para tawanan Israel yang ditahan Hamas. Dalam sebuah pernyataan, menyampaikan kekecewaan terhadap Netanyahu karena menunda perjanjian serupa pada Mei tahun lalu.

Sementara itu, jaringan CBS melaporkan, Israel dan Hamas telah mencapai kesepakatan awal mengenai gencatan senjata dan pertukaran tawanan. Kesepakatan ini diperkirakan akan diratifikasi dalam beberapa hari mendatang.

Kontroversi di Internal Pemerintahan

Namun, kesepakatan ini menuai perlawanan keras dari kubu oposisi dan sejumlah menteri di kabinet Netanyahu. Mereka menggambarkan gencatan senjata sebagai bentuk “penyerahan diri” kepada Hamas.

Jaringan Channel 12 Israel melaporkan, beberapa menteri kabinet marah karena tidak dilibatkan dalam pembahasan perjanjian ini. Bahkan, mereka menuding media mengetahui lebih banyak informasi dibandingkan mereka.

Dua tokoh yang paling vokal menentang gencatan senjata adalah Menteri Keamanan Dalam Negeri Itamar Ben Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich. Ben Gvir secara terbuka menyebut gencatan senjata ini sebagai langkah “kapitulasi” dan mendesak Smotrich untuk mundur bersamanya dari kabinet Netanyahu.

Seruan tersebut memicu kemarahan Netanyahu dan sekutunya. Menurut laporan surat kabar Yedioth Ahronoth, seruan Ben Gvir ini dianggap sebagai bentuk pengkhianatan politik di tengah situasi yang sudah sensitif.

Kekecewaan Keluarga Tawanan

Di sisi lain, keluarga tawanan Israel yang ditahan Hamas juga menyampaikan rasa frustrasi mereka. Dalam sebuah pernyataan, mereka mengecam rencana kesepakatan yang hanya mencakup pembebasan sebagian tawanan.

“Kami merasa tawanan lainnya telah ditinggalkan. Perjanjian ini tampaknya tidak mencakup semua anak-anak kami,” tulis mereka dalam pernyataan tersebut.

Kesepakatan gencatan senjata ini menjadi ujian besar bagi Netanyahu yang kini menghadapi tekanan dari berbagai arah—baik dari pihak internal maupun eksternal.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *